Home / Keluarga / Agar si Kecil Siap Sekolah

Agar si Kecil Siap Sekolah

USIA 5 tahun merupakan masa pembentukan disiplin yang sangat bagus. Ini pula masa di mana Moms menyiapkannya untuk sekolah.

Sejak dini, saran Fitriani F. Syahrul, M. Si. Psi., bentuk anak menjadi mandiri tidak hanya di dalam rumah saja tapi juga ketika di luar rumah tanpa ditemani dan dibantu. Beri kesempatan keluar untuk bertemu dengan orang lain terdekat di luar keluarganya.

“Kenalkan mengenai sekolah yang akan ia masuki. Misalnya TK itu seperti apa, teman-temannya bagaimana, apa saja yang dilakukan di sekolah nanti, gurunya siapa, dan sebagainya,” kata Direktur Lentera Insan, Depok ini.

Kenalkan pada anak sesuatu yang mengasyikkan agar anak tertarik, jangan yang berat-berat. Sejak awal mulai kenalkan dengan situasi yang baru samapi anak merasa nyaman. Pasalnya jika anak belum kenal dengan lingkungan baru biasanya ia akan merasa cemas.

Pada usia 4 tahun, anak mulai merasa ingin tahu pelajaran calistung (baca-tulis-hitung). Dan pada usia 5 tahun, keinginan belajar itu makin meningkat. Mulai dari membaca, mengenal huruf, dan lain-lain. Anak 5 tahun boleh belajar, tapi suasananya jangan terlalu serius!

Ajak anak untuk banyak berdialog, dan yang paling penting: porsi bermain tetap ada. Penting diingat, setiap anak berbeda-beda kecepatan kesiapan sekolahnya. Semua bergantung pada faktor kesiapan emosional dan pola pengasuhan. Jadi, harus ada kerjasama antara orangtua dan guru di sekolah.

Tanamkan kedisiplinan

Tanamkan karakter disiplin dan 3 kata-kata utama sejak kecil yaitu maaf, tolong, terima kasih. “Kalau anak usia 0 – 7 tahun sudah tidak disiplin maka butuh waktu 7 tahun untuk mengenalkan disiplin, tapi itu pun hanya baru mengenalkan saja belum bisa mendisiplinkan,” urai Rustika Thamrin, S.Psi, Psikolog, CHt, CI, MTLT dari RS Brawijaya ini.

Jadi sebaiknya fase masa keemasan anak (golden age) mulai usia 0-5 tahun tidak disia-siakan. Hal senada disampaikan oleh Fitriani F. Syahrul, M. Si. Psi. Menurutnya, pada lima tahun pertama kehidupan terjadi perkembangan sangat pesat pada anak. Kuantitas otak bisa mencapai 80 persen sampai usia 8 tahun. Termasuk sel-sel syaraf dan kemampuan menyerap informasi, bahasa, hingga mulai belajar sosialisasi dan belajar mandiri. Di sinilah pentingnya orangtua bersikap kompeten dan kreatif, juga mau belajar ilmu perkembangan anak agar bisa menstimulasi anak dengan baik dan tepat.

Pentingnya stimulasi

Yup, stimulasi! Ini sangat penting dilakukan. Apa ya yangharus dilakukan saat menstimulasi anak usia 5 tahun? Kerap orangtua mematok target saat menstimulasi anaknya. Misal, usia 5 tahun harus sudah bisa membaca, berhitung, harus sudah bisa menyanyikan lirik lagu secara utuh, dan sebagainya.

Dikatakan Fitri, dalam merangsang tumbuh kembang anak, boleh saja orangtua membuat target. Tapi, harus dilihat kembali kondisi tiap anak seperti latar belakang, kecerdasan, pola pengasuhan, nutrisi, dan lingkungan – yang meliputi pengasuhan dan sekolah. Semua hal itu berpengaruh terhadap cepat atau lambatnya perkembangan tiap anak.

Moral value

Selain itu, selama ini orangtua menganggap stimulasi yang penting hanya kognitif saja, yang terkait pada daya konsentrasi dan menghitung saja. Padahal ada hal penting lain, yaitu stimulasi kata hati/nurani (conscience) seperti: membedakan mana yang baik dan buruk, pengendalian diri, moral spiritual, dan super ego.

Semua ini nantinya berguna sebagai filter bagi anak supaya bisa mengendalikan dirinya. Contoh, saat anak meminjam barang, ia harus minta ijin kepada pemiliknya.
Ya, sejak usia 5 tahun, nilai moral pada anak sudah mulai dibentuk. Agar dia berkembang ke arah yang positif, munculkan rasa empati dalam hati anak, ajarkan sopan santun, berikan pemahaman soal hal-hal yang bisa menyakiti dan mana yang tidak. Ya, anak sebaiknya diajarkan untuk bisa mengendalikan agresivitas fisik dan verbal, demi pembentukan karakter yang ideal.

Stimulasi motorik

Stimulasi bentuk lain, dikatakan Rustika, adalah menyediakan fasilitas alat-alat menggunting, menggambar, pledoi, dan ledo (bongkar pasang). Ketika anak mulai senang memakaikan baju Barbie, biarkan saja. Karena memakaikan baju dapat melatih motorik halus, sehingga nantinya motorik kasarnya akan terlatih juga.

Ia akan bisa memegang pulpen atau pensil dengan baik. Kemudian membuka tutup botol, memindahkan isi gelas ke gelas lainnya, main pasar-pasaran, permainan kartu, mengklasifikasi, mengenal huruf, bermain peran, puzzle, main masak-masakan, bola basket, main bola, main piano.

Sediakan ruang bermain

Disarankan juga untuk menyediakan satu ruang bermain khusus supaya anak bebas mengeksplorasi dan mencoba segala hal. Ruang bermain sebaiknya kids friendly, contoh: karpet dan dindingnya terbuat dari busa untuk menghindari benturan, dan berikan tempat untuk coret-coret atau memanjat.

Sediakan mainan-mainan yang bisa dinaiki seperti kendaraan mobil-mobilan, sepeda, papan titian, ayunan, atau jungkat jungkit. Ajaklah anak ke playground atau taman bermain.

Perlu diingat, semua tahap perkembangan harus melalui proses. Jika kehilangan kesempatan atau satu bagian motorik yang terlewat, maka harus diulang. Contoh, anak yang digendong terus-terusan, tidak mempunyai kesempatan untuk belajar jalan.

“Jadi tidak hanya psikologis saja, otot-otot syaraf juga perlu dilatih. Oleh sebab itu, setiap tahap perkembangan perlu dipelajari, dijalankan, dan orangtua harus rajin melatih atau menstimulasi anak sehingga ketika anak berbuat suatu hal tidak langsung dicap nakal,” sarannya.

Selain stimulasi, perhatikan juga gizi seimbang karena akan memengaruhi kecerdasan dan emosional anak. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)

About Moch Wahib Dariyadi

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Check Also

Cara Agar Cepat Hamil

7 Langkah Agar Cepat Hamil – Anda tidak akan dapat hamil bila tidak memproduksi sel ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *