Dari segi perhitungannya, Selamat Sinurya memberikan pengertian sebagai berikut :
“Selisih antara harga penjualan dengan jumlah biaya atau harga jual pokok, seandainya harga penjualan lebih besar dari jumlah biaya, maka selisihnya merupakan laba dan sebaliknya seandainya jumlah penjualan lebih kecil dari biaya maka selisihnya merupakan kerugian”. (1990, hlm. 1)
Jenis-jenis laba menurut pengukuran tingkat laba untuk suatu pusat laba tertentu ada lima jenis, yaitu :
- Margin kontribusi
Laba kontribusi dihitung dengan cara mengurangkan biaya variabel dari pendapatan yang diperoleh suatu divisi. Konsep ini bermanfaat untuk perencanaan dan pembuatan keputusan laba suatu divisi dalam jangka pendek.
Contoh tabel menurut Supriyono, BPEP Yogyakarta, Akuntansi Manajemen 2 Struktur Pengendalian Manajemen dibawah ini :
|
Tabel 1 PT. BAWONOLapora Perbandingan laba kontribusi divisi Tahun 2001 (Dalam Jutaan Rp) |
|||
|
Keterangan |
Divisi A |
Divisi B |
Total Perusahaan |
|
Pendapaan Biaya Variabel Divisi : Terkendalikan Tak terkendalikan
|
40.000
16.000 4.000
|
60.000
30.000 6.000 |
100.000
46.000 10.000 |
|
Jumlah Biaya Variabel |
20.000 |
36.000 |
56.000 |
|
Laba Kontribusi Biaya Tetap : Terkendalikan Tak Terkendalikan
|
20.000
|
24.000 |
44.000
5.000 10.000 |
|
Jumlah Biaya Tetap |
|
|
15.000 |
|
Laba sebelum diperhitungkan biaya KTR Pusat Biaya Kantor Pusat Laba bersih sebelum pajak PPh 25%
|
|
|
29.000 9.000 20.000 5.000 |
|
Laba bersih sesudah PPh |
|
|
15.000 |
Sumber : Supriyono, (2001, hlm. 84).
- Laba terkendali divisi
Laba dihitung dengan cara mengurangi pendapatan dengan biaya-biaya yang dapat dikendalikan oleh manajer divisi yang meliputi biaya variabel yang terkendali dan biaya tetap terkendali, yang telah diuraikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 2PT. BAWONO Lapora Perbandingan laba Terkendalikan divisi Tahun 2001 (Dalam Jutaan Rp) |
|||
|
Keterangan |
Divisi A |
Divisi B |
Total Perusahaan |
|
Pendapaan Biaya Terkendali Divisi : – Variabel – Tetap
|
40.000
16.000 2.000
|
60.000
30.000 2.000 |
100.000
46.000 5.000 |
|
Jumlah Biaya Terkendali |
18.000 |
33.000 |
51.000 |
|
Laba Terkendali Divisi Biaya Tak Terkendali Divisi : – Variabel – Tetap
|
22.000
|
27.000 |
49.000
10.000 10.000 |
|
Jumlah biaya tak terkendali |
|
|
20.000 |
|
Laba sebelum diperhitungkan biaya Kantor Pusat Biaya Kantor Pusat Laba bersih sebelum pajak PPh 25%
|
|
|
29.000 9.000 20.000 5.000 |
|
Laba bersih sesudah PPh |
|
|
15.000 |
Sumber : Supriyono, (2001, hlm. 84).
- Laba langsung
Laba dapat dihitung dengan mengurangi pendapatan divisi dengan semua biaya yang langsung terjadi dalam divisi yang bersangkutan. Profitabilitas ini cocok digunakan untuk menilai profitabilitas jangka panjang seperti contoh pada tabel dibawah ini.
Tabel 3PT. BAWONO Lapora Perbandingan laba Langsung divisi Tahun 2001 (Dalam Jutaan Rp) |
|||
|
Keterangan |
Divisi A |
Divisi B |
Total Perusahaan |
|
Pendapaan Biaya Langsung divisi : – Variabel terkendalikan – Variabel tak terkendalikan – Tetap terkendalikan – Tetap tak terkendalikan
|
40.000
16.000 4.000 2.000 3.000
|
60.000
30.000 6.000 3.000 7.000 |
100.000
46.000 10.000 5.000 10.000 |
|
Jumlah biaya langsung |
25.000 |
46.000 |
71.000 |
|
Laba langsung divisi |
15.000 |
14.000 |
29.000 |
|
Biaya kantor pusat Laba bersih sebelum pajak PPh 25 %
|
|
|
9.000 20.000 5.000 |
|
Laba bersih sesudah PPh |
|
|
15.000 |
Sumber : Supriyono, (2001, hal, 85).
- Laba bersih sebelum pajak
Dengan menghitung pendapatan divisi dengan biaya langsung divisi dan biaya kantor pusat. Laba ini mencerminkan prestasi ekonomi divisi, karena divisi menikmati fasilitas kantor pusat, maka divisi mengalokasi biaya kantor pusat. Seperti contoh pada tabel dibawah ini :
Tabel 4PT. BAWONO Lapora Bersih Divisi Sebelum PPh Tahun 2001 (Dalam Jutaan Rp) |
|||
|
Keterangan |
Divisi A |
Divisi B |
Total Perusahaan |
|
Pendapaan Biaya Divisi : – Variabel terkendalikan – Variabel tak terkendalikan – Tetap terkendalikan – Tetap tak terkendalikan – Alokasi biaya Kantor Pusat
|
40.000
16.000 4.000 2.000 3.000 4.500
|
60.000
30.000 6.000 3.000 7.000 4.500 |
100.000
46.000 10.000 5.000 10.000 9.000 |
|
Jumlah biaya divisi |
29.500 |
50.500 |
80.000 |
|
Laba Bersih divisi sebelum PPh |
10.000 |
9.500 |
20.000 |
|
PPh 25 %
|
|
|
5.000 |
|
Laba bersih sesudah PPh |
|
|
15.000 |
Sumber : Supriyono, (2001, hal, 86)
- Laba bersih sesudah pajak
Besar laba dihitung melalui pengurangan laba bersih sebelum pajak dengan pajak penghasilan divisi. Sebagai satu kesatuan ekonomi yang berdiri sendiri, laba divisi perlu memperhitungkan pajak penghasilannya. Lihat pada contoh tabel dibawah ini :
Tabel 5PT. BAWONO Lapora Bersih Divisi Sebelum PPh Tahun 2001 (Dalam Jutaan Rp) |
|||
|
Keterangan |
Divisi A |
Divisi B |
Total Perusahaan |
|
Pendapaan Biaya Divisi : – Variabel terkendalikan – Variabel tak terkendalikan – Tetap terkendalikan – Tetap tak terkendalikan – Alokasi biaya Kantor Pusat
|
40.000
16.000 4.000 2.000 3.000 4.500
|
60.000
30.000 6.000 3.000 7.000 4.500 |
100.000
46.000 10.000 5.000 10.000 9.000 |
|
Jumlah biaya divisi |
29.500 |
50.500 |
80.000 |
|
Laba Bersih divisi sebelum PPh |
10.500 |
9.500 |
20.000 |
|
PPh 25 %
|
2.625 |
2.375 |
5.000 |
|
Laba bersih sesudah PPh |
7.875 |
7.125 |
15.000 |
Sumber : Supriyono, (2001, hal, 87)
Arabiyatuna Arabiyatuna
