Thursday, 20 August 2026
above article banner area

Salah Paham

Dalam berinteraksi sehari-hari orang saling berbagi informasi, pendapat, ide, aspirasi dan lain-lain. Semua itu disampaikan dengan menggunakan bahasa, baik bahasa tulis maupun lisan. Pekerjaan itu dirasa mudah, karena sehari-hari dilakukan. Tanpa curiga, khawatir, menduga yang tidak-tidak, menganggapnya pesan-pesan yang disampaikan itu nyampai apa adanya. Tetapi pada kenyataannya tidak selalu begitu. Sebuah pesan kadang belum tentu berhasil diterima sebagaimana yang dikehendaki oleh yang menyampaikan pesan. Dalam keadaan seperti itu, orang menyebutnya dengan istilah salah paham. Hal seperti itu seringkali terjadi dalam hubungan sehari-hari. Oleh sebab itu, maka dalam menyampaikan pesan, harus hati-hati, lengkap, dan sejelas-jelasnya. Sebab, hanya karena pesan yang tidak jelas, menjadikan orang tersinggung, kemudian merasa jengkel, marah, dan sebagainya. Salah paham itu bisa saja terjadi dalam komunikasi di tingkat apapun. Komunikasi politik di antara para politikus, atau kaum elite sekalipun bisa terjadi salah paham. Sebaliknya, juga terjadi di kalangan masyarakat biasa, orang desa atau kampung. Sebagai pimpinan kampus, saya sering menemui kejadian itu. Para mahasiswa memprotes sesuatu keputusan. Ternyata setelah diberi penjelasan cukup, mereka mengerti dan menerima keputusan itu. Akhir-akhir ini kita mengikuti berbagai kasus di negeri ini yang cukup menggelisahkan. Sejak Presiden dilantik, ada saja hal-hal muncul ke permukaan yang dirasakan kurang menggembirakan. Mulai dari penunjukkan anggota kabinet, rencana menaikan gaji atau tunjangan pejabat tinggi, perseteruan antara KPK, Kejaksaan dan Polisi, dan akhir-akhir ini pengungkapan kasus Bank Century dan lain-lain. Keputusan-keputusan yang diambil oleh Presiden tentang hal itu semua, kita semua paham, tentu telah didasarkan oleh pertimbangan yang matang, luas, dan mendasar. Tetapi sementara masyarakat mungkin memahainya dari perspektif yang lain. Presiden, bisa jadi berpandangan bahwa bangsa ini harus aman dan stabil. Keamanan dan kestabilan itulah yang dianggap sebagai kekuatan atau dasar bagi bangsa ini agar bisa bekerja keras untuk memperoleh kemajuan. Pertimbangan itu berbeda dengan pandangan sementara masyarakat. Bangsa ini agar maju, maka harus diurus oleh para ahli, dan sekaligus telah nyata-nyata berpengalaman yang selama ini bisa dilihat hasilnya. Karena itu, semestinya anggota kabinet —– bukan diambilkan dari orang politik. Orang politik biasanya lebih mementingkan misi atau idiologi politiknya. Atas dasar anggapan itu, maka masih sulit dibayangkan apa yang akan terjadi, jika keputusan seperti itu yang diambil. Demikian juga tentang perselisihan antara KPK, Polisi, dan Kejaksaan. Orang menduga-duga atau mempertanyakan ada apa dengan penangkapan kedua pejabat KPK itu. Setelah menguras sekian banyak energy, termasuk setelah Presiden membentuk tim pencari fakta, yang kemudian dikenal dengan Tim 8, maka diambil keputusan berupa membebaskan pimpinan KPK dari segala tuduhannya dan bahkan telah diaktifkan kembali. Demikian pula kasus Bank Century. Berbagai pihak ikut ambil bagian untuk mencari keterangan yang sebenarnya, agar tidak terjadi salah paham. Mulai dari DPR, Kepolisian, Kejaksanaan, BPK, KPK, hingga Presiden dan pihak-pihak yang terkait lainnya mencurahkan perhatiannya pada persoalan ini. Jika kita memperhatikan, berapa banyak energy yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan itu. Sudah barang tentu, beberapa kasus tersebut hanyalah sebagian dari sekian banyak persoalan lainnya yang muncul, sebagai akibat ——bisa jadi, karena salah paham belaka. Oleh karena itu, sebuah keputusan yang kemudian telah menjadi informasi yang harus dibagi, maka sosialisai atau pembagiannya harus merata, jelas dan sesempurna mungkin. Sebab, hanya karena salah paham saja, kadang berakibat sangat serius. Hanya karena salah paham, maka di antara orang, kelompok, organisasi, bisa menjadi konflik, dan korbannya sedemikian besar. Kita semua tentu berharap, agar salah paham di antara berbagai pihak yang seringkali terjadi di negeri ini tidak terlalu mengganggu dalam menghadapi persoalan ke depan yang lebih besar. Persoalan bangsa ini masih sedemikian banyak dan besarnya. Keterbatasan lapangan kerja, pengangguran yang semakin banyak, kualitas pendidikan yang harus segera ditingkatkan dan juga diratakan, pelayanan kesehatan, upah buruh yang rendah, kebutuhan perumahan, transportasi, kebutuhan energy, pangan, dan lain-lain yang semua itu harus segera ditangani. Mudah-mudahanlah ke depan, bangsa ini tidak selalu terjebak oleh persoalan-persoalan yang sebenarnya hanya disebabkan oleh adanya saling salah paham di antara berbagai pihak. Salah paham kadang berakibat sedemikian besar dan serius. Maka, Al Qurán sebagai kitab suci agama Islam, banyak memberikan pesan, agar selalu tabayyun. Maksudnya adalah, ——–lagi-lagi, agar tidak terjadi salah paham itu. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *