Thursday, 13 June 2024
above article banner area

Pengetahuan Faktual, Konseptual, Prosedural dan Metakognitif

Pengetahuan Faktual, Konseptual, Prosedural dan Metakognitif

a. Pengetahuan Faktual

Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik jika mereka akan dikenalkan dengan suatu disiplin ilmu atau untuk memecahkan masalah apapun di dalamnya yang berkaitan dengan pernyataan yang benar karena sesuai dengan kenyataan yang sebenernya (Anderson & Krathwohl, 2017:46). Pengetahuan faktual berkaitan dengan pernyataan yang benar karena sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.

Fakta  merupakan  informasi  yang  diperoleh  dari  bukti-bukti  pada data. Jika ilmuan biologi menguji kembali fakta tersebut maka hasil pengerjaan, pengukuran, dan pengamatan akan menunjukan hasil yang sama, meskipun diuji berulang kali, siapapun yang mengerjakannya. Pengetahuan  faktual  sebagian  besar  muncul  pada  level  abstraksi  yang relatif rendah. Dua jenis pengetahuan faktual adalah pengetahuan terminologi dan pengetahuan detail dan elemen yang spesifik.

Pengetahuan terminologi meliputi pengetahuan nama-nama dan simbol verbal dan non verbal tertentu seperti angka, kata, dan gambar yang merupakan   bahasa dasar dalam suatu disiplin ilmu. Pengetahuan detail dan  elemen  yang spesifik  mengacu  pada pengetahuan  peristiwa,  fakta, tempat, orang, tanggal, sumber informasi, dan semacamnya. Hal ini dapat melibatkan informasi yang sangat tepat dan spesifik, seperti tanggal yang tepat  dan  suatu  peristiwa atau besarnya fenomena dengan  tepat.  Fakta spesifik  merupakan  informasi  mendasar  yang  digunakan  dalam memikirkan masalah atau topik tertentu.

 

b. Pengetahuan Konseptual

Anderson & Krathwohl (2017:46) mengungkapkan bahwa pengetahuan konseptual merupakan pengetahuan mengenai skema, model, atau teori eksplisit dan implisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda.   Skema,   model,   dan   teori   menunjukan   pengetahuan   yang seseorang miliki mengenai bagaimana pokok bahasan tertentu diatur dan disusun, bagaimana bagian atau potongan informasi yang berbeda saling berhubungan dan berkaitan dalam suatu cara yang sistematis, bagaimana bagian-bagian ini berfungsi bersama-sama.

Pengetahuan konseptual memuat ide atau gagasan dalam suatu disiplin ilmu yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan suatu objek atau mengelompokan atau mengklasifikasikan berbagai objek. Pengetahuan konseptual berkaitan dengan klasifikasi, kategori, prinsip, generalisasi,  teori,  model  dan  struktur.  Penguasaan  pengetahuan konseptual ditandai dengan kemampuan mengklasifikasikan data, mengelompokan data  berdasarkan ciri-ciri kesamaannya, atau berdasarkan perbedaannya menunjukan kekuatan atau kelemahan suatu pernyataan, mengenai prinsip-prinsip, menyimpulkan, menguasai teori, menunjukan contoh, dan mengenali struktur.

Pengetahuan klasifikasi dan kategori meliputi kategori, kelas, pembagian,  dan  penyusunan  spesifik  yang  digunakan  dalam  pokok bahasan yang berbeda. Jenis pengetahuan ini lebih umum dan sering lebih abstrak daripada pengetahuan terminologi dan fakta-fakta tertentu. Pengetahuan prinsip dan generalisasi meliputi pengetahuan dari abstraksi- abstraksi tertentu yang merangkum pengamatan fenomena. Prinsip dan generalisasi cenderung lebih mendominasi suatu disiplin ilmu akademis dan digunakan untuk mempelajari fenomena atau memecahkan masalah dalam dalam disiplin ilmu (Suwarto, 2010:79). Pengetahuan prinsip atau generalisasi cenderung berupa gagasan-gagasan mendasar yang dapat menjadi   sulit   untuk   dipahami   karena   tidak   diperkenalkan   secara keseluruhan dengan fenomena yang dibahas.

