Wednesday, 24 July 2024
above article banner area

SHALAT SUNNAH DHUHA

Nama : Putra Abdullah Ilhamsyah

 

NIM : 210254528462

 

SHALAT SUNNAH DHUHA

 

  1. Pengertian Shalat Dhuha

 

Shalat sunnah atau yang disebut juga dengan Shalat tatawwu’ adalah shalat- shalat di luar kelima shalat fardhu yang dianjurkan untuk dikerjakan. Selain itu Shalat tatawwu’ adalah shalat yang dituntut, bukan wajib, untuk dilakukan oleh seorang mukallaf sebagai tambahan dari shalat wajib. Shalat ini dituntu, baik yang mengiringi shalat fardhu (rawatib), seperti Shalat nafilah qabliyah dan nafilah ba’diyah, maupun yang tidak mengiringi shalat fardhu seperti shalat tahajjud, dhuha, dan tarawih.

 

Shalat dhuha pada dasarnya terdiri dari dua kata yaitu, shalat dan dhuha, ke dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda sehingga diperlukan pemikiran khusus dalam memberikan sebuah definisi atau arti di antara ke duanya.

 

Shalat dala pengertian Bahasa Arab ialah do’a memohon kebajikan dan pujian, sedangkan secara terminology syara’ adalah beberapa ucapan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir disudahi dengan salam yang dengannya kita beribadat kepada Allah, menurut syarat-syarat yang telah ditentukan. Arti lain dari shalat sendiri yaitu, shalat adalah ibadah kepada Allah berupa ucapan maupun perbuatan yang

dikenal dan kgusus, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan slam.

 

Ia disebut dengan shalat karena ia menghubungkan seorang hamba kepada penciptanya dan shalat merupakan manfestasi penghambaan dan kebutuhuan diri kepada Allah. Dari sini maka, shalat dapat menjadi menjadi media permohonan pertolongan dalam menyingkirkan segala bentuk kesulitan yang ditemui manusia perjalanan hidupnya. Di sampuing itu pula ia disebut shalat karena shalat meliputi do’a.

 

Sedangkan arti dhuha adalah waktu antara mulai naiknya matahari hingga sebelum matahari terbenam. Menurut KBBI yang dimaksud dengan dhuha adlah waktu menjelang tengah hari. Dalam arti sederhana dhuha berarti waktu matahari sepenggal naik. Dari beberapa definisi tentang arti shalat dhuha di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan dalam merumuskan definisi atau pengeritan shalat dhuha itu sendiri.

 

Adapun yang dimaksud shalat dhuha adalah shalat sunnah yang waktu pelaksanaanya ketika naiknya matahari yaitu selesai dilarangnya shalat kira kira setinggi satu tombak hingga sebelum matahari tergelincir. Ada pula yang berpendapat bahwa shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada pagi pahi. Dengan kata lain, sholat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu matahari sedang merangkak naik dan berakhir tergelincirnya matahari di waktu dhuhur.

 

  1. Hukum Shalat Dhuha

Shalat dhuha hukumnya sunnah muakkad. Sebab, Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan berpesan kepada para sahabatnya untuk mengerjakan shalat dhuha sekaligus menjadikannya sebagai wasiat.

 

Akan tetapi ada beberapa para ulama berbeda pendapat berkenaan hukum shalat dhuha. Ibnul Qoyyim telah mengumpulkan pendapat mereka yang mencapai enam pendapat, yaitu:

  1. 1. Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat dhuha hukumnya sunnah.

Mereka berdalil dengan hadits yang akan penulis sebutkan pada pembahasan dalil disyari’atkannya shalat dhuha.

  1. 2. Tidak disyari’atkan shalat dhuha kecuali ada sebab. Mereka beralasan bahwa Rasulullah tidak mengerjakan shalat dhuha kecuali karena suatu sebab. Sedangkan shalat beliau sebabnya kebetulan sering terjadi pada waktu dhuha. Adapun sebab shalat dhuha beliau bermacam-macam. Hadits Umu Hani’ tetang shalat Rasulullah pada hari Fathul Mekah menunjukkan shalat beliau adalah karena keberhasilan menaklukkan Mekah.
  2. 3. Pada dasarnya shalat dhuha tidak disunnahkan.
  3. 4. Kadang dianjurkan untuk dikerjakan dan kadang disunnahkan untuk ditinggalkan
  4. 5. Shalat dhuha disunnahkan namun hendaknya dikerjakan di rumah.
  5. 6. Shalat dhuha bid’ah hukumnya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu

Umar. Demikian pula pendapat Al-hadi, Al-Qasim, dan Abu Thalib

 

Namun, pendapat yang rajih adalah pendapat yang mengatakan bahwa shalat dhuha sunah (mustahab) hukumnya. Demikianlah pendapat sekelompok ulama; di antara mereka adalah ulama dari kalangan Syafi‟iyyah, Hanafiyah, dan ulama dari ahlul bait, seperti Ali bin Husain dan Idris bin Abdullah.

 

  1. Dalil Shalat Dhuha
  2. a. Al-Qur‟an surat Al-Isra‟ ayat 78 dan surat An-Nur ayat 36:36

ادوهشم ناك رجفلا نارق نا رجفلا نارقو ليلا قسغ ىلا سمشلا كولدل ةولصلا مقا

Artinya: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Qs. Al-Isra (17)’: 78).

لاصلْاو ودغلاب اهيف هل حبسي همسا اهيف ركذيو عفرت نا اللّ نذا تويب يف

Artinya: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. (Qs. An-Nuur (24)’: 36).

  1. b. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.

دقرأ نأ لبق رتوأ نأو ،ىحضلا يتعكرو ،رهش لك نم مايأ ةثلاث مايص: ثلاثب ملسو هيلع الل ىلص يليلخ يناصوأ Artinya :“Kekasihku (Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) mewasiatkan aku utiga perkara: puasa tiga hari di setiap bulan, dua raka’at shalat dhuha dan shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari no. 1178, Muslim no. 721).

  1. يبن اي كلذ قيطي نمو: اولاق ،ةقدصب هنم لصفم لك نع قدصتي نأ هيلعف ؛لاصفم نوتسو ةئم ثلاث ناسنلإا يف كئزجت ىحضلا اتعكرف دجت مل نإف ،قيرطلا نع هيحنت ءيشلاو ،اهنفدت دجسملا يف ةعاخنلا: لاق ؟ الل

Artinya :“Manusia memiliki 360 sendi, diwajibkan untuk bersedekah sedekah untuk setiap sendinya”. Para sahabat bertanya, ”Siapa yang mampu melakukan demikian, wahai Nabi Allah?”. Nabi bersabda, ”Cukup dengan menutup dahak yang ada di lantai masjid dengan tanah dan menghilangkan gangguan dari jalanan. Apabila engkau tidak mendapatinya, maka lakukanlah dua raka’at shalat

 

Dhuha yang itu bisa mencukupimu” (HR. Abu Daud no.5242, dishahihkan Al

Albani dalam Irwaul Ghalil [2/213]).

 

Dalil dan hadits-hadits shahih di atas merupakan alasan yang cukup kuat terhadap kesunnahan pelaksanaan shalat dhuha yang sangat dianjurkan. Meskipun Rasulullah mewasiatkan sesuatu kepada salah satu sahabat, akan tetapi wasiat itu juga ditujukan kepada seluruh umatnya, tidak terbatas kepada seorang saja.

 

  1. Waktu Shalat Dhuha

 

Waktu shalat dhuha adalah ketika mulai naik, yaitu setelah selesai dilarangnya shalat, hingga sebelum tergelincirnya matahari. Kira-kira ketika matahari pagi mulai naik setinggi ± 7 hasta atau kira- kira dari pukul 07.00 sampai masuk waktu shalat dhuhur (12.00).43 Adapun waktu yang paling utama adalah hendaklah shalat dhuha diakhirkan hingga matahari mualai panas menyengat.

 

  1. E. Jumlah Rakaat

Tidak ada perbedaan dikalangan ulama bahwa jumlah minimal rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat, bahkan tidak ada batasan yang pasti mengenai jumlahnya. Dan sekurang-kurangnya shalat dhuha ini dua rakaat, boleh empat rakaat, 8 rakaat, dan

12 rakaat.48 Namun, terkadang Rasulullah mengerjakan dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat, bahkan lebih. Setiap dua rakaat ditutup dengan salam, sebagaimana disebutkan oleh hadits berikut:

 

Bahwasanya Rasulullah pada yaumul fathi (penaklukan Kota Mekah) shalat sunnah dhuha delapan rakaat dan mengucapkan salam pada setiap dua rakaat.” (HR. Ahmad).

 

Sedangkan berkenaan dengan jumlah maksimal rakaat shalat dhuha, mereka berbeda pendapat. Setidaknya ada tiga pendapat:

  1. 1. Jumlah masksimal shalat dhuha adalah delapan rakaat. Ini merupakan pendapat Madzhab maliki, Syafi‟i dan Hambali. Pendapat ini berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Hani. “Diriwayatkan dari Ummu Hani’ binti Abu Thalib, Bahwasanya Rasulullah pada yaumul fathi (penaklukan Kota Mekah) shalat sunnah dhuha delapan rakaat dan mengucapkan salam pada setiap dua rakaat.” (HR. Abu Dawud).
  2. 2. Jumlah masksimal shalat dhuha adalah dua belas rakaat. Ini merupakan pendapat Madzhab Hanafi. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa melaksanakan shalat dhuha dua belas rakaat, niscaya Allah akan membuatkan baginya sebuah istana dari emas di surga.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).
  3. 3. Tidak ada batasan jumlah maksimal rakaat shalat dhuha. Ini adalah pendapat

Abu Ja’far Ath-Thabari, Hulaimi dan Ruyani dari Madzhab Syafi’i.

  1. F. Keutaman Shalat Dhuha

Shalat dhuha merupakan shalat yang banyak mengandung fadhilah atau keutamaan. Namun, shalat ini tidak banyak mendapat perhatian dari kita sebagai seorang mukmin. Karena ia dikerjakan pada waktu yang di dalamnya banyak kesibukan.

Orang banyak yang bekerja mencari rezeki, para pelajar sibuk mencari menuntut ilmu bahkan setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Dengan demikian shalat

 

dhuha tidak begitu mendapat perhatian yang serius dan sering terlupakan. Padahal, banyak sekali dalil yang menyebutkan keutamaan shalat dhuha. Berikut ini akan penulis sebutkan beberapa keutamaan shalat dhuha disertai dengan dalilnya, yaitu:

  1. 1. Bagi orang yang melaksanakan shalat sunnah dhuha akan diberikan oleh

Allah SWT pintu surga yang bernama Adh-Dhuha. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di surga ada pintu bernama Adh-Dhuha, maka pada hari kiamat akan ada seruan, manakah orang yang selalu mengerjakan shalat dhuha, inilah pintu kalian, maka masuklah lewat pintu itu dengan rahmat Allah.” (HR. Thabrani).

  1. 2. Meraih Ampunan Allah. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa memelihara

dengan betul akan shalat dhuha, niscaya diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih lautan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

  1. 3. Memperlancar Rezeki.

Rasulullah saw bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman, wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat di waktu permulaan siang (shalat dhuha), pasti Aku cukupi kebutuhan pada sore harinya.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi).

  1. 4. Shalat dhuha akan mendatangkan banyak rezeki kepada orang yang

senantiasa melaksanakannya. Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu mendatangkan rezeki dan menolak kekafiran, dan tidak ada yang akan memelihara shalat dhuha, melainkan orang-orang yang bertaubat.”

  1. 5. Shalat dhuha sebagai pengganti sedekah bagi seluruh tubuh manusia.

Dijelaskan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Dzar r.a bahwa rasulullah saw pernah bersabda: “Setiap pagi terdapat sedekah bagi setiap persendian kalian, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan laa ilaha illaallah) adalah sedekah, setiapa takbir adalah sedekah, menyuru kepada kebaikan adalah sedekah, dan mencegah dari kemungkaran adalah sedekah, semua itu bisa dicukupi dengan dua rakaat dhuha.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad).

  1. 6. Mendapatkan Pahala Haji dan Umrah. Rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa shalat subuh secara berjamaah kemudian berdiam diri ditempat duduknya hingga ia mengerjakan shalat dhuha maka baginya pahala haji dan umrah yang sempurna.” (HR. Thabrani).

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *