Suatu program yang saya anggap sangat menarik yang dilakukan oleh Telkom, ialah bahwa beberapa minggu terakhir ini telah menyelenggarakan apa yang disebut dengan istilah Telkom Smart Campus Award (TeSCa) 2009. Kegiatan yang diselenggarakan dan didukung oleh Departemen Pendidikan Nasional, Menkoinfo dan Majalah Warta Ekonomi ini ingin melihat perguruan tinggi mana yang telah memanfaatkan ICT dalam taraf lebih unggul. Kegiatan itu dilakukan dengan cara, di antaranya dengan mengirim formulir dan harus diisi oleh masing-masing perguruan tinggi untuk merekam berbagai informasi terkait dengan ICT itu. Kemudian hasilnya diseleksi oleh Tim Penilai. Tidak kurang dari 330 an perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta mengirim kembali formulir tersebut, dan akhirnya setelah dilakukan penilaian terdapat 17 perguruan tinggi yang masuk dalam nominator sebagai telah menggunakan ICT unggul. Menurut penjelesan pihak Telkom, kegiatan tersebut sudah dilakukan yang kedua kalinya. Namun berbeda dengan tahun lalu, pada pelaksanaan tahun ini pesertanya tidak saja berasal dari perguruan tinggi di lingkungan Pendidikan Nasional, tetapi juga perguruan tinggi yang berada di bawah pembinaan Departemen Agama. Pada tahun ini ada dua perguruan tinggi di lingkungan Departemen Agama yang masuk mengikuti kegiatan itu, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Setelah melalui seleksi, akhirnya ditetapkan delapan perguruan tinggi yang telah dianggap unggul dalam penggunaan ICT, di antaranya yaitu UI, ITB, Universitas Bina Nusantara, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Penilaian itu, tampaknya dilakukan tidak sederhana, sebab selain masing-masing perguruan tinggi harus mengisi formulir yang dikirimkan sebelumnya, juga dilakukan peninjauan lapangan oleh tim yang ditunjuk untuk melihat kenyataan di lapangan seberapa besar masing-masing perguruan tinggi memanfaatkan ICT itu. Ketika Tim Penilai itu datang ke UIN Malang, saya menjelaskan penggunaan ICT oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang secara lebih spesifik, yang bisa jadi belum dilakukan oleh perguruan tinggi yang lain. Saya ketika itu menjelaskan bahwa jika ICT oleh kampus hanya sebatas digunakan untuk mendukung kegiatan administrasi akademik, kemahasiswaan, dan juga keuangan adalah wajar dan atau sudah seharusnya. Pemanfaatan ICT sebatas itu sudah tidak bisa dihindari lagi bagi perguruan tinggi yang ingin memberikan pelayanan kepada mahasiswa dan masyarakat luas secara cepat dan tepat. Saya, ketika itu mengatakan bahwa tidak akan mungkin lagi pada zaman seperti ini, mahasiswa sebatas untuk mengajukan mata kuliah yang akan diprogramkan pada awal semester, atau melihat hasil ujian, membayar biaya pendidikan dan lain-lain, masih harus antri berpanjang-panjang. Begitu juga sudah tidak zamannya lagi seorang mahasiswa hanya akan melakukan herregistrasi, pendaftaran mahasiswa baru, ataupun juga seorang dosen mengirim hasil ujian melalui surat atau berkas lainnya sebagaimana zaman dahulu. Mereka datang ke kampus menyerahkan berkas ke bagian administrasi akademik. Jika gambaran itu masih dilakukan, artinya kampus belum menggunakan teknologi informasi sacara memadai. Perguruan tinggi tersebut artinya belum melakukan efisiensi pelayanan yang seharusnya dilakukan. Selain itu, kampus yang demikian belum berusaha memberikan pelayanan kepada masyarakat dan khususnya mahasiswa secara cepat dan seefisien mungkin. Keterlambatan dalam pemanfaatan ICT, kadang juga bukan saja atas kesalahan perguruan tinggi yang bersangkutan. Bisa jadi hal itu disebabkan oleh para mahasiswa, karyawan, dan bahkan juga para dosennya sendiri. Sekalipun dengan teknologi itu maka berbagai jenis pekerjaan dapat diselesaikan secara lebih mudah, akan tetapi ternyata tidak semua orang segera mau menyesuaikan dengan teknologi modern itu. Masih ada saja sementara orang yang menyukai dengan cara-cara lama, yang dianggapnya lebih mudah. Ternyata, tidak sedikit orang yang malas belajar atau lamban dalam beradaptasi dengan teknologi modern. Ha itu bisa kita lihat misalnya, sekalipun terdengar lucu, ternyata tidak sedikit mahasiswa dan juga bahkan dosen yang belum bisa membuka website atau e mail. Kadang sekalipun sudah menjadi dosen belum paham dengan facebook, padahal para santri yang bertempat tinggal di pedesaan saja sudah lama menggunakan fasilitas itu. Ikhwal adanya orang-orang tertinggal seperti itu, terdapat di mana-mana, tidak terkecuali di kampus-kampus. Oleh karena itu jangan heran jika berkirim sms kepada seseorang teman di kampus sekalipun tidak pernah dijawab, lantaran yang bersangkutan belum bisa menjawab pertanyaan atau komentar melalui sms. Pengetahuan mereka tentang ICT ternyata masih kalah jauh dibanding anak atau bahkan cucunya yang masih kecil. Ini semua menunjukkan bahwa mengembangkan ICT tidak semudah yang dibayangkan. Hambatan itu bisa saja berupa keterbatasan anggaran yang tersedia atau juga berasal dari factor manusia yang lambat dalam beradaptasi dengan teknologi modern. Ketika Tim Penilai, yang beranggotakan dari Telkom, Departemen Pendidikan Nasinal, Warta Ekonomi dan juga Menkoinfo datang ke UIN Malang, saya menjelaskan tentang penggunaan ICT itu secara luas. Saya sendiri misalnya, di antaranya melalui website, facebook, dan juga Scribd pada setiap pagi menyapa para dosen, karyawan, dan mahasiswa dengan mengirim artikel pendek yang saya tulis pada setiap selesai sholat subuh. Dengan tulisan-tulisan itu saya bisa menyapa mereka, berdialog, dan bahkan jika ada waktu saya juga berdiskusi. Dengan fasilitas ICT maka tugas-tugas saya sebagai pimpinan universitas sangat terbantu, baik terkait dengan pelayanan yang bersifat managerial maupun kontak atau bersilaturrakhiem dengan pihak-pihak yang semestinya saya lakukan. Melalui penjelasan yang saya berikan maka rupanya Tim Penilai untuk Telkom Smart Campus Award (TeSCA) 2009 menjadi tertarik. Hasilnya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang termasuk satu di antara 8 perguruan tinggi di Indonesia, —— beberapa di antaranya saya sebutkan di muka, dipandang unggul dalam penggunaan ICT. Saya berpandangan bahwa apa yang dilakukan oleh Telkom, bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional, Warta Ekonomi dan Menkoinfo sangat penting artinya untuk lebih memacu lagi bagi siapapun, tidak terkecuali bagi perguruan tinggi dalam memanfaatkan ICT dalam meningkatkan kualitas pelayanan pendidikannya. Selain itu, artinya, Telkom telah menyumbangkan hal strategis dalam pengembangan perguruan tinggi bagi bangsa ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