Pengetahuan teori, model, dan struktur meliputi pengetahuan mengenai prinsip dan generalisasi bersama dengan hubungan diantara mereka yang menyajikan pandangan sistematis dan jelas mengenai suatu fenomena., masalah, atau pokok bahasan yang kompleks. Pengetahuan teori, model, atau struktur dalam biologi contohnya pengetahuan mengenai teori   evolusi   dan   bagaimana   untuk   berpikir   dalam   istilah-istilah evolusioner untuk menjelaskan fenomena-fenomena biologi yang berbeda adalah suatu aspek yang penting dari bagian jenis pengetahuan konseptual (Suwarto, 2010:80).

c. Pengetahuan Prosedural

Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan mengenai bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan prosedural sering mengambil bentuk dari suatu rangkaian langkah-langkah yang akan diikuti. Hal ini meliputi pengetahuan keahlian alogaritma, tekhnik, dan metode secara kolektif sebagai prosedur-prosedur (Suwarto, 2010:80). Pengetahuan prosedural juga meliputi pengetahuan mengenai kriteria yang digunakan untuk menentukan kapan menggunakan beragam prosedur.

Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan mengenai tindakan peserta didik dan peluang meramalkan, memperkirakan, atau hipotesis dan merancang cara untuk penyelidikan (Star & Stylianides, 2013:4). Prosedur dapat diartikan sebagai tahap demi tahap suatu proses untuk mencapai hasil yang diharapkan. Anderson & Krathwohl (2001:46) menjelaskan bahwa pengetahuan prosedural meliputi tiga sub jenis, yaitu :

1)   Pengetahuan Tentang Keterampilan dalam Bidang Tertentu

Pengetahuan prosedural dapat diungkapkan sebagai suatu rangkaian langkah-langkah, yang secara kolektif dikenal dengan prosedur. Kadangkala langkah-langkah tersebut diikuti perintah yang pasti, di waktu yang lain keputusan-keputusan harus dibuat mengenai langkah mana yang dilakukan selanjutnya.

2)   Pengetahuan Tekhnik dan Metode Spesifik

Pengetahuan tekhnik dan metode spesifik suatu subjek meliputi pengetahuan   yang   secara   luas   merupakan   hasil   dari   konsesus,

persetujuan, atau norma-norma disipliner daripada pengetahuan yang lebih langsung merupakan suatu hasil observasi, eksperimen, atau penemuan.  Bagian  jenis  pengetahuan  ini  secara  umum menggambarkan bagaimana para ahli dalam bidang disiplin ilmu berpikir dan menyelesaikan masalah-masalah daripada hasil-hasil dari pemikiran atau pemecahan masalah tersebut.

3)   Pengetahuan      Kriteria      untuk      Menentukan      Kapan

Menggunakan Prosedur-Prosedur yang Tepat

Sebelum terlibat dalam suatu penyelidikan, peserta didik diharapkan  dapat  mengetahui  metode-metode  dan  tekhnik-tekhnik yang telah digunakan dalam penyelidikan yang sama. Mereka diharapkan dapat menunjukan hubungan-hubungan antara metode- metode yang dilakukan oleh peserta didik lain.

d. Pengetahuan Metakognitif

1)   Pengertian Metakognitif

Pengetahuan metakognitif merupakan pengetahuan tentang kognisi secara umum dan kesadaran akan serta pengetahuan tentang kognisi  diri  sendiri  (Anderson  & Krathwohl,  2017:82).  Sedangkan menurut Winn, W. & Snyder, D., (1996:25) metakognitif adalah tentang refleksi diri sendiri, tanggungjawab dan inisiatif diri sendiri serta menetapkan target  dan pengelolaan waktu.  Flavel  (1979:907) memberikan   definisi   metakognitif   sebagai   kesadaran   seseorang tentang bagaimana dia belajar, kemampuan untuk menilai kesukaran suatu  masalah,  kemampuan  untuk  mengamati  tingkat  pemahaman dirinya,    kemampuan    menggunakan    berbagai    informasi    untuk mencapai tujuan, dan kemampuan menilai kemajuan belajar sendiri.

Berdasarkan teori tersebut dapat diartikan metakognitif merupakan kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan  apa yang tidak diketahui atau secara sederhana metakognitif mengukur kemampuan dengan menempatkan peserta didik dalam memahami tujuan, merencanakan, memahami penggunaan strategi yang dipakai, dan mampu merefleksikan kelemahan dan kelebihan hasil dari pencapaian tujuan yang di harapkan. Dalam konteks pembelajaran, peserta didik mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan dan modalitas belajar yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif. Pengetahuan metakognitif mengacu pada pengetahuan tentang kognisi seperti pengetahuan tentang keterampilan (skill) dan strategi kerja yang baik untuk pembelajar  dan  bagaimana serta kapan  menggunakan  keterampilan dan dtrategi tersbut. Pada kegiatan-kegiatan yang mengontrol pemikiran dan belajar seseorang seperti merencanakan, memonitor pemahaman, dan evaluasi.

2)   Komponen Metakognitif

Schraw & Denison (1994:490) pengetahuan metakognitif merupakan sebuah pengetahuan tentang memahami keterkaitan antara aspek karakteristik perseorangan, karakteristik tugas, dan penggunaan strategi dalam situasi pembelajaran. Peserta didik yang berhasil adalah peserta didik yang secara sadar dapat memonitor dan mengontrol belajar mereka. Pusat dari pengetahuan dan kontrol diri adalah komitmen, sikap, dan perhatian, sedangkan elemen dari pengetahuan dan kontrol proses adalah pengetahuan penting dalam metakognisi dan kontrol pelaksanaan dari perilaku.

Hal tersebut bisa menjadi salah satu asumsi prediktor pembelajaran yang optimal. Pada dunia penelitian pendidikan, tipikal hipotesis  ini  seperti  korelasi  positif  antara  proses  regulasi pembelajaran peserta didik terhadap tujuan pembelajaranya dan berdampak secara langsung pada tugas yang diberikan. Hal ini sejalan dengan penemuan penelitian lainnya yang menyatakan bahwa hubungan   penggunaan   metakognitif   berkorelasi   positif   terhadap tingkat kebenaran tugas akademik peserta didik (Nett, Goetz, Hall, & Frenzel, 2012:3). Selain itu, pernyataan yang sama juga diutarakan oleh Hyerle & Alper (2011:34) peran metakognitif dapat sebagai pembuktian apakah pembelajaran disekolah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika peserta didik menerapkan aplikasi teori maka secara tidak langsung peserta didik sudah dapat memilah bagian konsep mana yang dapat diterapkan dan bagian konsep mana yang tidak dapat diterapkan.

Teori-teori diatas meskipun secara penjelasan terlihat berbeda akan tetapi sebenarnya secara umum sama. Pada penelitian ini kemampuan    metakognitif    menggunakan    subjenis    pengetahuan strategis pada kategoris mengelaborasi dan mengorganisasi. Pengetahuan tugas-tugas kognitif yang digunakan serta pengetahuan diri mencakup pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa kesadaran metakognitif peserta didik lebih dari strategi dan kemampuan yang disadari oleh peserta didik itu sendiri. Seorang peserta didik  yang menggunakan kemampuan metakognitifnya secara luas, akan mempertimbangkan dirinya untuk lebih mengelaborasi proses pembelajaran yang diperoleh. Indikator metakognitif terdiri dari :

a) Declarative Knowladge

Pengetahuan tentang keterampilan kecerdasan dan kemampuan seseorang sebagai peserta didik, secara faktual diperlukan sebelum mampu berproses atau menggunakan pikiran kritis terkait dengan topik yang diperoleh melalui presentasi, demonstrasi, dan diskusi.

b) Procedural Knowladge

Pengetahuan tentang bagaimana mengimplementasikan prosedur-prosedur  belajar  yang  menuntut  peserta  didik mengetahui proses dan juga kapan menerapkan proses dalam berbagai situasi.

c) Planning

Mencakup  tujuan dan  pengalokasian sumber bahan terutama untuk belajar.

d) Information management strategies

Keterampilan  dan  strategi  yang  digunakan  untuk memproses informasi secara lebih efesien, menggabungkan, menyimpulkan, memfokuskan, atau menentukan prioritas.

e) Monitoring

Penilaian strategi belajar seseorang yang sedang digunakan. f)    Debugging Strategies

Strategi   atau   langkah   yang   dilakukan   untuk   mengoreksi kesalahan pemahaman atau perolehan.

g) Evaluation

Analisa   perolehan   dan   efektivitas   strategi   pada   akhir kegiatan belajar.

below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *