Friday, 14 August 2026
above article banner area

Memasuki Tahun Baru Hijriyah

Rupanya semua sepakat, hari Selasa kemarin adalah tanggal 1 Muharam 1432 Hijriyah. Semua libur, mengikuti kalender pemerintah. Tidak sebagaimana penentuan awal ramadhan, idul fitri, dan idul adha, orang harus melakukan hisab atau rukyat untuk menentukan tanggal jatuhnya awal bulan. Dengan cara itu, kadang hasilnya  berbeda. Mereka semua percaya, bahwa kemarin itu tanggal satu Muharam 1432 H. Muhammadiyah, NU atau juga pemerintah, semua  bersatu, tidak ada yang berselisih atau berbeda.

  Selain itu, juga tidak terdengar ada orang yang ramai-ramai pergi ke pingggir laut untuk lihat bulan. Demikian pula, tidak ada orang yang mengumumkan terlebih dahulu, bahwa hari Selasa, tanggal 7 Desember 2010 adalah  bertepatan  tanggal satu Muharram 1432  hijriyah. Semua sepakat dan juga semua bersatu tentang hal tersebut. Mungkin ini karena tidak ada ritual yang umum dilakukan.  Bagi mereka yang ingin puasa sunnah pada bulan Muharram, maka berpuasalah. Mereka tidak perlu menunggu pengumuman dari siapapun.   Bersatu memang baik, terlihat rukun. Kerukunan ummat Islam ditunggu-tunggu sejak lama. Umpama saja penentuan tanggal satu Muharram diperselisihkan atau berbeda-beda, akan menjadi lebih ramai. Awal bulan ramai, ditambah awal tahun juga ramai. Tentu hal itu membikin bingung. Saling percaya antar sesama, rasanya memang perlu dan baik,  apalagi di antara sesama muslim. Andaikan penentuan awal puasa dan juga setiap  hari raya bagi ummat Islam  selalu sama, memang terasa bagus. Orang-orang desa, yang santri tidak perlu susah, memilih  mana yang harus diikuti. Namun, apalagi  kiranya yang diributkan,  kalau bukan  awal bulan puasa dan hari raya itu.        Tetapi sudahlah, sekarang sudah bersatu. Tanggal satu tahun hijriyah sudah sama. Jika nanti awal bulan puasa dan hari raya berbeda, itu hanya agar kelihatan berbeda saja. Sebab perbedaan itulah yang dianggap penting dan membawa rakhmat. Dalil tentang itu juga tersedia. Walaupun pada kenyataannya, perbedaan yang membawa rakhmat itu adalah  dalam wilayah ilmu dan bukan dalam soal ritual. Berbeda-beda dalam soal ritual yang dipelihara, atau dipertentangkan justru membawa musibah.     Perbedaan dalam ritual tidak ada yang mengetahui, mana yang   paling benar atau paling diterima. Diterima atau ditolak sebuah kegiatabn ritual adalah rahasia Tuhan. Selama ini, tidak ada yang tahu tentang kegiaan ritual yang diterima atau sebalinya ditolak. Kita percaya saja bahwa shalat kita semua diterima.  Termasuk pertanyaan, siapa yang tahu,  di antara  jamaáh haji yang saat ini baru pulang, yang benar-benar  membawa kemambruran. Jawabnya, tidak ada yang tahu. Maka, kita katakan saja bahwa,  yang mabrur adalah semuanya. Atau, mudah-mudahan semua membawa haji mabrur.   Terkait dengan tahun baru hijriyah, apa yang perlu kita ingat, bayangkan, atau renungkan. Saya punya renungan bahwa tatkala hitungan tahun sudah berakhir dan memasuki tahun baru, maka sama artinya kita meninggalkan tahun yang telah  lewat untuk  selama-lamanya. Semakin tambah tahun, maka tahun yang kita tinggalkan akan semakin jauh. Kita baru saja meninggalkan  tahun 1431 hijriyah. Tahun itu tidak akan datang kembali. Semakin lama akan semakin jauh kita tinggalkan. Tidak akan  datang lagi tahun 1431 Hijriyah di masa datang. Tahun itu hanya akan menjadi kenangan.   Umpama di tahun 1431 hijriyah yang lalu kita isi kebaikan, misalnya selalu berbaik-baik dengan orang, tetangga, saudara, atasan dan atau bawahan, kita bayar kewajiban zakat, shadaqoh, infaq, hutang-hutang dibayar tepat waktu, kita tebarkan senyum, nasehat yang baik, kata-kata yang indah dan seterusnya,  maka tahun itu  akan menjadi kebaikan. Namun sebaliknya, jika di tahun lalu kita isi  dengan kegiatan buruk, merugikan,  menyakitkan sesama, menuduh, menjatuhkan harkat dan martabat sesama dan lain-lain yang menyusahkan, maka yang tersisa atau tertinggal pada diri kita adalah keburukan dan dosa. Kitatidak bisa memperbaiki keburukan itu, kecuali hanya istighfar dan mohon maaf kepada yang kita sakiti. Itu saja maksimal yang isa dilakukan.   Atas dasar renungan itu maka dalam menjalani hidup tahun baru ke depan, tidak ada pilihan lain kecuali berniat dan bertekat dengan sungguh-sungguh untuk mengisinya dengan kebaikan. Setiap saat, setiap hari, dan setiap bulan harus kita ingat bahwa waktu tidak akan kembali. Jika tahun 1431 hijriyah tidak akan kembali, maka juga sama, bahwa tahun 1432 hijrah yang akan kita lalui ke depan, setelah nanti berakhir juga tidak akan kembali lagi. Oleh karena itu, memasang niat, tekad, dan kemauan baik  selalu menjadi penting. Dengan begitu, maka jika tahun lalu ada kekurangan, kesalahan, kekeliruan, apakah lupa atau tidak disengaja, maka tahun depan tidak diulang kembali.   Itulah pentingnya melakukan renungan di awal waktu, yaitu awal hari di pagi hari, di awal minggu yaitu pada setiap hari ahad, di awal bulan pada setiap tanggal satu, dan juga di awal tahun seperti pada bulan Muharram sekarang ini.  Kegiatan mengingat-ingat, waspada, arif dan sejenisnya adalah penting, karena manusia selalu dikaruniai sifat lupa dan salah. Siapapun orangnya tidak pilih-pilih, apakah seorang pejabat, rakyat, tua, muda, kaya miskin, pintar atau setengah pintar, mereka itu semua sama. Oleh karena itulah maka Tuhan meganjurkan agar di antara sesama selalu saling berwasiat atas kebenaran dan kesabaran. Sebaliknya bukan saling mengancam, menindas, dan merendahkan.   Datangnya tahun baru hijriyah seperti sekarang ini, maka  yang diperlukan adalah membangun rasa syukur, telah dikaruniai oleh Allah hidup hingga tahun baru 1432 H. Apapaun yang kita jalani tahun lalu diterima dengan ikhlas, dan ke depan harus dibangun suasana gembira, saling menghargai, saling kasih sayang,  dan tolong menolong antar sesama. Tahun baru hijriyah ke depan harus kita isi dengan kegiatan yang lebih baik, lebih adil, lebih jujur dan amanah,  semua meningkat dari tahun lalu yang telah kita tinggalkan. Itulah kira-kira, makna memasuki dan memperingati  tahun baru hijriyah. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *