Tuesday, 2 June 2026
above article banner area

Tatkala Kedua Orang Tua Sudah Tiada

Entah apa sebabnya, tatkala menghidupkan kompter, yang biasa saya lakukan sepulang dari masjid sholat subuh, saya teringat kedua orang tua yang sudah beberapa lama wafat. Memang secara rutin, setiap selesai sholat subuh, saya selalu membacakan surat al fatehah dan beberapa surat pendek sebagai doa kepada kedua beliau. Seperti ada yang mengingatkan, perasaaan saya terbawa pada peristiwa menyedihkan, yakni saat ayah dan ibu menghadapi kematian, yang sesungguhnya sudah terjadi sejak lama. Antara ayah dan ibu wafatnya terpaut waktu cukup lama, selang beberapa tahun. Tanpa berpikir tentang apa manfaat tulisan ini, yang penting pagi ini saya menulisnya.

Ayah saya dikarunia usia cukup panjang, yaitu 72 tahun. Sedangkan Ibu lebih panjang dari itu, yakni 83 tahun. Keduanya melebihi usia Rasulullah yang hanya 63 tahun. Sekalipun begitu panjang usia kedua orang yang sangat saya cintai itu, rasanya hati saya masih menghendaki ketemu kedua beliau lebih lama lagi. Nafsu saya menginginkan agar ditunggui ayah dan ibu lebih panjang lagi. Saya tidak pernah punya keinginan menyaksikan ada orang datang ke rumah bertakziyah, karena kematian ayah dan atau ibu saya. Biarlah ayah dan ibu meninggal, setelah saya meninggal terlebih dulu. Tetapi ternyata, kedua orang yang memiliki jasa besar terhadap kehidupan saya dipanggil oleh Allah, wafat terlebih dahulu. Ayah wafat pada tahun 1986, sedangkan ibu pada bulan Mei 2007 yang lalu. Di mata saya, ayah dan ibu terlalu baik. Keduanya mendidik anak-anaknya yang sedemikian banyak, tetapi tidak pernah merasa berputus asa sekalipun menghadapi perswoalan hidup yang sedemikian berat, terutama terkait dengan kehidupan ekonomi, sebagaimana umumnya hidup di pedesaan, berada di bawah standar. Jumlah anaknya cukup banyak, dan kharakter mereka beraneka ragam yang sehari-hari harus dihadapi. Yang saya lihat dan rasakan, ayah dan ibu yang serba kekurangan dalam hidupnya itu, telah memiliki tanggung jawab yang sedemikian besar pada anak-anaknya. Mereka memberikan harapan dan cita-cita masa depan yang lebih baik. Beliau mengajari bagaimana hidup yang harus selalu mendekatkan diri pada Allah swt, beragama Islam secara baik, harus benuntut ilmu pengetahuan tanpa henti, harus selalu berbuat baik dengan orang tua, saudara dan sesama, dan yang tidak kurang pentingnya lagi adalah harus selalu berjuang untuk ilmu, agama, dan kehidupan bermasyarakat. Sehari-hari, ayah bekerja sebagai seorang petani, yang hanya memiliki tanah sawah dan kebun yang tidak seberapa luas, pengahasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan, pada masa-masa tertentu, di masa datang musim kemarau panjang, yang menyebabkan sawah tidak panen, maka kehidupannya menjadi lebih sulit lagi. Namun di tengah-tengah kehidupan seperti itu, cita-cita ayah agar anak-anaknya menuntut ilmu setinggi-tingginya tidak pernah surut. Kesulitan hidup itu tidak sulit dibayangkan oleh siapapun. Seorang petani biasa hanya mendapatkan penghasilan rendah dan juga tidak menentu, tetapi harus membiayai anak-anaknya sekolah di kota dengan biaya, ——menurut ukuran orang desa, tidak sedikit. Beban berat itu masih ditambah, yaitu tatkala setiap saat ayah dan ibu harus menunaikan kewajiban sebagai orang yang dituakan di desa, termasuk dalam kehidupan keagamaan. Saya masih ingat, hampir setiap saat harus pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk memberikan pengajian. Padahal kegiatan itu, saya lihat tidak pernah mendatangkan tambahan rizki, bahkan kadangkala justru sebaliknya, harus mengeluarkan biaya sendiri. Itu semua dijalankan oleh ayah, untuk memenuhi rasa anggung jawabnya sebagai orang yang dituakan sekaligus dipandang sebagai tokoh agama. Keadaan ekonomi yang sedemikian terbatas, saya saksikan sendiri, menjadikan ibu sedemikian berat mengatur kehidupan ekonomi keluarga. Namun saya amati, rupanya ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang sedemikian jelas antara ayah dan ibu. Jika ayah mendapatkan uang selalu digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya di kota, selain kegiatan sosial yang harus dibiayai, seperti untuk membangun madrasah, masjid, dan pengeluaran untuk perjuangan yang bersifat keagamaan. Sedangkan ibu bertugas mengelola hasil pertanian di sawah dan ladang. Hasil panen sawah tidak seberapa banyak, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga. Sedangkan hasil lainnya, dari tanaman kebun seperti buah manggis, durian, cengkih, dipakai untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder, misalnya beli baju untuk seluruh anggota keluarga. Saya ingat, ibu selalu berjanji, misalnya kalau panen durian, manggis atau cengkih akan dibelikan baju. Ibu tidak pernah melalaikan janjinya itu. Kebutuhan sehari-hari untuk beli sayur, lauk pauk, dan lain-lain dicukupi dari penjualan kelapa. Seringkali penghasilan dari kebun itu juga tidak mencukupi, sehingga kelapa yang semestinya belum waktunya dipanen, terpaksa dipetik untuk memenuhi kekurangan belanja. Ibu juga menggunakan hasil penjualan kelapa untuk arisan pada setiap akhir bulan. Ibu-ibu pedesaan suka berkumpul dengan alasan arisan. Ayah rupanya tidak paham terhadap keperluan ini, sehingga sering menyindir ibu, terhadap besarnya biaya arisan ini. Berbekalkan cita-cita dan kemauan keras itu, dari belasan jumlah anaknya, ternyata ayah dan ibu berhasil mengantarkan anak-anaknya menjadi guru agama, pegawai, dan pengajar di perguruan tinggi. Selain itu, sebagai rasa tanggung jawabnya terhadap agama, ayah dan ibu juga masih harus merawat lembaga pendidikan agama di pedesaan dan juga masjid. Beban berat itu, masih harus ditambah lagi dengan selalu memelihara anak yatim dan orang-orang yang berkekurangan dan perlu dibantu lainnya. Tulisan singkat ini saya buat untuk mengenang kedua orang tua yang telah berjasa besar dalam mengantarkan putra putrinya menjadi dewasa, yang penuh dengan problem dan tantangan yang selalu dihadapi dengan tabah, sabar, istiqomah, dan ikhlas. Saya berharap agar ungkapan ini menjadi bahan renungan dan sekaligus pelajaran bagi para putra-putri, cucu dan bahkan siapa saja, bahwa hidup ini harus dijalani dengan lapang, percaya diri, tanggung jawab, penuh harap, dan semua itu dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Hidup selalu menemui tantangan, persoalan dan rintangan. Kesemua itu tidak perlu ditakuti apalagi dihindari dan dijauhi. Semua itu harus dihadapi secara sabar, ikhlas, hati-hati dan penuh kesungguhan. Melalui tulisan singkat ini, saya juga ingin berbagi pandangan, bahwa ternyata hidup ini adalah sebuah proses yang selalu menghadapi tantangan, dan akan berakhir tatkala kehidupan ini sendiri sampai di titik akhir. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

RektorĀ  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *