Bersamaan dengan dilaksanakan upacara bendera pada tanggal 17 Agustus 2010 di UIN Maliki Malang diberikan penghargaan kepada para dosen dan karyawan yang berprestasi. Sebagaimana beberapa kali sebelumnya diumumkan bahwa, bagi para dosen dan karyawan yang berprestai akan diberikan penghargaan.
Untuk memenuhi janji tersebut, maka dibentuk tim penilai yang terdiri atas para pimpinan universitas dan fakultas. Untuk sementara, komponen yang dinilai, khusus bagi para dosen dititik-beratkan pada jumlah karya tulis yang bersangkutan. Ada beberapa jenis karya tulis mereka yang ditelusuri dari journal ilmiah, majalah, Koran dan juga di website, ficebook atau scrib. Untuk mendapatkan siapa yang paling banyak memiliki karya tulis tidak terlalu sulit. Sebab, sebatas mengetahui jumlah tulisan masing-masing dosen, pada saat sekarang ini cukup mudah dilakukan. Masintg-masing dosen sudah terbiasa memiliki website dan facebook. Oleh karena itu, penelusuran karya tulis tersebut bisa dilihat di media tersebut. Hal yang sangat menggembirakan, bahwa ternyata ada dosen UIN Maliki Malang yang setiap hari menulis, hingga tulisannya tidak kurang dari 500 buah, baik berupa artikel maupun berbentuk buku. Para dosen yang memiliki kebiasaan menulis, jumlahnya juga sudah cukup banyak. Itulah sebabnya pula, bahwa UIN Maliki Press setiap tahunnya, selama lima tahun terakhir, pada setiap tahunnya berhasil menerbitkan tidak kurang dari 70 buah buku. Jumlah itu sudah cukup banyak, karena dosen tetap UIN Maliki Malang sampai saat ini belum sampai genap 300 orang. Penilaian terhadap karya tulis tersebut, untuk sementara waktu, sengaja baru dari aspek kuantitas dan belum memperhatikan dari aspek kualitasnya. Kebijakan itu diambil, mengingat bahwa pada saat ini UIN Maliki Malang sebenarnya baru berada pada fase proses upaya membiasakan para dosen mau menulis. Sebab membiasakan seseorang untuk selalu membuat karya tulis ternyata juga tidak mudah. Dan anehnya, kesulitan itu menurut informasi yang saya dapatkan juga terjadi di mana-mana. Dulu saya termasuk orang yang tidak percaya, tatkala diberitahu bahwa tidak semua dosen rajin menulis. Sebab, selalu saya pahami bahwa, para dosen setiap hari, salah satu kegiatannya adalah menugasi mahasiswanya memnyusun makalah. Menurut pikiran saya, bagaimana mereka menugasi orang lain, sementara yang bersangkutan tidak melakukannya. Selain itu, dosen juga harus meneliti dan menulis laporan penelitian. Dosen seharusnya juga selalu menulis buku sebagai persyaratan kenaikan jabatan akademik. Tanpa karya itu, tidak akan mungkin mereka berhasil naik pangkat. Akan tetapi bayangan saya itu ternyata tidak benar. Bahkan, tidak sedikit dosen yang tidak pernah menulis, sehingga mereka tidak memiliki banyak karya tulis dan buku yang ditulisnya sendiri. Padahal sebenarnya, mereka itu jika disebut tidak bisa menulis, juga tidak benar. Sebab seorang dosen yang berlatar belakang pendidikan S2 dan apalagi S3, paling tidak pernah menulis thesis dan atau juga disertasi. Sehingga, tidak mungkin mereka itu tidak mampu menulis. Mungkin, mereka menjadi miskin tulisan itu, hanya karena tidak terbiasa menulis saja. Oleh karena itulah maka, pemberian penghargaan tersebut sebenarnya dimaksudkan agar para dosen terdorong untuk selalu menulis. Selanjutnya, apa yang dilakukan dosen juga dilakukan oleh para mahasiswa. Menurut hemat saya, menulis adalah bagian dari kegiatan berpikir. Orang menulis selalu menggunakan pikirannya. Sedangkan kampus atau perguruan tinggi pada hakekatnya adalah tempat orang-orang yang sehari-hari meneliti, berbagi-bagi pengetahuan, baik kepada sesama dosen dan juga kepada mahasiswanya. Oleh karena itu, umpama mereka tidak menulis, jangan-jangan suatu ketika dituduh, bahwa mereka tidak menunaikan tugas pokoknya, yaitu berpikir sebagai bagian penting dalam mengembangkan ilmunya. Agar penghargaan terhadap prestasi itu lebih bermanfaat dan digunakan untuk memperlancar tugas-tugas akademiknya sehari-hari, maka bagi dosen yang jumlah tulisannya terbanyak, akan diberi hadiah sebuah mobil roda empat, sedangkan terbanyak kedua, hadiah itu berupa sepeda motor, dan ketiga sepeda sehat. Pemberian penghargaan dimaksudkan agar memacu semua dosen UIN Maliki Malang, agar selalu meneliti dan menulis, agar kampus benar-benar menjadi tempat bagi orang-orang yang selalu berpikir dan berkarya di bidangnya masing-masing. Hanya dengan cara inilah, maka kampus akan benar-benar menjadi maju dan sebagai pilar peradaban unggul di masa depan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
