Home / Bahasa / Kalimat

Kalimat

Kalimat

A. Batasan Kalimat

Kalimat adalah satu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.

Tutur seseorang, atau lebih sempit lagi, kalimat yang diungkapkan oleh seseorang dengan sendirinya mencakup beberapa segi:

  1. Bentuk ekspresi
  2. Intonasi
  3. Makna atau arti
  4. Situasi

Bentuk ekspresi diwujudkan oleh kata atau rangkaian kata-kata yang diikat oleh tatasusun yang dimiliki oleh tiap-tiap bahasa. Kata-kata sudah mencakup bidang morfologi dan fonetik bahasa, sedangkan tatasusun mencakup bidang sintaksisnya.

Intonasi meliputi bidang suprasegmentalnya atau disebut juga ciri-ciri prosodi. Bila kita sudah berbicara tentang kalimat mau tidak mau kita harus berbicara tentang intonasi. Sedangkan situasi adalah suasana di mana tutur itu dapat timbul, atau stimulus yang menyebabkan terjadinya proses ujaran tadi.

Jalinan dari semua bidang itu, yaitu tatasusun kata-kata, intonasi dan situasi akan menentukan makna dari tutur itu. Situasi sebaliknya akan menyebabkan kita memilih kata-kata tertentu, memilih susunan kata tertentu, serta mempergunakan intonasi tertentu pula.

B. Kontur

Kontur adalah suatu bagian dari arus ujaran yang diapit oleh dua kesenyapan.

Perhatikan kata-kata berikut.

  1. Diam!
  2. Pergi!
  3. Ia mengambil buku itu.
  4. Dia ada di dalam.

Kalimat-kalimat di atas terdiri dari satu kontur, karena didahului oleh satu kesenyapan yang disebut kesenyapan awal dan kesenyapan akhir atau final. Kesenyapan awal adalah kesenyapan yang mendahului bagian suatu arus ujaran, sedangkan kesenyapan akhir atau kesenyapan final adalah kesenyapan yang mengakhiri suatu tutur.

Di samping itu dapat terjadi perhentian sementara di tengah-tengah suatu arus ujaran yang berlangsung dalam suatu waktu yang pendek; kesenyapan ini disebut kesenyapan antara atau kesenyapan non-final. Jadi dalam suatu tutur dapat timbul suatu kontur, tetapi dapat pula terjadi bahwa akan timbul lebih dari satu kesenyapan non-final pada arus ujaran tersebut yang mengakibatkan bahwa arus ujaran itu terbagi dalam dua kontur atau lebih. Misalnya:

  1. Hari ini / adalah hari Proklamasi.
  2. Ramailah mereka makan di bawah lumbung / tertawa-tawa / sambil mereka minum tuak.
  3. Lebih-lebih di waktu malam / pekerjaan membuka kantung / dan membagi-bagi surat tercatat ini / dikerjakan dalam suasana dikejar-kejar / karena surat itu harus dibuatkan surat panggilannya / yang telah ditunggu oleh bagian ekspedisi / untuk kemudian didistribusikan oleh para pengantar pos / petang itu juga.

Kalimat pertama memperlihatkan bahwa ada satu perhentian non-final, yang membagi kalimat itu atas dua kontur. Kalimat kedua menunjukkan bahwa ada dua kesenyapan non-final yang menyebabkan kalimat itu terbagi atas 3 kontur, sedangkan kalimat ketiga terdapat 7 kesenyapan non-final yang membagi kalimat itu atas 8 kontur.

Dengan demikian kita dapat membagi bermacam-macam kontur berdasarkan kesenyapan-kesenyapan yang mengapitnya:

  1. Kontur yang diapit oleh kesenyapan awal dan kesenyapan final.
  2. Kontur yang diapit oleh kesenyapan awal dan kesenyapan non-final.
  3. Kontur yang diapit oleh kesenyapan non-final dan kesenyapan non-final.
  4. Kontur yang diapit oleh kesenyapan non-final dan kesenyapan final.

About Moch Wahib Dariyadi

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Check Also

Ada Pelangi di bola matamu

Ada Pelangi di bola matamu terjemahan dalam bahasa arab 30  menit kita di siniثلاثون دقيقة  ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *