Saturday, 30 May 2026
above article banner area

Melihat Kembali Produk Pendidikan

Ada beberapa fenomena yang muncul akhir-akhir ini, yang kiranya relevan kita kaitkan dengan penyelenggaraan pendidikan. Beberapa fenomena itu misalnya adalah : (1) banyak orang masuk penjara karena melakukan kesalahan yang merugikan banyak pihak, (2) banyak warga negara yang gagal mendapatkan pekerjaan yang layak, hingga harus pergi ke luar negeri untuk mengais rizki dengan bekerja seadanya, dan (3) banyak terjadi konflik, protes, demo dengan berbagai kericuan, dan bahkan konflik itu antar elite sehingga tidak mudah diselesaikan. Pertanyaan yang harus dijawab adalah sejauh mana pendidikan selama ini, baik secara konseptual, paradigmatik, isi, maupun pendekatannya sudah tepat dijalankan. Selayaknya pihak-pihak yang menangani dan bertanggung jawab terhadap pendidikan tatkala melihat fenomena tersebut menjadi gelisah, karena ternyata hasil pendidikan belum mampu sepenuhnya mewujudkan cita-cita pendidikan. Tujuan pendidikan, yaitu untuk mengantarkan peserta didik menjadi cerdas, berakhlak mulia, trampil dan seterusnya dengan demikian belum terwujud. Bahkan pendidikan, sebatas menjawab persoalan penyiapan tenaga kerja belum berhasil. Lebih memprihatinkan lagi, mereka yang sudah berhasil mendapatkan lapangan pekerjaan pun, ternyata banyak yang dianggap kurang kreatif, kurang produktif, tidak enovatif, dan bahkan berperilaku koruptif. Melihat kenyataan itu, para penanggung jawab pendidikan mestinya juga kecewa, karena produk pendidikan yang dijalankan selama ini, kurang memuaskan. Memang tidak seluruh produk pendidikan seperti yang digambarkan itu. Masih banyak di antara mereka yang mampu menjalankan tugasnya secara profesional, jujur, amanah, dan bertanggung jawab. Akan tetapi, semakin lama semakin diketahui bahwa mereka yang melakukan kesalahan, penyimpangan, mementingkan diri sendiri, sembrono dan akhirnya tertangkap hingga diadili dan masuk penjara adalah anak-anak bangsa yang merupakan produk lembaga pendidikan yang dibanggakan dan telah dibiayai dengan cukup mahal. Oleh karena itu, dengan selalu memikirkan hal itu secara saksama kiranya sangat penting, agar bangsa ini tidak terus menerus berada pada jalan yang tidak semestinya dan selalu mengalami kerugian yang fatal. Melihat berbagai kenyataan tersebut, maka suka atau tidak suka, perlu diakui bahwa pendidikan di negeri ini, selain belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, juga belum berhasil melahirkan orang-orang yang berakhlak mulia, sebagaimana yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan itu sendiri. Jika gambaran tersebut betul, maka yang perlu dipertanyakan sesungguhnya adalah di mana letak kelemahan penyelenggaraan pendidikan yang selama ini dijalankan. Institusi yang menangani pendidikan dan bahkan lembaga kajian pendidikan sudah sedemikian banyak. Pertanyaannya, adakah yang kurang atau keliru dari apa yang dilakukan itu semua. Rasanya tidak boleh membiarkan sedikitpun kesalahan, apalagi terkait pendidikan. Pendidikan sudah dijadikannya sebagai instrument penting untuk membangun peradaban bangsa ke depan. Pendidikan semestinya tidak saja berhasil mengantarkan anak-anak bangsa menjadi cerdas, tetapi seharusnya juga berwatak atau berkharakter mulia. Tidak boleh pendidikan melahirkan orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, apalagi berwatak tidak etis, koruptif, atau selalu merugikan orang lain. Pendidikan harus melahirkan generasi baru yang unggul yang memiliki kharakter, watak, perilaku dan akhlak yang luhur dan tidak sebaliknya, hanya melahirkan manusia pecundang yang selalu merusak kehidupan social. Lembaga pendidikan harus segera melakukan koreksi diri secara menyeluruh. Sementara ini wacana pendidikan, baru pada taraf memperbincangkan Ujian Nasional (UN), prestasi di bidang matematika, biologi, kimia, fisika dan ilmu-ilmu social. Bukankah semestinya segera dipikirkan, apa sesungguhnya yang harus diraih dari penyelenggaraan pendidikan ini secara utuh dan menyeluruh. Sudah sedemikian yakinkah bahwa dengan kebijakan dan bahkan dengan berbagai pengetahuan itu, akan berhasil mengantarkan para siswa menjadi lebih berkualitas dalam pengertian memanusiakan manusia secara utuh yang sebenarnya. Jika pendidikan selama ini belum melahirkan perilaku mulia, lalu apa sesungguhnya makna yang sebenarnya dari usaha pendidikan itu. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini semestinya menjadi renungan bersama untuk selanjutnya dicarikan jawaban bersama pula, agar dengan pendidikan yang benar bangsa ini sampai pada tujuan, sebagaimana cita-cita itu telah dirumuskan sejak lama. Wallahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *