Wednesday, 10 June 2026
above article banner area

Menjaga Kesehatan Pikiran

Jika berbicara tentang kesehatan, maka pada umjumnya yang dibicarakan hanyalah sebatas kesehatan fisik. Padahal aspek fisik bagi manusia hanya sebagian dari aspek lainnya. Manusia terdiri atas aspek jasmani dan ruhani, atau lebih luas lagi terdiri atas jiwa atau ruh, akal atau pikiran, nafsu dan jasad atau aspek fisik. Mestinya jika konsisten dengan pembagian itu, tatkala berbicara tentang kesehatan, maka seharusnya meliputi semua hal itu. Sementara ini orang tatkala berbicara kesehatan, baru pada pembicaraan tentang kesehatan fisik. Padahal banyak penyakit fisik muncul diawali oleh kesehatan aspek lain. Orang yang banyak terbebani pikirannya, atau jiwanya, maka akan mempengaruhi kesehatan jasmaninya. Orang yang banyak memikirkan sesuatu yang dianggap berat, mengakibatkan berpenyakit fisik yang sulit disembuhkan. Hanya sayangnya, memahami aspek non fisik tersebut agaknya juga tidak mudah. Informasi tentang itu tidak mudah didapat. Padahal sesungguhnya terkait dengan ruh, jiwa, dan akal banyak tersedia di kitab suci dan nabi pembawanya. Hanya sayangnya belum banyak digali. Selama ini ilmu pengetahuan yang bersifat empirik, terkait dengan perilaku manusia yang bersumber dari aspek dalam jiwa, dipelajari oleh ilmu psikologi. Disiplin ilmu ini sudah berkembang pesat, dan sebagai hasilnya banyak sarjana psikologi. Ilmu ini secara praktis juga sudah banyak dimanfaatkan, sehingga muncul lembaga dan pusat-pusat pelayanan psikologi. Rumah sakit jiwa yang sudah lama berdiri di beberapa kota, di antaranya memanfaatkan ilmu atau tenaga ahli di bidang ini. Aspek penting lain terkait dengan kesehatan adalah kesehatan pikiran. Seringkali kita mendengar orang menyebut bahwa seseorang sedang sakit pikirannya. Orang yang mendapatkan beban pikiran terlalu berat, maka pikirannya menjadi lelah dan kemudian menjadi sakit. Selain itu seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil, dibohongi atau dikhianati, maka pikirannya menjadi sakit. Dalam bidang politik, orang yang kalah dalam pemilihan jabatan, maka pikirannya menjadi sakit yang tidak mudah disembuhkan. Anak sekolah yang tidak naik kelas, atau lulus ujian, pedagang yang selalu merugi, petani yang tanamannya terkena hama lalu tidak panen maka pikiran mereka menjadi sakit. Sesungguhnya orang yang pikirannya lagi sakit, penderitaan itu seringkali tidak saja dirasakan oleh yang bersangkutan sendiri, melainkan juga terhadap orang lain. Orang yang pikirannya sakit, marah dan sebagainya, mengakibatkan orang yang berada di kanan kirinya akan merasakan dampaknya. Lebih celaka lagi jika mereka yang pikirannya sakit itu adalah seorang pejabat, atau orang yang memiliki kekuasaan, maka anak buahnya menjadi sasaran kemarahannya itu. Berbagai keputusan yang diambil oleh orang yang pikirannya lagi sakit, akan membahayakan dirinya, orang lain dan bahkan juga institusi yang dipimpinnya. Orang yang lagi menderita penyakit fisik, sesungguhnya penyembuhannya lebih mudah. Biasanya yang bersangkutan segera menyadari bahwasanya ia lagi sakit. Penyakit fisik secara langsung dirasakan oleh penderitanya. Berbeda dengan itu, adalah jika penyakit itu menyerang pikirannya. Penderitanya tidak merasa sakit, dan bahkan menuduh orang lain yang sedang menderita sakit. Padahal dirinya sendiri itu yang lagi sakit. Dalam literatur Islam dikenal beberapa penyakit non fisik, misalnya kufur nikmat, dengki, iri hati, hasut, bakhil, tamak, takabbur, sombong dan lain-lain. Jika selama ini telah terdapat berbagai rumah sakit yang memberi pelayanan penyembuhan penyakit fisik, maka penyembuhan penyakit pikiran tampaknya belum banyak dikembangkan. Di berbagai kota telah ada rumah sakit jiwa untuk menyembuhkan penyakit jiwa seperti stress, gila, dan sejenisnya. Demikian juga telah muncul, terutama di kota-kota besar, lembaga pelayanan psikologi. Tetapi, penyembuhan penyakit pikiran, misalnya karena menanggung beban terlalu berat, yang disebabkan gagal dalam pemilihan kepala daerah, atau anggota legislatif, dan juga jabatan-jabatan lainnya, rasanya belum banyak muncul. Padahal ini semakin banyak dibutuhkan. Orang yang semula baik, tetapi ternyata berubah menjadi koruptor, berambisi jabatan, dan bahkan juga menjadi teroris, adalah bisa jadi, karena sedang berpenyakit pikiran itu. Pikiran tamak, ambisi jabatan yang berlebihan, ingin dipuji, dan sebagainya maka menjadi sakit, dan akibatnya melakukan tindakan rendah dan tercela itu. Mestinya, munculnya penyakit seperti ini, ada lembaga atau pihak yang memberikan layanan penyembuhan. Hanya memang sulitnya, jenis penyakit ini tidak dirasakan, termasuk oleh yang bersangkutan. Padahal bahayanya melebihi dari orang yang berpenyakit fisik. Orang yang pikirannya lagi sakit, tidak saja membahayakan bagi dirinya sendiri, tetapi juga terhadap orang lain. Islam mengajarkan agar umatnya menjaga kesehatan secara menyeluruh, yaitu kesehatan jasmani, jiwa, nafsu, dan juga pikirannya. Konsep tentang sabar, ikhlas, tawakkal, syukur, istiqomah, amanah dan seterusnya supaya dikembangkan oleh setiap muslim adalah agar hidup mereka menjadi sehat. Seringkali para ulama, kyai, ustadz, atau tokoh agama, didatangi oleh banyak orang untuk mendapatkan nasehat. Mereka kemudian di antaranya dianjurkan banyak membaca al Qur’an, berdzikir, puasa, banyak bersyukur, ikhlas, bersabar, banyak bershodaqoh, dan melakukan amal sholeh lainnya. Ini semua adalah terkait dengan upaya menjaga kesehatan, termasuk menjaga kesehatan pikiran. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *