Thursday, 13 June 2024
above article banner area

Pernikahan Dini dan Upaya Perlindungan Anak di Indonesia

Pernikahan Dini dan Upaya Perlindungan Anak di Indonesia

Abdah Fikri Hamdani

210512520022

 

 

Pada tahun 2014, berbagai koalisi lembaga sosial dan masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak mengajukan permohonan ketentuan batas usia perkawinan dalam undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan terhadap UUD 1945. Menurut majelis hakim batas usia minimal perkawinan dapat diubah oleh lembaga legislatif sesuai dengan perkembangan zaman.Selain itu, tidak ada jaminan yang dapat memastikan bahwa dengan di tingkatkan batas usia kawin untuk wanita 16 tahun menjadi 18 tahun, untuk mengurangi perceraian, menanggulangi permasalahan kesehatan, maupun permasalahan sosial lainnya.

Berdasarkan data dan kajian yang pernah dilakukan,pernikahan dini masih menjadi permasalahan di Indonesia. Data menunjukkan 34,5% anak Indonesia menikah dini. Data ini di kuatkan dengan penelitian internasional yang menunjukkan 33,5% anak usia 13-18 tahun menikah pada usia 15-16 tahun. Pernikahan dini mengahmabat pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara biologis maupun psikologis. Pernikahan dini berdampak pada tercerabutnya hak anak-anak karena ia di paksa memasuki dunia dewasa secara instan. Perkawinan dini di Indonesia dilatarbelakangi oleh banyak faktor seperti, rendahnya ekonomi keluarga, rendahnya pendidikan, dan hamil diluar nikah.

Nilai budaya dan agama yang berkembang juga menjadi faktor pendorong terjadinya pernikahan diri.Misalnya, perempuan yang sudah menikah, meskipun masih anak-anak, lebih di hargai daripada perempuan yang belum menikah. Dampak negatif seperti perceraian status janda bukan menjadi persoalan. Pemahaman terhadap doktrin agama secara tekstual menjadi salah satu faktor pendorongterjadinya perkawinan dibawah umur.

 

 

Seringkali para orangtua khawatir terhadap anak-anak yang telah memasuki usia baligh. Jika tidak segera dinikahkan akan melakukan perbuatan yang dilarang agama. Bahwa batasusia perkawinan adalah 16 tahun umtuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa belum ada sinkronisasi tentang batas usia. Berdasarkan berbagai persoalan di atas, artikel ini bertujuan untuk melacak akar epistimologis perkawinan diniserta menguatkan argumentasi pentingnya pembaharuan hukum keluarga islam, khususnya terkait menaikkan batas minimal batas usia perkawinan.

Pernikahan merupakan salah satu sunnah dan syariat Nabi Muhammad Saw. Secara etimologis, kata nikah yang berasal dari bahasa arab yang berarti mengumpulkan, menggabungkan, menghimpun atau menambahkan. Kata nikah sama juga memiliki arti al-wath yang artinya berhubungan seksual. Sementara nikah secara terminologis menurut para ahli fikih adalah akad (kontrak) sebagai cara agar sah melakukan hubungan seksual. Hukum asal pernikahan adalah jawaz/mubah. Para ulama’ berpendapat bahwa nikah hukumnya sunnah. Sementara az-zahiri menyatakan wajib.

Nikah dianjurkan bagi mereka yang menginginkan, siap lahir batin, dan mampu melaksanakan hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Karena, pelaksanaan nikah tidak hanya sebatas pada hasrat atau keinginan seksual, melainkan harus memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai suami istri. Berkaitan dengan batas usia pernikahan, islam tidak memberikan batasan umur ideal dalam pernikahan. Seseorang wali dapat menikahkan anaknya sebelum atau setelah mencapai usia baligh. Kriteria baligh pun masih diperdebatkan dikalangan ulama

Pernikahan dini masih menjadi misteri persoalan dan menjadi perdebatan. Wilayah kajiannya pun mencakup berbagai aspek serta melibatkan banyak pihak,seperti lembaga-lembaga keagamaan, lembaga pemerintahan dan media massa. Berkaitan dengan isu ini, umat islam terpolarisasi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang memperbolehkan dan kelompok yang melarang adanya pernikahan ini.

dMenurut Arif ibn Ahmad adalah orang orang yang sudah baligh dan belum mencapai usia 30 tahun. Bagi mereka yang sudah berkeinginan kuat untuk menikah, tetapu belum memliki modal dan penghasilan. Kelompok yang menolak pernikahan dini lebih memprioritaskan upaya perlindungan terhadap anak anak perempuan dari eksploitasi seksual dan bahaya lain yang mengancam mereka.

 

 

 

Imam Syafi’I pernah mengatakan bahwa sebaiknya ayah tidak mengawinkan anak perempuan sampai ia baligh dan bisa menyampaikan izinnya  karena perkawinan akan membawa berbagai hak dan kewajiban. Sehingga hukumnya makruh seseorang yang belum mampu memnuhi kewajiban dalam keluarga, seperti memberikan mahar dan nafkah kemudian menikah. Dengan catatan ia masih bisa menahan diri dari perbuatan zina. Mazhab Imam Maliki bahkan mengharamkan seorang laki-laki menikah dalam kondisi tersebut. Begitu juga dengan mazhab Imam Hanafi, perkawinan yang akan membawa kemudharatan seperti menyakiti dan mendzalimi orang lain.

Menurut Husein Muhammad, salah satu faktor yang menjadi perhatian fuqaha menilai hukum perkawinan adalah ada atau tidaknya unsur kemaslahatan atau kekhawatiran terjadinya hubungan seksual di luar nikah. Karena perkawinan pada dasarnya dalam rangka menjaga kemaslahatan jiwa dan fungsi reproduksi. Ditinjau dari aspek psikologis, usia terbaik untuk menikah  adalah antara 19 sampai dengan 25 tahun.

Ciri-ciri psikologis yang paling mendasar adalah mengenai pola perasaan, pola piker, dan pola perilaku. Tampak diantaranya  stabilitas timbul dan meningkat, citra diri dan sikap pandangan lebih realitis, menghadapi masalah lebih matang, dan perasaan menjadi lebih tenang Maqashid al-syariah atau tujuan-tujuan syari’atmerupakan suatu metode ijtihad yang berupaya menyingkap tujuan universal di setiap ketetapan syariat untuk memenuhi aspek kemaslahatan bagi manusia serta salah satu pendekatan penting dalam menimbang ketentuan suatu hokum syariah. Dalam kasus pernikahan diri terdapat benturan antara hifdz al-nafs, hifdz al-aql dan hifdz al-nasl. Dimana di usia anak masih beresiko untuk melakukan hubungan seksual apalagi kesiapan organ reproduksinya. Selain itu usia anak lebih tepat dipergunakan untuk masa pengembangan akal dan pendidikan daripada untuk reproduksi dengan menikah dan memiliki keturunan. Sehinga mendahulukan keselamatan jiwa anak dari resiko yang ditimbulkan akibat pernikahan dan pengembangan fungsi akal lebih didahulukan.

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan kajian di atas dapat dimbil kesimpulan bahwa secara epistimologis, perkawinan dini merupakan hasil tafsir ulama’ terhadap Q.S. Ath-Thalaq[65]: 4 yang mengisyaratkan iddah bagi mereka yang belum haid. Islam tidak memberikan batasan umur ideal dalam pernikahan. Perkawinan dapat dilakukan oleh calon mempelai yang belum atau sudah baligh jika telah memnuhi syarat dan rukun pernikahan. Meski demikian, para ulama’ berbeda pendapat tentang batasan usia baligh bagi laki-laki dan perempuan dan kebolehan menikahkan seseorang pada usia anak-anak. Model perkawinan ini tidak dapat lagi di praktek kan karena tidak sejalan dengan maqashid al-nikah yaitu membangun keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.

below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *