Islam Dan Semangat Gerakan Ilmu

Islam dan ilmu pengetahuan sedemikian dekatnya, sehingga keduanya tidak mungkin dipisahkan. Islam tanpa ilmu pengetahuan tidak akan bisa dijalankan, sebaliknya ilmu tanpa Islam juga akan membawa petaka.

  Islam jika dikaji secara mendalam bukan sebatas agama, tetapi juga peradaban. Jika Islam sebatas agama maka hanya akan berisi  bagaimana melakukan ritual atau penyembahan terhadap Yang Maha Kuasa. Perbincangan Islam dengan demikian hanya terbatas pada persoalan shalat, puasa, haji, masjid, ritual kelahiran, pernikahan,  dan kematian.   Akan tetapi ternyata Islam tidak demikian. Pertama kali ayat yang diturunkan oleh Allah adalah perintah membaca. Selain itu, tugas Muhammad saw.,  sebagai seorang rasul adalah menyuruh  untuk melakukan tilawah, yang artinya juga membaca. Berangkat dari perintah itu, maka sebenarnya bisa ditangkap bahwa Islam adalah perintah untuk mengembangkan atau menggali ilmu pengetahuan.   Namun demikian dinyatakan pada bagian dari ayat tersebut, adalah bahwa kegiatan membaca hendaknya dengan menyebut asma Rabb atau Tuhan. Kegiatan membaca dalam Islam, bukan sebatas membaca biasa sebagaimana pada umumnya, melainkan membaca dengan maksud untuk mengenal Tuhan, dengan segala sifat-sifat-Nya, dan juga maksud dan tujuan dari penciptaan manusia di muka bumi ini.   Penyebutan Nama Tuhan dalam kegiatan membaca, agar dengan kegiatan itu berhasil mengantarkan pelakunya meraih kesadaran akan eksistensi dirinya, dan dilakukan secara obyektif, dan sungguh-sungguh. Selanjutnya, Ilmu pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan membaca itu, bukan sebatas untuk memenuhi kebutuhan praktis dan prakmatis, melainkan dimaksudkan untuk memahami dirinya sebagai makhluk, jagad raya, maupun Tuhannya.        Islam dalam membangun budaya ilmu, juga dapat dilihat dan dipahami dari keseluruhan isi kitab suci, yaitu  al Qurán. Qurán sendiri artinya adalah bacaan. Maka, Islam sejak awal hadir telah  mendekatkan  pengikutnya pada  persoalan membaca. Sedangkan kegiatan membaca adalah pintu mendapatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.   Oleh karena itu, budaya Islam adalah budaya ilmu pengetahuan. Selain itu, Islam juga sangat memuliakan akal. Bahkan agama dipandang sangat dekat dengan akal. Dikatakan bahwa, agama adalah akal. Tidak ada agama tanpa akal.  Posisi akal sedemikian strategis dalam Islam. Bahkan Islam hadir juga di antaranya adalah untuk menjaga akal.  Apa saja yang menjadikan rusaknya akal dianggap haram atau dilarang.   Kedekatan Islam dan ilmu pengetahuan juga ditunjukkan dalam berbagai  hadits nabi. Nabi memang dikenal sebagai seorang ummi, atau tidak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi ia selalu mendorong umatnya agar mengembangkan kemampuan tulis menulis. Ke-ummiyan nabi, adalah sebuah keputusan Tuhan, yang secara logika sederhana, hal itu terkait dengan tugas-tugas kenabiannya.   Islam memuliakan dan mendorong orang-orang untuk  mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu,  dengan Islam semestinya ilmu pengetahuan menjadi maju.  Dengan ber-Islam maka kegiatan riset, kajian-kajian ilmu, pusat-pusat pengembangan keilmuan dikembangkan di kalangan umat Islam. Identitas sebagai seorang muslim semestinya juga sebagai orang yang memiliki ketajaman mata dan telinga,  cerdas, dan sekaligus berhati lembut dan mulia.   Dengan demikian, maka  budaya Islam adalah budaya ilmu pengetahuan. Identitas sebagai kaum muslimin mestinya memiliki  kecintaan terhadap ilmu, pusat-pusat pengembangan ilmu, dan sekaligus juga mencintai orang-orang yang menyandang ilmu pengetahuan atau ulama’. Kaum muslimin seharusnya,  selalu berada di garda depan dalam mengembangkan ilmu.   Tradisi ilmu sesungguhnya sudah lama berkembang di kalangan kaum muslimin. Banyak lembaga pendidikan didirikan dan dibangun. Tempat ibadah, berupa masjid,  selalu dilengkapi dengan lembaga pendidikan. Namun sayangnya, bidang ilmu yang dikembangkan,  sebagian banyak baru sebatas ilmu-ilmu tertentu, yang disebut sebagai ilmu agama, atau Islamic studies.   Sedangkan Islamic studies,  selama ini, di kebanyakan  negeri Islam, umumnya baru dimaknai sebatas menyangkut ilmu yang terkait langsung dengan persoalan ritual. Akibatnya, kaum muslimin menjadi tertinggal dan terpinggirkan dan bahkan kalah dalam percaturan kehidupan yang semakin maju, baik secara ekonomi, politik, dan kebudayaan pada umumnya.   Atas dasar pandangan  itu, jika kaum muslimin ingin  tampil di depan di tengah-tengah dinamika peradaban dunia, maka tidak ada jalan lain, kecuali menyerukan agar segera mengobarkan semangat  kebangkitan ilmu di kalangan kaum muslimin, dan membangun pilar-pilar yang diperlukan untuk itu.  Kaum muslimin hendaknya disadarkan bahwa  keunggulan  hanya bisa diraih dengan ber-Islam dan sekaligus  kaya ilmu pengetahuan.  Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang