Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan pembimbingan. Dan dikatakan sebagai lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak berada dalam lingkungan keluarga. Sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dari keluarga terutama pendidikan agama.
Samsul Nizar mengatakan: ”Bahwa keluarga (lingkungan rumah tangga), pada umumnya merupakan lembaga pertama dan utama dikenal anak. Hal ini disebabkan, karena kedua orang tuanyalah orang yang pertama dikenal dan diterimanya pendidikan, bimbingan, perhatian dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan relegius pada diri anak didik”[1].
Zakiah Darajat mengatakan:” Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan ini terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak didik”[2].
Tidak diragukan, keluarga memiliki dampak yang besar dalam pembentukan prilaku individu serta pembangunan vitalitas dan ketenangan dalam benak anak-anak. Melalui keluarga, anak-anak mendapatkan bahasa, nilai-nilai serta kecenderungan mereka. Keluarga menyumbang secara langsung pada pembangunan peradaban umat manusia dan hubungan asosiatif diantara orang-orang. Ia membawa anak-anak untuk belajar prinsip-prinsip sosiologi serta kaidah etika dan moralitas.
Dalam keluarga anak mendapatkan rangsangan, hambatan atau pengaruh yang pertama dalam pertumbuhan dan perkembangannya, baik itu perkembangan biologis maupun perkembangan kepribadiannya. Dalam keluarga pula anak mengenal dan mempelajari norma-norma dan aturan-aturan permainan dalam hidup bermasyarakat.
Agama seorang anak pada umumnya akan ditentukan oleh pendidikan, latihan dan pengalaman yang diperoleh pada masa kecilnya. Oleh karena itu seorang anak yang pada masa kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada masa dewasanya nanti tidak akan merasakan pentingnya arti agama dalam hidupnya.
Lembaga pendidikan keluarga memberikan pengalaman pertama merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak. Para ahli ilmu jiwa sangat menekankan pentingnya penghidupan keluarga, sebab pengalaman masa anak-anak yang menyakitkan meskipun sudah jauh terpendam dimasa silam, tetap dapat mengganggu keseimbangan jiwa didalam perkembangan individu selanjutnya.
Melalui kehidupan keluarga, aspek emosional, moral, sosial anak dan kebutuhan akan rasa kasih sayang dapat dipenuhi atau berkembang dengan baik, hal ini disebabkan karena adanya hubungan darah antara pendidik dan anak didik.
Keluarga tidak hanya sebagai persekutuan hidup antara orang tua dan anak, tetapi juga tempat anak memperoleh pendidikan terutama pendidikan agama. Karena kunci pendidikan dalam keluarga sebenarnya terletak pada pendidikan agama, sebagi pembentuk pandangan hidup seseorang. Jadi pendidikan agama sangat penting ditanamkan kepada anak-anak sejak dini dalam keluarga sehingga menjadi anak yang berprilaku shaleh.
Dari uraian di atas, telah disimpulkan bahwa keluarga adalah suatu kelompok kecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah (suami), ibu (istri) dan anak, meskipun kadang-kadang dalam keluarga itu juga terdapat kakek, nenek, paman, bibi dan sebagainya serta terdiri dari unsur-unsur antara lain yaitu lahir dari hasil perkawinan atau adopsi. Setiap anggota memiliki hak dan kewajiban secara timbal balik dan memiliki fungsi utama terutama pada anak-anak.