Suatu ketika beberapa mahasiswa datang ke rumah, bermaksud sillaturrahmi. Dalam pembicaraan santai itu, di antara mereka mengaku banyak hal yang tidak dilakukan dengan alasan keber-Islamannya itu. Dia merasakan bahwa dengan ber-Islam, segala sesuatu menjadi tidak sebebas yang lain. Itulah sebabnya, Islam tidak maju.
Dari pembicaraan itu, maka terjadi diskusi bersama. Saya akhirnya juga nimbrung, dengan mengatakan bahwa justru ber-Islam itu, maka seharusnya kita lebih maju. Orang Islam yang tidak maju, mungkin disebabkan oleh karena keliru dalam menangkap ajaran Islam itu sendiri. Saya mengumpamakan bahwa Islam itu bagaikan jalan yang lebar dan lurus. Pada setiap hari, kita diwajibkan untuk memohon kepada Allah agar dikaruniai jalan yang lurus dan lebar, ialah shirathal mustaqiem. Setidaknya 17 kali dalam sehari semalam, permohonan itu harus diucapkan lewat shalat lima waktu. Betapa pentingnya jalan lurus itu harus dilalui, agar tidak tersesat. Jalan lurus dan lebar itu bisa diumpamakan sebagai jalan tol. Siapapun yang lewat jalan tol, —–jalan lurus dan lebar, maka selain dapat melaju cepat juga selamat. Orang yang melalui jalan tol tidak akan terlambat bilamana dibandingkan, misalnya lewat jalan sempit dan apalagi banyak belokan. Orang yang memilih jalan lurus dan cepat akan lebih segera nyampai pada tujuan, apalagi bilamana dibanding dengan siapapun yang tidak melalui jalan itu. Islam adalah seperti itu, —–lurus, lebar, dan tepat bagaikan jalan tol. Lebih jelasnya, Islam mengajarkan agar umatnya kaya ilmu pengetahuan, menjadi manusia unggul, mampu menegakkan keadilan, menyandang spiritualitas yang tinggi, dan selalu bekerja secara shaleh atau professional. Penyandang sifat-sifat seperti itu, maka akan selalu menang dengan siapapun. Islam bukan jalan sempit, dan apalagi berbelok-belok. Siapapun yang masih merasa rendah diri, kecil, tertinggal, dan lemah di hadapan makhluk lainnya, maka sebenarnya belum komplit keber-Islamannya. Orang Islam hanya merasa rendah dan bahkan tidak memiliki arti apa-apa, tatkala di hadapan Tuhan. Berpikir dan berjiwa Islam sama halnya dengan selalu bangkit, bergerak, dan berjuang. Gerakan itu justru lebih dahsyat karena dimotivasi oleh kekuatan teologis yang kokoh, yaitu keimanan dan ketaqwaan. Selain itu, sebagai pertanda telah memiliki jiwa Islam manakala dalam hati dan pikirannya tertanam kuat selalu berpikir dan bekerja bukan saja untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Oleh karena itu, maka ber-Islam seharusnya sama artinya dengan selalu memposisikan diri pada barisan terdepan dalam sejarah peradaban umat manusia. Manakala selama ini, masih tertinggal dari ummat lainnya, maka sebenarnya ada sesuatu yang harus dikoreksi dan atau dilihat kembali. Sebab sebagai ummat Islam harus selalu berada di jalan lurus, lebar, dan tepat. Maka itulah sebabnya ummat Islam disebut sebagai khoiru ummah, karena telah memilih jalan yang tepat itu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
