Siapapun dalam mengarungi kehidupan ini selalu menghadapi persoalan yang tidak mudah dipecahkan, baik persoalan pribadi, keluarga maupun masyarakat. Sekalipun misalnya hanya sebatas pribadi, ternyata persoalan itu kadang tidak mudah diselesaikan dan dihadapi. Akhirnya, jalan keluarnya bertanya kepada orang lain. Apalagi persoalan itu menyangkut orang banyak, maka kadang lebih sulit dipecahkan.
Sebagai salah satu jalan keluar yang ditempuh, biasanya orang bertanya atau konsultasi kepada orang lain. Namun apakah jawaban yang diberikan selalu benar, tentu tidaklah demikian. Siapapun berpeluang melakukan kesalahan, sekalipun orang tersebut sudah tergolong ahli. Namun dengan bertanya itu, setidak-tidaknya akan diperoleh alternative pemecahan, selain yang dimiliki sendiri sebelumnya. Rupanya memang hidup ini selalu saja menghadapi masalah. Baik masalah kecil dan sederhana, hingga persoalan besar dan pelik. Saya seringkali mendapatkan pertanyaan, tidak terkecuali dari mahasiswa saya sendiri. Bahkan hampir setiap hari, pertanyaan itu datang, baik melalui sms atau lainnya. Pertanyaan umum yang selalu saya terima, adalah menyangkut bagaimana menjadi orang sukses. Mungkin, penanya menganggap bahwa saya selama ini sudah tergolong orang berhasil. Dalam konteks bersyukur, jika sementara orang mengatakan bahwa saya mendapatkan keberhasilan hidup, saya menyetujuinya. Saya dikarunia umur panjang, keluarga yang cukup, dan dalam ukuran-ukuran tertentu bisa menunaikan amanah sehari-hari dan lain-lain. Itu barangkalai menurut banyak pihak —–setidak-tidaknya oleh mahasiswa saya sendiri, disebut berhasil. Atas dasar penilaian itu, mereka meminta pengalaman saya tentang kunci keberhasilan hidup itu. Menghadapi pertanyaan semacam itu saya selalu memberi jawaban yang sifatnya umum. Bahwa keberhasilan hidup yang sesungguhnya tidak bisa diraih tanpa petunjuk wahyu. Ilmu yang didapat dari lembaga pendidikan, termasuk dari perguruan tinggi, tidak akan bisa sepenuhnya menjawab berbagai persoalan hidup apalagi menyelamatkan diri. Sekalipun mencari ilmu melalui lembaga pendidikan hingga perguruan tinggi adalah sangat perlu, dan juga harus ditempuh. Saya selalu menjawab bahwa untuk meraih sukses, yakni sukses hidup yang sebenarnya, harus ditempuh melalui petunjuk wahyu dari Allah. Wahyu dari Allah harus ditangkap, dipahami dan dijalankan. Seringkali sementara orang, jika menghadapi persoalan berat dan pelik, hingga merasa buntu, —–tidak mampu menyelesaikannya, maka kemudian mengatakan akan menunggu wahyu. Sikap mempercayai kebenaran wahyu sesungguhnya sudah sangat benar. Hanya yang perlu dikoreksi adalah sikap menunggu itu. Wahyu pada saat ini, sudah tidak perlu ditunggu lagi, karena sudah selalu hadir di tengah-tengah kita. Istilah wahyu biasanya dimaknai sebagai petunjuk dari Tuhan. Jika wahyu itu dimaknai petunjuk Allah melalui rasul-Nya, maka hal itu sesungguhnya sudah disampaikan secara sempurna. Wahyu, pada saat ini, tidak perlu ditunggu lagi datangnya. Semua ayat-ayat itu yang diperlukan sebagai petunjuk, sudah tertulis dalam kitab suci, yaitu al Qur’an. Hanya saja, sementara ini al Qur’an, belum dipahami dan digunakan secara maksimal. Usaha-usaha untuk menyebar-luaskan isi al Qur’an sudah dilakukan sedemikian rupa, baik oleh organisasi social keagamaan, para ulama’ maupun juga dilakukan oleh pemerintah melalui Departemen Agama. Tetapi usaha itu, belum sepenuhnya berhasil. Tidak sedikit kaum muslimin sendiri, sebatas untuk membacanya saja, masih mengalami kesulitan. Keadaan seperti itulah sesungguhnya yang menjadikan sementara orang salah paham, masih menunggu-nunggu datangnya wahyu untuk menyelesaikan masalah kehidupan ini. Padahal wahyu itu sebenarnya tidak perlu ditunggu lagi, karena sudah sejak lama hadir. Hanya saja problemnya adalah bahwa kitab suci itu belum sempat dan berhasil dipahami secara baik dan merata, bahkan oleh kaum muslimin sendiri. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
