Menurut saya, ada satu pertanyaan mendasar yang harus direnungkan:
Mengapa umat Islam pernah melahirkan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, dan Ibnu Khaldun, tetapi banyak masyarakat Muslim saat ini masih menghadapi persoalan pendidikan, kemiskinan, konflik, dan ketergantungan teknologi?
Pertanyaan itu tidak berarti semua negara Muslim mengalami kemunduran. Kondisi dunia Islam sangat beragam. Namun, pertanyaan tersebut penting sebagai refleksi untuk membangun masa depan.
1. Mengembalikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi peradaban
Peradaban Islam pernah menjadi salah satu pusat perkembangan matematika, kedokteran, astronomi, filsafat, dan ilmu bahasa.
Hal itu dimungkinkan oleh budaya keilmuan yang membuka ruang bagi penelitian, penerjemahan, diskusi, dan pengembangan pengetahuan dari berbagai peradaban.
Kebangkitan umat Islam perlu dimulai dengan perubahan orientasi:
-
Dari sekadar menghafal pengetahuan menuju kemampuan menciptakan pengetahuan.
-
Dari kebiasaan menerima pendapat menuju keberanian bertanya secara kritis.
-
Dari kebanggaan terhadap ilmuwan masa lalu menuju lahirnya ilmuwan masa depan.
-
Dari sikap mencurigai teknologi menuju kemampuan menguasai dan mengembangkannya secara bertanggung jawab.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat tersebut menegaskan kedudukan ilmu dalam kehidupan beriman.
2. Memperbaiki pendidikan, bukan hanya memperbanyak lembaga pendidikan
Pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca kitab dan menghafal materi. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang mampu berpikir, meneliti, memecahkan persoalan, dan menciptakan inovasi.
Madrasah, pesantren, dan universitas Islam dapat menjadi pusat pengembangan ilmu agama sekaligus ilmu empiris, teknologi, dan kemanusiaan.
Kita membutuhkan generasi Muslim yang kuat dalam memahami Al-Qur’an, tetapi juga terampil dalam matematika, sains, kecerdasan buatan, ekonomi, dan teknologi.
3. Mengutamakan persatuan, dialog, dan penghargaan terhadap perbedaan
Salah satu persoalan yang perlu diatasi adalah konflik yang menguras energi sosial.
Perbedaan mazhab, organisasi, budaya, dan pandangan keagamaan tidak seharusnya selalu menjadi sumber permusuhan.
Pelajaran dari pengalaman Islamisasi Nusantara menunjukkan pentingnya dialog budaya dan pendekatan dakwah yang bijaksana.
Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi membangun kemampuan bekerja sama untuk tujuan yang lebih besar.
4. Membangun pemerintahan dan institusi yang berkeadilan
Peradaban tidak dapat berkembang hanya dengan semangat keagamaan tanpa tata kelola yang baik.
Umat Islam memerlukan institusi yang menjunjung keadilan, integritas, akuntabilitas, profesionalisme, serta perlindungan hak masyarakat.
Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan lemahnya penegakan hukum menghambat perkembangan pendidikan, ekonomi, dan penelitian.
5. Membangun kemandirian ekonomi dan teknologi
Kebangkitan juga memerlukan kemampuan menghasilkan produk, teknologi, dan nilai ekonomi.
Dana zakat, wakaf, dan filantropi dapat dikembangkan bukan hanya untuk bantuan konsumtif, melainkan juga untuk beasiswa, lembaga riset, pemberdayaan usaha, dan pembangunan fasilitas pendidikan.
Negara dan masyarakat Muslim perlu meningkatkan investasi penelitian, memperkuat industri, serta membangun kolaborasi akademik lintas negara.
6. Membangun budaya berpikir kritis dan terbuka
Pada masa kejayaan keilmuan Islam, para sarjana mempelajari berbagai tradisi pengetahuan, termasuk warisan Yunani, Persia, dan India. Mereka tidak hanya menerjemahkan, tetapi juga menguji, mengembangkan, dan menghasilkan teori baru.
Semangat tersebut perlu dihidupkan kembali. Umat Islam tidak perlu takut terhadap perbedaan pendapat ilmiah. Kritik berbasis bukti adalah bagian penting dari kemajuan pengetahuan.
Hal ini selaras dengan agenda pengembangan sains Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang menekankan pentingnya budaya berpikir, inovasi, dan ekosistem penelitian.
7. Mengubah gagasan kebangkitan menjadi gerakan nyata
| Bidang | Langkah konkret |
|---|---|
| Pendidikan | Memperkuat literasi, numerasi, sains, dan karakter |
| Perguruan tinggi | Meningkatkan riset berkualitas dan inovasi |
| Pesantren dan madrasah | Mengintegrasikan ilmu agama dengan keterampilan abad ke-21 |
| Ekonomi | Mengembangkan kewirausahaan dan kemandirian |
| Pemerintahan | Memperkuat keadilan dan pemberantasan korupsi |
| Kehidupan sosial | Memperluas toleransi, dialog, dan kolaborasi |
Refleksi: Islam tidak hanya membutuhkan pembela, tetapi juga pembangun peradaban
Umat Islam tidak akan bangkit hanya dengan memperbanyak perdebatan tentang siapa yang paling benar, sementara persoalan kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan teknologi belum teratasi.
Kebangkitan harus terlihat dalam kualitas sekolah, kemajuan universitas, kejujuran pemimpin, produktivitas ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Al-Qur’an mengingatkan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Kesimpulannya, kebangkitan umat Islam bukanlah upaya mengembalikan dunia ke abad pertengahan, melainkan menghidupkan kembali semangat keilmuan, keadilan, kreativitas, dan kemanusiaan yang pernah menjadi kekuatan peradaban Islam.
Ada satu gagasan filosofis yang layak direnungkan:
Umat Islam tidak cukup hanya menjadi pewaris kejayaan peradaban. Mereka harus menjadi pencipta peradaban baru. Sebab, kejayaan masa lalu adalah warisan sejarah, sedangkan kejayaan masa depan harus diperjuangkan melalui ilmu, kerja keras, akhlak, dan inovasi.
Pertanyaan yang lebih mendalam untuk diskusi akademik adalah: Mengapa sebagian masyarakat Muslim lebih sibuk memperdebatkan perbedaan keagamaan daripada membangun tradisi penelitian dan penemuan ilmiah? Pertanyaan ini patut diteliti secara kritis, tanpa menggeneralisasi seluruh umat Islam.