Thursday, 13 June 2024
above article banner area

Hukum Jual Beli dalam Islam

 

Hukum Jual Beli dalam Islam

 

 

 

 

Izzan Riady

NIM: 210254528461

 

 

Jual beli merupakan interaksi ekonomi  sejak zaman peradaban manusia mulai menggunakan system barter sampai menggunakan nilai mata uang. masyarakat terlibat dalam kegiatan perdagangan dan perdagangan suatu hal kegiatan rutinitas untuk memenuhi kebutuhan. Aturan untuk berdagang dibuat baik di lingkungan sosial maupun agama agar teratur dan tidak menimbulkan konflik, yaitu hukum jual beli dalam Islam.

 

 

Apa yang dimaksud jual beli?

Secara etimologis (bahasa) berarti jual beli yang mutlak bertukar (mutlaq almubadalah) atau  menukar sesuatu dengan sesuatu (muqabalah syai` bi syai`). Sebaliknya, jual beli menurut syarat-syarat yang ditentukan oleh hukum Islam, disertai dengan pengucapan Ijab dan Kabul, yang berarti pertukaran harta untuk tujuan konsumtif.

 

 

Dasar hukum jual beli

Dasar hukum jual beli, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 275:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang

yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil

riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba),

maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (Q.S.Al.Baqarah: 275)

 

Syarat dan Rukun jual beli

Sighat, yaitu ijab dan qabul, penjual biasanya mengatakan, “Saya menjual kepada Anda atau menyerahkannya kepada Anda.” Dan pembeli mengatakan, “Saya akan menerima atau membeli.” Itu tidak sah karena bisa terjadi di antara mereka berdua tidak ada ijab kabul. Ibnu Syurairah berkata: “Pengiriman barang-barang sepele (tidak bernilai) itu sah dan biasa dilakukan oleh manusia. Ini  pendapat Ar Ruyani.

 

 

Sighat, tentunya menjadi prasyarat sahnya proses jual beli berdasarkan Undang-Undang Hak Tanggungan Syariah. Dokumen Standar Produk Perbankan Syariah Murabahah yang dikeluarkan oleh Financial Services Organization, menyebutkan bahwa proses KPR Syariah melibatkan Sighatal’Aqad dalam bentuk ijab dan qabul. Ketentuan persetujuan dan persetujuan ini meliputi:

 

 

  • Jala’ul ma’na yaitu tujuan yang terkandung dalam pernyataan itu jelas, sehingga dapat dipahami jenis akad yang dikehendaki.
  • Tawafuq yaitu adanya kesesuaian antara ijab dan kabul.
  • Jazmul iradataini yaitu antara ijab dan kabul menunjukkan kehendak para pihak secara pasti, tidak ragu, dan tidak terpaksa.

 

 

Rukun jual beli berikutnya dalam Islam  adalah harus ada ma’qud’alaih, sebutan lain dari barang yang dibeli. Tidak hanya harus ada komoditas, Islam juga menetapkan bahwa komoditas yang diperdagangkan harus memiliki keunggulan. Tujuannya agar pembeli tidak merasa dirugikan. Pentingnya keunggulan ini tentu saja  relatif, karena pada dasarnya setiap barang memiliki keunggulan. Oleh karena itu, untuk mengukur standar utilitas harus menggunakan standar agama.

 

Hak Kewajiban penjual pembeli

Hal yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan transaksi tersebut. Sebagaiman firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah

tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya, dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar.” (QS. Al-Baqarah: 282)

 

 

Selain melakukan tranksaksi diperlukan untuk menghindari potensi perselisihan, penolakan, dan pemalsuan. Firman Allah:

“Dan periksakanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu), jika

tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorng lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya.” (QS. Al-Baqarah: 282).

 

 

Pada bagian ini, kita memahami bahwa

memiliki hak dan kewajiban antara penjual dan pembeli, dan bahwa hak dan kewajiban harus  dipenuhi oleh masing-masing pihak.

 

Macam jual beli barang

  1. 1. Jual beli yang sah

Jual beli ini merupakan transaksi yang sah karena memenuhi dasar dan syarat jual beli menurut hukum Islam.

 

 

  1. 2. Jual beli yang dilarang

Jual beli transaksi yang tidak memenuhi syarat dalam agama. Oleh karena itu, transaksi tersebut dianggap tidak sah. Macam-macam bentuk transaksi penjualan yang dilarang tersebut adalah Membeli dan menjual sistem yang kompleks:

Jual beli hutang adalah pembelian dan penjualan buah-buahan dan

produk tanaman aktual yang  belum terlihat panennya.

Misalnya jual beli beras, buah-buahan, dan bunga yang masih muda dan tidak selalu bisa dipanen.

Jual beli barang ilegal. Penjualan ini termasuk transaksi yang dilarang

oleh Islam, seperti darah, bangkai,  dan babi.

Jual beli hewan muda dalam kandungan induknya. Hal ini karena tidak diketahui apakah anak itu lahir hidup atau  mati

Jual beli barang tidak sepenuhnya dimiliki. Barang yang bukan satu-

satunya milik penjual tidak boleh diperdagangkan. Oleh karena itu, pastikan bahwa Anda memiliki barang yang dijual pada saat transaksi.

Jual beli yang tidak aman (gharar). Jual beli galeri didasarkan pada spekulasi. Dengan cara ini, agen hanya dapat menyimpulkan kemungkinan hasil transaksi. Misalnya, jual beli  sebelum buah dipajang.

 

 

  1. Jual beli yang halal tetapi dilarang agama

Dalam Islam, ada beberapa jual beli yang halal memenuhi rukun dan syarat, tetapi tidak diperbolehkan menurut hukum Syariah. Jenis jual beli ini terdiri dari:

Jual beli antara khutbah dan salat jumat. Larangan ini terutama berlaku

untuk pria Muslim yang perlu menghadiri Sholat Jumat daripada bertindak. Larangan ini mengacu pada Al-Qur’an Surah Arjumua ayat 9.

Jual dan beli, tetapi menghalangi penjual memasuki pasar. Dengan cara ini, penjual tidak mengetahui harga pasar dari barang yang dijualnya. Pembeli bisa mendapatkan harga murah dengan cara licik ini.

Jual beli barang dengan cara menimbun. Anda tidak diperbolehkan

membeli atau menjual untuk tujuan menyimpan barang dagangan, karena harga bisa tinggi karena kekurangan barang dagangan. Nabi Muhammad bersabda, “Tidak ada penimbunan kecuali orang-orang yang tidak taat” (HR, Muslim).

Mengurangi skala dan membeli atau menjual. Salah satu cara curang

saat bertransaksi adalah dengan mengurangi jumlah barang dagangan selama

 

transaksi. Penjualan ini memberi tekanan pada pembeli dan dilarang karena alasan penipuan.

Jual beli itu menipu. Ada unsur penipuan dalam penjualan ini. Misalnya,

mencampurkan produk berkualitas baik dan buruk di satu tempat sehingga pembeli bingung dengan pilihan produk yang akan dibeli.

Membeli dan menjual barang yang  dipesan oleh orang lain. Jika suatu barang memiliki status yang Anda setujui untuk dipesan atau ditawarkan oleh seseorang, Anda tidak akan dapat menyerahkan barang tersebut kepada pembeli lain hingga kontrak Anda sebelumnya berakhir. Nabi Muhammad bersabda, “Janganlah seorang pun menjual apa yang telah dibeli orang lain.” (HR.MuttafaqAlaih)

below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *