Memasuki 2011, kita menyaksikan dunia politik Timur Tengah bergolak. Para penguasa otoriter dimurkai rakyatnya sendiri, mulai dari Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Bahrain, dan Suriah. Pangkalnya adalah kemiskinan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyatnya sendiri. Dua di antaranya, Presiden Tunisia, Ben Ali, dan Presiden Mesir, Hosni Mubarak, telah tumbang. Korban meninggal dan luka tak bisa dihindari. Kendati mencoba untuk bertahan dengan melakukan lobi-lobi dengan pemrotes, keduanya akhirnya bersedia mundur dari panggung kekuasaan yang sudah bertahun-tahun dipegangnya setelah ribuan massa pemrotes terus menekan. Dalam situasi seperti itu di mana penguasa sudah tidak memperoleh legitimasi rakyatnya, jarang sekali ada yang bisa bertahan. Pada tahun 1998, Soeharto juga akhirnya tumbang setelah massa yang dimotori mahasiswa melakukan aksi demonstrasi berhari-hari walau berbagai upaya lobi telah dilakukan.
Jika pemimpin Ben Ali dan Hosni Mubarak bersedia mundur sebelum jatuh korban lebih banyak, tidak demikian yang terjadi pada pemimpin Libya Muamar Khadafy yang telah berkuasa sejak 1969. Khadafy yang selama ini tidak pernah menyebut dirinya sebagai presiden melainkan pemimpin revolusi dan bertahan dengan pangkat kolonel seakan tersentak melihat aksi massa rakyatnya yang memintanya mundur. Bukan Khadafy jika mau menuruti tuntutan rakyatnya begitu saja, dia malah mengeluarkan semua kekuatan militernya untuk menumpas rakyatnya sendiri yang dia sebut sebagai ‘kecoak pemberontak’. Khadafi juga bersumpah menjadikan Libya lautan darah jika pemrotes terus melakukan aksinya, apalagi dibantu pihak asing. Khadafi mewujudkan ucapannya. Sedikiitpun tak ada rasa iba terhadap rakyatnya sendiri. Yang ada adalah murka dan siap membinasakan hingga akar-akarnya sampai para pemberontak itu hengkang. Para pemrotes dengan senjata seadanya dilawan dengan peralatan militer canggih yang selama ini telah disiapkan. Bukan hanya itu. Untuk menambah daya serangan yang dahsyat tanpa kenal ampun, Khadafi menyewa tentara bayaran dari negara-negara tetangganya. Ribuan nyawa dari masyarakat sipil melayang sia-sia. Khadafi kalap. Kekejaman Khadafy tidak jauh berbeda dengan mendiang Saddam Husein yang akhirnya juga tumbang dan dihukum gantung oleh penguasa penggantinya. Sama dengan rakyat Iraq yang selama era Saddam hidup dalam ketakutan dan tertekan, rakyat Libya juga demikian. Di mata Khadafy, tidak boleh ada oposisi. Bagi yang tidak setuju dengan kebijakannya pilihannya hanya satu di antara tiga, yakni meninggalkan Lyibia, insyaf, atau dibunuh. Kendati Libya merupakan salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, rakyat Libya tidak menikmati kekayaan itu. Sebab, selama bertahun-tahun Libya terkena sanksi embargo ekonomi dan politik dari Barat setelah Khadafi diketahui menjadi orang di baik tertembaknya pesawat Pan Am di Lockerbie, Skotlandia pada 21 Desember 1988 yang menewaskan semua penumpang dan awak pesawatnya yang berjumlah 270 orang. Mendiang Ronald Reagan yang menjuluki Khadafi sebagai ‘anjing’ dan ‘orang gila’ dari benua Afrika karena sikapnya yang selalu menentang Amerika pernah mengebom barak Khadafi pada 1986 dan memakan korban anak perempuannya. Beberapa tahun terakhir embargo itu dicabut dan Khadafi mengubah haluan politiknya serta bersedia membayar uang ganti rugi sebesar $ 2, 7 miliar kepada sanak keluarga korban Lockerbie. Sejak itu, dalam konteks hubungan internasional, sejatinya Libya sudah mulai normal. Sikap Khadafi melunak terhadap Barat. Di mata rakyatnya, Khadafi menampilkan sosok bersahaja dengan tinggal di barak, tidak di istana mewah sebagaimana pemimpin sebuah negara kaya, dan tidak menyebut dirinya sebagai presiden, melainkan pemimpin revolusi sehingga bisa terus berkuasa selamanya. Di barak itu pula Khadafi biasa menerima tamu-tamunya. Ternyata yang ditampilkan Khadafy, meminjam istilah Erving Goffman, hanya panggung depan (front stage). Buktinya, dia menyimpan kekayaan miliaran dolar di berbagai Bank di banyak negara Eropa dan Amerika. Belum lagi berbagai perusahaan yang dikelola anak-anak dan keluarga dekatnya. Dengan demikian, kekayaan Khadafi sungguh luar biasa kendati rakyatnya miskin. Aksi Khadafi secara brutal terhadap rakyatnya sendiri sehingga menimbulkan ribuan nyawa melayang tak pelak mengundang reaksi keras masyarakat internasional. Buntutnya, 15 negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB bersidang dan hasilnya Libya dikenai larangan terbang (no fly zone) lewat Resolusi DK PBB Nomor 1973. Resolusi itu dikeluarkan dengan maksud untuk menyelamatkan warga sipil dari serangan tentara pro-Khadafi. Tanpa menunggu hari, dengan mandat DK PBB tersebut Perancis, Inggris dan Amerika segera mengirim pesawat militernya ke Libya dan melakukan serangan rudal ke sentra-sentra militer Libya. Aksi militer koalisi tak pelak memakan korban masyarakat sipil. Padahal misi utama koalisi adalah melindungi mereka. Aksi koalisi tak luput dari protes anggota tetap DK PBB seperti China, Russia yang semula bersikap abstain pada pemungutan suara untuk menjatuhkan sanksi larangan terbang bagi pesawat militer Libya. Melalui Menteri Luar Negerinya, Turki juga mengecam tindakan tentara koalisi yang dianggap melampaui mandat yang diberikan PBB. Sebab, kenyataannya, tentara koalisi juga menyerang markas-markas militer tentara Khadafi sehingga kekuatannya sudah mulai lumpuh. Yang menjadi pertanyaan kita semua adalah mengapa koalisi yang dipimpin Perancis, Inggris dan Amerika begitu agresif menyerang Libya dengan dalih menyelamatkan nyawa warga sipil dari serangan tetara Khadafi? Hal yang sama tidak mereka lakukan untuk melindungi rakyat Palestina yang sampai detik ini ditekan berbagai cara oleh zionis Israel. Sikap maksimal masyarakat Barat terhadap kebiadaban Israel paling-paling hanya ‘menyesalkan’ tindakan Israel dan berharap diselesaikan lewat perundingan damai. Dengan sikap itu, Israel begitu leluasa melakukan serangan terhadap rakyat Palestina yang sudah puluhan tahun berjuang merebut kembali tanah kelahirannya. Namun, hingga hari ini cita-cita rakyat Palestina itu masih jauh di awang-awang. Dengan nalar sederhana maksud semua tindakan koalisi sangat mudah ditebak, yakni berakhirnya kekuasaan Khadafi dan menggantinya dengan yang baru atas selera mereka agar minyak Libya yang melimpah dapat mereka kuasai. Setelah Saddam jatuh, Amerika juga sudah menikmati minyak Iraq dengan diberi kekuasaan untuk mengelola sumber-sumber minyak. Begitu juga dengan kejatuhan Hosni Mubarak, Amerika tinggal menunggu waktu untuk memperoleh ‘berkah’ pengelolaan minyak Mesir. Tetapi dengan Palestina, Barat sama sekali tidak tertarik karena tidak ada sumber alam yang bisa menguntungkan mereka andai saja rakyat Palestina dibantu. Amerika dan sekutunya tentu tidak gegabah untuk membantu menumbangkan sebuah rezim. Kini dengan gempuran dahsyat senjata-senjata mutakhir koalisi kekuatan tentara Khadafi sudah mulai goyah. Sebelum tentara koalisi datang, pihak pemrotes sebenarnya sudah mulai terjepit karena Khadafi mengerahkan pesawat untuk melakukan serangan pada wilayah-wilayah yang telah jatuh ke pemberontak. Tetapi setelah tentara koalisi datang dan melakukan serangan terhadap basis-basis militer Khadafi, mereka seolah mendapat tambahan kekuatan baru. Daerah yang sempat dikuasai dan berhasil direbut loyalis Khadafi kini sudah bisa kembali. Pertanyaan berikutnya berakhirkah penderitaan rakyat Libya setelah Khadafi jatuh? Dan, apakah koalisi gratis membantu pemrotes untuk menumbangkan rezim Khadafi? Tentu tidak. Koalisi telah mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk mengirim pasukan ke Libya dan rezim pengganti Khadafi kelak harus siap-siap membalas budi koalisi yang telah ‘membantu’ menumbangkan Khadafi. Pepatah ‘keluar dari mulut buaya masuk ke mulut singa’ tampaknya akan berlaku bagi masyarakat Libya. Kalau begitu sebenarnya siapa yang diuntungkan dalam perang di Libya ini? Koalisi merupakan pihak yang paling beruntung. Rakyat Libya, baik yang pro maupun yang kontra Khadafi semuanya babak belur. Perang memang tidak pernah mengenakkan. Ada kata bijak yang patut kita renungkan. “There is no good war, and bad peace”. Apapun alasannya perang tidak pernah membawa kesenangan, tetapi justru kesengsaraan. Sebaliknya, kedamaian , berapapun derajadnya, selalu membawa kebaikan. Mencermati gelombang pemberontakan rakyat Timur Tengah terhadap pemimpinnya akhir-akhir ini menegaskan tesis bahwa secara geopolitik bumi Timur Tengah terus goyah. Perang, konflik antar-suku dan kelompok agama, kudeta terus mewarnai perjalanan mereka. Ingat perang Iraq-Iran, Iraq-Kuwait, Iraq dengan koalisi jilid I dan II, Israel-Palestina, Libanon-Israel, Israel-Suriah, gelombang demonstrasi Tunisia, Mesir, Bahrain, Yaman, Libya, Suriah dan seterusnya menjadi bukti ketidakstabilan politik Timur Tengah. Saya berkesimpulan bahwa kekayaan alam mereka berupa minyak yang begitu melimpah tidak serta merta membawa berkah yang menjadikan hidup mereka sejahtera, melainkan petaka yang tidak pernah berhenti. Timur Tengah menjadi kawasan di bumi ini yang paling bergolak. Mudah-mudahan kesimpulan saya salah. _________ Jakarta, 26 Maret 2011
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
