Serangan Mongol memang menyebabkan kemunduran besar dalam kekuasaan politik dan sejumlah pusat keilmuan Islam. Namun, apakah itu membuktikan bahwa Islam rapuh? Tidak sesederhana itu.
Justru peristiwa tersebut memperlihatkan perbedaan antara kerapuhan sebuah kekuasaan dan ketahanan suatu peradaban.
1. Tragedi Baghdad 1258: Ketika pusat peradaban Islam runtuh
Pada 1258 M, pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan menaklukkan Baghdad, ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah.
Dampaknya sangat besar:
-
Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad berakhir.
-
Banyak penduduk terbunuh dan infrastruktur kota hancur.
-
Kehidupan intelektual dan ekonomi Baghdad mengalami gangguan berat.
-
Pusat kekuasaan politik dunia Islam semakin bergeser ke wilayah lain, termasuk Mesir.
Namun, penelitian sejarah modern juga mengingatkan bahwa kehancuran Baghdad tidak boleh langsung disamakan dengan berakhirnya seluruh peradaban Islam.
2. Mengapa kekuasaan Islam saat itu bisa dikalahkan?
Ada sejumlah faktor yang saling berkaitan.
Pertama, fragmentasi politik. Dunia Islam saat itu tidak berada dalam satu kekuasaan yang sepenuhnya bersatu. Persaingan antardinasti dan konflik internal mempersulit pembentukan pertahanan bersama.
Kedua, kelemahan institusi. Baghdad sebelum invasi sudah mengalami berbagai persoalan, termasuk konflik kelompok, bencana, dan penurunan kedudukan politiknya.
Ketiga, kekuatan militer Mongol. Mongol memiliki mobilitas pasukan, organisasi perang, kemampuan pengepungan, serta strategi yang sangat efektif pada zamannya.
Artinya, kekalahan tersebut tidak cukup dijelaskan sebagai akibat melemahnya keimanan umat Islam. Ada faktor politik, ekonomi, teknologi militer, dan tata kelola pemerintahan.
3. Yang menarik: Mongol menaklukkan Baghdad, tetapi kemudian sebagian penguasanya memeluk Islam
Sejarah menunjukkan perkembangan yang menarik.
Pada 1260, Kesultanan Mamluk Mesir mengalahkan pasukan Mongol di Ain Jalut. Kemudian, pada 1295, Ghazan Khan dari Dinasti Ilkhan memeluk Islam dan memperkuat kedudukan Islam dalam pemerintahannya.
Ini menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak selalu berarti kemenangan budaya atau agama. Penaklukan politik justru dapat diikuti perubahan keagamaan pada masyarakat penakluk.
4. Jadi, apakah Islam mundur dan rapuh?
Kita perlu membedakan tiga hal.
| Dimensi | Penilaian historis |
|---|---|
| Kekuasaan politik Islam | Dapat runtuh dan mengalami kemunduran |
| Peradaban ilmu pengetahuan Islam | Mengalami gangguan besar di beberapa pusat, tetapi terus berkembang di wilayah lain |
| Islam sebagai agama | Tetap tersebar, dipelajari, dan dianut oleh berbagai masyarakat |
Dengan demikian, yang runtuh pada 1258 adalah pusat kekuasaan Abbasiyah di Baghdad, bukan Islam sebagai keseluruhan agama dan peradaban.
5. Pelajaran filosofis bagi kebangkitan umat Islam
Menurut saya, pertanyaan yang lebih mendalam bukan sekadar mengapa Baghdad bisa dihancurkan Mongol, melainkan:
Mengapa peradaban yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia tidak cukup kuat mempertahankan institusi dan kekuasaannya?
Ini membawa kita pada lima unsur penting bagi ketahanan peradaban: ilmu pengetahuan, institusi yang kuat, kepemimpinan yang bertanggung jawab, kemampuan beradaptasi, dan persatuan sosial.
Kita juga dapat menghubungkannya dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai ‘ashabiyyah, yakni solidaritas sosial yang berpengaruh terhadap bangkit dan runtuhnya suatu kekuasaan.
Kesimpulan
Islam sebagai agama tidak otomatis rapuh ketika negara-negara Muslim mengalami kekalahan. Namun, umat Islam dan institusi peradabannya tetap dapat menjadi rapuh ketika kehilangan kemampuan ilmiah, solidaritas sosial, dan ketahanan politik.
Sejarah Baghdad mengajarkan bahwa kejayaan masa lalu tidak menjamin keberlangsungan peradaban.
Dan di sinilah muncul pertanyaan yang lebih penting untuk direnungkan:
Apakah kemunduran umat Islam terutama disebabkan oleh serangan musuh dari luar, atau justru karena kelemahan internal yang membuat serangan tersebut begitu menghancurkan?
Pertanyaan ini sangat penting untuk memahami kebangkitan kembali ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.