Pelaksanaan ujian nasional hingga pengawasan ujian harus melibatkan perguruan tinggi, sebenarnya membuktikan bahwa kepercayaan itu sedemikian mahal. Ujian tidak cukup hanya diawasi oleh gurunya sendiri, karena para peserta ujian belum cukup dipercaya tentang kejujurannya. Maka artinya, sekolah yang sudah sedemikian maju dan modern, belum dianggap berhasil membangun pribadi yang bisa dipercaya.
Kepercayaan adalah sedemikian penting untuk dimiliki. Orang yang tidak dipercaya, maka tidak akan ada harganya. Sepintar apapun seseorang,jika tidak dipercaya,maka akan dijauhi orang lain. Orang yang tidak dipercaya tidak akan diberi tugas, apalagi diangkat menjadi pimpinan. Orang yang tidak dipercaya, maka sekedar mencari pinjaman saja akan mengalami kesulitan. Umpama saja para siswa sekolah dianggap sudah bisa dipercaya, maka ujian tidak perlu diawasi. Guru-guru juga tidak akan direpotkan oleh ujian, para dosen juga tidak perlu diperbantukan untuk membantu pelaksanaan ujian nasional, dan yang juga penting, biaya ujian tidak akan terlalu mahal. Demikian pula, umpama Pak Menteri Pendidikan Nasional mempercayai sekolah masing-masing untuk melaksanakan ujian sendiri, maka persoalan ujian tidak akan menjadi isu nasional. Akhirnya kepercayaan itu menjadi benar-benar mahal. Terbatasnya orang-orang yang bisa dipercaya, tidak saja terjadi di lembaga pendidikan tetapi juga di tempat-tempat lain. Adanya polisi, jaksa, hakim dan termasuk perlunya dibangun penjara, sebenarnya menunjukkan bahwa bangsa ini masih gagal melahirkan orang-orang yang benar-benar bisa dipercaya. Bahkan berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, seperti terjadinya konflik, termasuk di kalangan elite politik adalah karena krisis kepercayaan. Namun demikian, selama ini belum banyak orang berpikir tentang bagaimana menjadikan seseorang bisa dipercaya. Orang baru mengeluh terhadap sulitnya mencari orang yang bisa dipercaya, tetapi belum menemukan cara membentuknya. Akhir-akhir ini, dalam rangka melatih kejujuran, di mana-mana dibuat kantin kejujuran di sekolah-sekolah, tetapi juga belum dirasakan kerhasilannya. Selain itu, agar orang tidak melakukan pelanggaran, atau agar selalu berbuat jujur, maka disediakan sarana yang menjadikan orang tidak menyimpang, misalnya dibuat peraturan, undang-undang, dirumuskan sanksi pelanggaran dan bahkan dibangun peradilan dan penjara. Akan tetapi ternyata masih banyak orang melanggar dan juga akhirnya penjara menjadi penuh. Hal aneh tetapi nyata, orang yang belum bisa dipercaya bukan saja sebatas murid, tetapi ternyata juga hampir di semua kalangan. Para koruptor yang adalah para pejabat di berbagai kementerian, mulai dari staf yang terendah hingga menteri, mulai dari pegawai kecil hingga direktur, dari lurah hingga gubernur, semua itu menunjukkan betapa menjadi orang dipercara sedemikian sulit. Muhammad saw., sebelum diangkat menjadi rasul sudah diberi gelar al amien, yang artinya adalah bisa dipercaya. Sifat bisa dipercaya, tampak dengan jelas adalah merupakan anugerah dari Tuhan. Selama ini banyak lembaga pendidikan yang sanggup mengantarkan seseorang menjadi cerdas, terampil dan professional, tetapi tidak ada yang berani mengeklaim, bahwasanya sanggup mengantarkan lulusannya menjadi bisa dipercaya. Sedemikian mahalnya orang yang bisa dipercaya, maka siapapun yang berhasil meraihnya akan mendapatkan kehormatan. Derajad itu sangat sulit diraih. Dalam Islam, orang dianjurkan selalu berdzikir atau mengingat Allah, tatkala melakukan apa saja harus mengawali dengan basmallah, berniat untuk beribadah kepada-Nya, dilakukan dengan ikhlas, sabar dan tawakkal, maka itu semua adalah cara agar apa yang dilakukan tidak menyimpang, dan akhirnya berbuah menjadi dipercaya. Namun sedikit saja orang yang bisa menjalaninya, hingga harganya menjadi mahal. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
