Tidak sedikit orang mengritik penyelenggaraan pendidikan di tanah air ini. Kritik itu terkait dengan kualitas hasil pendidikan, guru yang kurang mendapat perhatian tentang kesejahteraannya, keterbatasan anggaran, sarana dan prasarana yang tidak memadai, kurikulum, dan yang paling popular akhir-akhir ini adalah tentang ujian nasional.
Tulisan ini tidak ingin menambah kritik itu, melainkan hanya menunjukkan betapa berat mengurus pendidikan, jika dilihat dari sebagian kecil saja tugas itu, ialah tentang ujian nasional, yang pelaksanaannya melibatkan perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia. Keterlibatan itu sesungguhnya juga tidak terlalu banyak, hanya terkait dengan pengawasan, mulai dari pengawasan pencetakan soal, pengiriman naskah, dan pengawasan terhadap pelaksanaan ujian itu sendiri. Pelaksanaan pengawasan itu saja menjadi berat, karena sedemikian banyak jumlah lembaga pendidikan yang harus diawasi, belum ditambah lagi dengan lokasi masing-masing sekolah yang terpencar-pencar, hingga sampai daerah-daerah terpencil. Kiranya siapapun bisa membayangkan betapa beratnya penyelenggaraan ujian, yang harus dilaksanakan secara serentak. Padahal tidak sedikit sekolah, yang jaraknya dari kota sedemikian jauh, dan bahkan ada yang berada di kepulauan yang tidak mudah dijangkau. Untuk sampai ke pulau terpencil itu misalnya, harus menempuh hingga dua atau bahkan tiga hari dengan kapal laut. Sementara orang menduga bahwa ujian nasional itu sekalipun banyak kritik tetap dilaksanakan, karena dikaitkan dengan proyek. Dugaan itu mengatakan bahwa ujian nasional harus dilaksanakan karena para pengambil keputusan akan mendapatkan keuntungan financial dari pelaksanaan kegiatan itu. Memang biaya penyelenggaraan ujian itu secara nasional sedemikian besar. Tetapi jika dihitung secara rinci, mulai dari jumlah lembaga pendidikan yang sedemikian banyak, jumlah tenaga pelaksana yang harus dikerahkan, biaya percetakan soal, pengolahan hasil ujian, dan seterusnya, memang pantas jika biaya itu sedemikian besarnya. Sekalipun sekedar sebagai pengawas eksternal, beberapa rektor berkali-kali bertemu membicarakan tentang pelaksanaan tugas dari Menteri Pendidikan Nasional itu. Nyatanya tugas itu memang tidak mudah dilaksanakan. Sebagai penyedia petugas pengawas, tidak mudah mendapatkannya. Para dosen yang harus dikirim bertugas ke sekolah-sekolah yang jaraknya jauh, dalam waktu beberapa hari, dan harus menginap dengan dana dan fasilitas terbatas, kiranya juga tidak mudah melaksanakannya. Padahal, mereka itu semestinya juga harus memberi kuliah sebagaimana tugas pokoknya sehari-hari. Beban berat itu masih harus ditambah lagi, dengan pencairan dana yang tidak mudah. Beberapa hari menjelang pelaksanaan ujian dana itu baru akan bisa cair dan itu pun sebagian. Masing-masing universitas diminta untuk menalangi dana itu terlebih dahulu. Padahal sesungguhnya, bagi perguruan tinggi negeri, kebijakan itu juga tidak mudah dilakukan, karena terhalang oleh aturan main penggunaan dana yang tidak boleh sembarangan. Tetapi kebijakan itu harus diambil, agar pelaksanaan pengawasan ujian nasional berjalan sebagaimana direncanakan. Ilustrasi tersebut baru merupakan sebagian kecil dari pelaksanaan pendidikan, yaitu menyangkut pelaksanaan ujian nasional. Sedangkan beban tugas lainnya terkait dengan pendidikan sedemikian luas, menyangkut penyediaan sarana dan prasarana, pendanaan, tenaga guru, kepala sekolah, pengawas, kepemimpinan dan managerial, kurikulum, murid, lingkungan pendidikan, dan lain-lain. Masing-masing lembaga-lembaga pendidikan itu, di antara jenjang yang berbeda, lokasi yang berbeda, kultur masyarakat yang berbeda, memiliki problem tersendiri-sendiri yang semuanya itu harus bisa dipecahkan. Menghitung dan merasakan beban itu, bagi siapapun akan menyadari bahwa mengurus dan memikul beban penyelenggaraan pendidikan di negeri ini tidaklah ringan dan juga tidak mudah. Namun, tugas itu harus dilaksanakan sebaik-baiknya untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Jika dalam berbagai hal terdapat kekurangan, dan bahkan juga kekeliruan, sesungguhnya bukan karena kesengajaan, melainkan disebabkan oleh cara pandang yang berbeda-beda. Dari berbagai pertemuan dan diskusi yang saya ikuti untuk menyiapkan Ujian Nasional itu, saya menangkap bahwa semua pihak ingin memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik. Oleh karena itu, niat dan tujuan yang mulia, serta kerja keras yang ditunjukkan itu perlu dihargai dan disyukuri bersama. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
RektorĀ Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
