Thursday, 13 June 2024
above article banner area

Gambaran Kehidupan dalam Pandangan Islam

Gambaran Kehidupan dalam Pandangan Islam

 

Andra Akmal Maulidani

(210523617206)

 

Di era kemajuan IPTEK pada jaman ini, perihal tentang hakikat manusia dan kehidupan semakin sering menjadi pokok pembahasan. Jika diperhatikan dengan seksama, masalah ini memanglah cukup penting, karena persoalan ini memberikan titik tolak terhadap pembatasan tentang fungsi manusia dalam kehidupan (Luthfi 2003). Seperti yang telah diketahui dunia ini penuh dengan kekayaan materi yag tak terhingga, dan manusia dengan kemampuan akalnya mampu mengubah kekayaan materi yang bersimpah luas ini menjadi beragam teknologi dan peralatan modern demi membantu kehidupan mereka di dunia. Keberhasilan manusia dalam bidang teknologi ini membuka peta baru dalam kehidupan yang disebut sebagai peradaban materi.

 

Dan sebagaimana mahluk hidup lainnya yang menempati dunia ini, manusia juga memiliki bermacam-macam kewajiban yang harus mereka penuhi agar mampu bertahan hidup. Kewajiban itu antara lain adalah; membutuhkan makan, minum, sandang, dan papan. Untuk memenuhi kebiutuhan itu, maka diwajibkanlah manusia untuk mencari nafkah, entah untuk dirinya sendiri maupun orang lan yang berada dalam asuhannya. Berhubungan dengan asuhan, manusia juga memliki kewajiban lain yang menjadi dasar utama mahluk hidup, yaitu untuk beranak pinak dan memiliki keturunan demi kerlanjutan mahluknya. Anak-anak yang dilahirkan ini nantinya yang akan menjadi penerus dari keberlangsungan siklus manusia. Pernyataan diatas secara garis besar merupakan gambaran dasar kehidupan manusia di dunia ini, memang seiring berubahnya waktu berubah pula pola kehidupan masyarakat tetapi secara gamblang pola kehidupan tidak akan jauh dari itu. Namun, hal itu menimbulkan pertanyaan; apakah benar kehidupan manusia hanya sebatas itu saja? Bagaimana gambaran kehidupan yang terlukis dalam al-quran?

 

Secara etimologis kata hayah atau “kehidupan” memiliki du aarti berbeda. Arti pertama seperti yang telah disebutkan tadi yaitu sebagai “kehidupan” yang merupakan lawan dari kematian, seperti dalam ungkapan hayat al-insan (kehidupan manusia) dan hayal al- nabat (kehidupan nabati). Arti lain yang dimiliki adalah “rasa malu” yang diungkapkan dengan bentuk haya. Menurut Shihabuddin dalam bukunya, “Ensiklopedia Al-Quran” menyatakan kedua arti itu tidaklah memiliki perbedaan dikarenakan setiap merasa malu pasti ia hidup. Menurut penafsiran lain dari Al-Ragibal-Asfahni kata hayah digunakan dalam Al- Quran sebagai penggambaran berbagai macam hal seperti potensi berkembang yang ada pada nabati dan hewani (al-Anbiya/ 21:30), sebagai potensi berpikir (al-An’am 6:122), ibarat hilangnya kegelapan dan timbulnya terang (al-Baqarah/2:154), sebagai sifat Allah Maha hidup dan tidak akan mati serta pemberi kehidupan (al-Baqarah/2:255).

 

Sedangkan dari sudut pandang lain dapat dimaknai bahwa kata hayah bermaksud sebagai hidup di dunia dan hidup di akhirat. Yang mana menunjukkan bahwa adanya kehidupan setelah kehidupan di dunia dimana kita diminta untuk mempertanggungjawabkan perihal kita di dunia, sebagai mana yang bisa dimaknai dalam surat Yunus/10:64 dimana kesemua ayat yang menyebut kata hayah dimaknai dengan arti “hidup”. Oleh sebagian ulama kata al-hayah memiliki artian yang berbeda lagi. Menurut mereka kata al-hayah dimaknai sebagai sesuatu yang menjadikan wujud merasa, atau tahu dan bergerak. Hal ini dibahas oleh Quraish Shihab bahwa Mutawalli al-Sya’rawi memiliki pemahaman kata “hidup” pada Al- Quran sebagai tanda suatu hal telah berfungsi sebagaimana fungsi yang ditentukan baginya. Sebagai contoh tanah berfungsi untuk menumbuhkan tumbuhan, jika gersang al-Quran menyebtunya sebagai mati, dan jika subur al-Quran menyebutnya dengan hidup.

 

Seperti yang telah disebutkan terhadap siklus kehidupan manusia tadi. Kehidupan manusia diakhiri dengan mewariskannya dunia yang mereka tinggali kepada anak cucu maupun keturunannya, sebagaimana kita diwarisi kehidupan oleh para pendahulu dengan siklus yang berhubungan terus menerus antar generasi hingga ke generasi pertama manusia yaitu Nabi Adam A.S. Namun pertanyaan lain bisa timbul dari pernyataan tadi, apakah kehidupan manusia hanya berputar terhadap interaksi mereka dengan anak keturunannya saja? Ataukah perlu adanya interaksi dengan mahluk lain pula? Jawaban dari pertanyaan in tentulah sudah jelas mengingat manusia berhakikat sebagai mahluk sosial yang memerlukan bantuan dari mahluk lain untuk bertahan hidup di dunia ini. Ketika Nabi Adam A.S., turun di dunia dan mulai hidup berketurunan, dari alam Nabi Adam belajar untuk mengusahakan hidupnya. Dari pohon-pohon beliau belajar menfaatkan kayu untuk membuat rumah dan peralatan. Dari binatang beliau belajar bagaimana menfaatkan kulitnya untuk pakaian. Dari air ia belajar bagaimana memanfaatkannya untuk pertanian dan kebutuhan lainnya.

 

Dalam islam hubungan manusia dengan sumberdaya alam di dunia ini memliki 3 macam peran yang berbeda-beda. Hubungan pertama adalah hubungan al-intifa’u bih, yaitu manusia diperintahkan untuk mengambil manfaat dari sumber daya dan kekuatan yang ada di ala mini. Hubungan keda adalah hubungan i’tibari yang bermakna manusia haruslah mengambil pelajaran dari alam. Pelajaran yang dimaksudkan pada konteks ini adalah hikmah dalam arti seperti tidak mendekati sesuatu karena membahayakan, atau dengan temuan- temuan alam yang nantinya dapat menjadi teori mapun pengetahuan secara umum. Hubungan ketiga adalah hubungan al-ihtifaz atau hubungan pelestarian. Manusia berutang banyak terhadap pada alam disekitarnya atas segala manfaat yang telah mereka peroleh, karena itu balas budi dengan melestarikan alam sekitar agardapat terus dimanfaatkan sangatlah perlu dilakukan. Ketiga hubungan tadi dalam al-Quran disebut dengan tas’khir pendudukan, artinya Allah member konsesi kepada manusia bahwa semua kekuatan dan keayaan alam

disekitarnya untuk kepentingan manusia. Sehingga segala kekuatan yang ada di dunia ini dikendalikan oleh manusia karena Allah telah memberi konsesi kepada manusia,sesuai dengan kalimat dalam al-Quran selalu berbunyi, sakhakhara lakum, “Tuhan mendudukan kekuatan ala mini untuk kepentingan mu, bukan bencana bagimu.”

 

Selain manusia, mahluk-mahluk lain yang ada di dunia ini juga memiliki fungsi dan peran tersendiri menurut al-Quran. Sebagai contoh Allah menyediakan bumi ini untuk ditanami beragam tanaman, lalu dari berbagai jenis tumbuhan dairi jenis pangan diperolehlah gandum, jagung, kedelai, dan lain-lain yang dapat dikonsumsi untuk mendapat tenaga untuk bekerja dan beribadah. Selain itu tanaman dari jenis lain seperti kapas dan kapuk ditanam,

dan diperolehlah benang-benang untuk membuat pakaian sebagai penutup aurat. Selain tanaman hal yang sama berlaku juga untuk hewan-hewan. Diciptakan-Nya beragam jenis hewan yang dapat digunakan kulit, daging, tenaga, dan lain-lain (Aristya 2018)

 

Sebagaimana yang terfirman dalam surah al-Jasiyah/45:13 yang artinya “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”

 

Ayat ini mengingatkan umat manusia bahwa Allah menjadikan segala hal yang ada di dunia sebagai amanat yang harus dijaga. Dalam sudah dijelaskan pula konsep-konsep tentang hak-hak binatang, seperti bagaimana seharusnya manusia memperlakukan binatang yang teleah membantu manusia dalam kehidupan.(Al-Qur’an 2012).

 

Di lain ayat seperti pada suarah Taha/20:53 yang memiliki arti “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.”

 

Serta dalam surah al-Nahl/16:5 yang memiliki arti “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.”

 

Dari ayat-ayat diatas dapat dimaknai bahwa islam memandang semua ciptaan, baik tumbuhan maupun hewan melalui dua prespektif. Prespektif pertama adalah sebagai ciptaan yang mempunyai hak untuk hidup untuk mengagungkan Allah dan sebagaia bukti kebijaksanaan dan kekuasan-Nya. Prespektif kedua adalah islam memandang mahluk hidup berdasarkan fungsinya dalam pemenuhan kebutuhan mahluk hidup lainya, terutama manusia, dan perannya sebagai pemakmur dunia dan penjaga kelestarian bumi. Dunia ini diciptakan Allah diperuntukkan manusia dengan tujuan khusus sebagai sarana maupun alat penunjang dalam menjalankan ibadah secara keseluruhan. Ibadah yang dikontekskan dalam hal ini adalah segala sesuatu yang diridhoi Allah baik ucapan atau perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin. Dengan penafsiran seperti itu maka segala sesuatu yang meliputi aspek kehidupan seperti shalat, zakat, puasa, berucap yang benar, menunaikan amanat, berbakti

kepada orang tua, berbuat baik kepada sesame, dan lain lain; merupakan segala bentuk ibadah apabila diniatkan sedemikian rupa.

 

Selain hubungan manusia dengan mahluk yang tampak seperti hewan dan tumbuhan, manusia juga memiliki hubungan dengan mahluk yang ghaib juga seperti jin dan malaikat. Hubungan manusia dengan malaikat setelah penciptaan dibagi menjadi dua fase, yaitu hubungan umum dan khusus. Hubungan umum antara malaikat dan manusia, baik yang mukmin maupun kafir, diwujudkan dalam pencatatan manusia terhadap segala perbuatan manusia serta pengaturan tatanan kehidupan dan kematian mereka. Pengaturan kehidupan dan kematian dalam konteks ini dimaksudkan dengan turunnya hujan, tiupan angin, dan dicabutnya ruh manusia. Hubungan kedua yaitu hubungan khusus anatara malaikat dan manusia difirmankan Allah dalam surah Fussilat/41:30-31 yang artinya

 

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Jangan merasa takut dan jangan merasa sedih. Bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.” Kamilah pelindung- pelindung kalian dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kalian minta.

 

Malaikat-malaikat akan senantiasa datang kepada orang-orang mukmin yang selalu menjalankan petunjuk, melaksanakan amal saleh, dan ketakwaan. Para malaikat dating kepada orang-orang mukmin itu Ketika mereka dilanda rasa takut terhadap masa depan dan untuk menghapus kesedihan di masa lalu. Perhatian para malaikat ini akan berlanjut dari dunia sampai akhirat hingga mereka meraih surga yang abadi (AL MUSAYYAR, 2009).

 

Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat dimaknai suatu kesimpulan bahwasannya definisi kehidupan dalam pandangan islam mapun Al-Quran jauh lebih bermakna daripada definisi kehidupan yang disebutkan diawal tadi. Kata hayah yang sering digunakan untuk menggambarkan kehidupan bai secara etimologi, secara pandangan Al-quran, dan secara pendapat para ulama bermakna berbeda-beda. Ada yang bermakna sebagai lawan dari kematian, sebagai pertanda masih adanya kehidupan lain setelah kematian, serta sebagai pertanda berfungsinya sesuatu sebagaimana fungsinya dalam kedudukannya sebagai penunjang hidup mahluk lain. Kemudian dalam konteks berfungsi sebagai penunjang hidup mahluk lain, memberikan gambaran bahwasannya adanya suatu hubungan atara manusia dengan mahluk lain baik yang tampak maupun yang ghaib. Hubungan itu memiliki bentuk yang berbeda-beda tiap mahluknya, namun memiliki dasaran hubungan yang sama. Yaitu berdasarkan atas kebutuhan mereka antara satu sama lain selama hidup di dunia ini sampai memperoleh kehidupan abadi di surge kelak.

 

 

 

Al-Qur’an, Lajnah Pentashihan Mushaf. 2012. awan dan angin dalam perspektif Al-Qur’an

dan sains Hewan Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Sains.

 

Aristya, : Muhammad Ilham Dwi. 2018. “GAMBARAN KEHIDUPAN DUNIA DALAM

AL-QUR’AN: SEBUAH KAJIAN TEMATIK.”

 

Luthfi, M. 2003. “Membumikan Al-Qur’an: Peluang Dan Tantangan.” Al-Qalam 20(98,99):

21–40.

 

Sahabuddin; Sahabuddin; Shihab, M. Quraish (Muhammad Quraish), 1944 (2007). Ensiklopedia Al-Qur’an.

 

Muhammad Sayyid al-Muyassar, Buku Pintar Alam Gaib (Jakarta: Zaman, 2009), h. 111-

113.

below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *