Pada hari Sabtu, tanggal 12 Desember 2009 saya diundang oleh STAIN Curup untuk memberi ceramah di hadapan para pimpinan, dosen, karyawan, dan beberapa perwakilan dari mahasiswa. Kegiatan itu dikemas dalam bentuk lokakarya, membicarakan tentang bangunan keilmuan dan implementasinya dalam bentuk kurikulum. Sebenarnya, keinginan mereka mengundang saya sudah cukup lama, tetapi baru kali itu saya bisa memenuhi, menunggu ada kesempatan. Saya ke STAIN Curup baru yang pertama kali. Sudah seringkali, saya ketemu Pimpinannya, pada saat menghadiri rapat bersama di Jakarta. Selama ini saya tahu STAIN Curup dari beberapa informasi yang saya dapatkan dari Departemen Agama, atau juga dari pimpinannya ketika bertemu dalam pembicaraan non formal. Tidak sebagaimana STAIN lainnya, sementara itu, saya mengira STAIN Curup itu kecil dan tidak terlalu berkembang. Anggapan seperti itu saya kira juga dimiliki oleh kebanyakan orang. Sebab kota Curup sendiri, tidak banyak dikenal. Tatkala menyebut kata Curup, orang tidak gampang membayangkan, di mana kota itu berada. Tetapi andaikan disebut kabupaten Rejang Lebong, mungkin banyak orang lebih mudah membayangkan wilayah itu. Sebab sejak lama nama kabupaten Rejang Lebong disebut-sebut banyak orang, karena di sana sejak lama dikenal terdapat tambang emas. Dari sini saja orang memahami, mengapa STAIN Curup tidak banyak dikenal. Menuju Curup, ibu kota Kabupaten Rejang Lebong, dari kota propinsi Bengkulu, masih harus naik kendaraan darat sekitar dua setengah jam. Sesungguhnya tidak terlalu jauh dari kota propinsi, tetapi karena jalannya sempit dan berliku-liku, melewati hutan yang panjang, maka semua kendaraan tidak berani melaju secara cepat. Melawati jalan di hutan yang masih asli, rasanya memang asyik, bagaikan berwisata saja. Kondisi jalannya cukup baik, kecuali beberapa titik yang sedang diperbaiki. Sekalipun kotanya kecil, tatkala masuk area kampus STAIN terasa sebagaimana masuk kampus STAIN lain pada umumnya di beberapa kota di Indonesia. Stereotipe kampus STAIN ternyata di mana-mana hampir sama, tidak terkecuali STAIN yang berada di Jawa. Rupanya ukuran STAIN di mana-mana seperti itu, hampir seragam, kecuali di beberapa tempat, karena usianya belum lama, seperti STAIN Jayapura, dan mungkin juga yang lain, agak berbeda. Saya bisa memberikan gambaran seperti itu, karena hampir seluruh STAIN yang ada di Indonesia pernah saya kunjungi, mulai dari yang ada di Lhohsemawe, Aceh, hingga sampai yang ada di Jayapura. Bahkan saya juga telah berkunjung ke sekolah tinggi agama selain Islam, seperti STAKN di Maluku, STAKN Palangkaraya dan juga Institut Agama Hindu Dharma Negeri, Bali. STAIN Curup tidak sebagaimana saya bayangkan sebelumnya, kecil. Ternyata, jika dililihat dari ukuran kampus dan jumlah mahasiswanya cukup besar. Bangunan kampusnya cukup luas, dan begitu juga jumlah mahasiswanya. Total mahasiswa STAIN Curup ternyata lebih dari 3000 orang. Setiap tahun, pada akhir-akhir ini, calon mahasiswa baru yang mendaftar lebih dari 1.200 orang. Jumlah itu tidak bisa ditampung semuanya, karena keterbatasan ruang kelas dan juga ketersediaan dosen yang tidak mencukupi jumlahnya. Selanjutnya, yang cukup menarik bagi saya adalah semangatnya, baik dari kalangan internal kampus maupun dukungan pemerintah daerahnya. Ketika memasuki kampus itu, terasa ada gairah untuk maju. Mereka juga bangga dengan kampusnya. Di antaranya, mereka menyebut, bahwa peminat calon mahasiswa baru STAIN Curup melebihi jumlah peminat masuk ke STAIN lainnya yang berdekatan. Kenyataan itu dibaca oleh pimpinan dan dosen sebagai prestasi, dan sekaligus bahwa keberadaannya memang diterima oleh masyarakat setempat. STAIN Curup selama ini merupakan satu-satunya perguruan tinggi negeri di kabupaten itu. Hal lain yang menarik, bahwa dukungan pemerintah daerah setempat terhadap perguruan tinggi Islam ini sedemikian besar. Misalnya, sebatas acara lokakarya intern kampus, ternyata pemerintah daerah hadir dan memberikan sambutan. Bupati Curup setiap tahun memberikan bantuan dana operasional, bahkan tahun depan, bantuan itu akan ditingkatkan hingga berjumlah 2.5 milyard rupiah setahun. Selain itu, pemerintah daerah akan mengangkat lulusan STAIN Curup sebagai CPNS, setiap tahun berjumlah 50 orang. Pemerintah daerah rupanya benar-benar ingin menjadikan STAIN Curup pada posisi yang strategis, di antaranya untuk menyiapkan SDM yang dibutuhkan oleh kabupaten itu. Atas dasar keinginan itu, Bupati Curup, ——- menurut informasi, menghendaki agar STAIN Curup bisa berubah bentuk menjadi universitas, atau UIN. Jika perubahan itu tidak mungkin, maka diharapkan agar diberi ijin membuka program studi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Pemerintah ingin agar dari kampus ini, selain lulusannya berhasil mampu memahami kitab suci al Qurán dan hadits Nabi, juga memahami ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk mengolah sumber-sumber alam dan sosial yang tersedia di kabupaten itu. Aspirasi pimpinan daerah dan masyarakat setempat seperti itu, menurut hemat saya, justru lebih benar dan realistik. Masyarakat agamis di berbagai tempat, menghendaki agar perguruan tingginya berhasil melahirkan lulusan yang mendalami agama sekaligus menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan pada umumnya. Keinginan itu sesungguhnya tidak berlebih-lebihan. Bahkan, siapapun yang mau mengkaji isi kitab suci al Qurán dan hadits Nabi secara mendalam, justru akan mendapatkan kesimpulan seperti itu. Al Qurán adalah petunjuk, penjelas, pembeda, rakhmat bagi kehidupan, agar siapapun yang mengikuti menjadi selamat dan bahagia, baik di dunia dan di akherat. itulah yang sebenarnya misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, dengan konsep Islamnya itu. Saya yakin, jika Islam hanya dikaji dan ditampilkan sebagaimana perspentif yang dikembangkan selama ini, yakni sebatas mengkaji dari aspek syariáh, ushuluddin, tarbiyah, adab, dan dakwah, atau hanya dari sudut aqidah, fiqh, tarekh, akhlak dan Bahasa Arab, maka tidak akan mencukupi dan akibatnya, bisa jadi, suatu saat akan ditinggal banyak orang. Islam semestinya dipahami secara luas, utuh, dan komprehensif hingga menjadi rahmatan lil alamien. Sepulang dari STAIN Curup, saya membayangkan jika di berbagai daerah di negeri ini, terdapat perguruan tinggi Islam, yang dikelola secara baik dan professional, maka akan melahirkan banyak ulama’yang sekaligus intelektual professional. Orang-orang seperti itulah sesungguhnya yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Sebagai seorang ulama, mereka mampu membedakan yang boleh dan yang tidak boleh diambil, atau yang haram dan yang halal. Sebagai seorang intelektual professional, akan mengabdi ke masyarakat atas dasar kekayaan ilmunya itu. Memang, Pertguruan Tinggi Islam Negeri pada umumnya, ——-tidak terkecuali STAIN Curup, harus diperkuat lagi dalam berbagai aspeknya, termasuk tenaga dosennya. Tenaga pengajarnya, selain harus segera ditambah, juga ditingkatkan pendidikannya. Jika persoalan itu bisa segera direspon oleh pemerintah pusat, takni Departemen Agama, maka perguruan tinggi Islam akan memberikan sumbangan besar pada pembangunan bangsa dan negara ini, baik sekarang maupun yang akan datang. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
