Dalam kunjungan ke Rusia untuk menghadiri konferensi pendidikan teologi di kota Moscow, saya menyempatkan datang ke Fitersburg, sebuah ibu kota Sovyet tatkala Stalin berkuasa. Kata orang di Moscow, berkunjung ke Rusia belum sempurna manakala tidak ke Fetersburg. Kota ini dikenal sangat indah,apalagi di musin salju.
Kota Petersburg pada saat komunis berkuasa pernah menjadi pusat pemerintahan. Di tengah kota itu terdapat sungai besar, sehingga kapal-kapal ukuran besar bisa lewat. Bangunan-bangunan kokoh ditata rapi, jalan dibuat lebar, sekalipun sekarang ini di beberapa tempat juga macet, karena mobil sedemikian banyak. Di beberapa tempat, di atas sungai dibangun jembatan, hingga menjadikan pemandangan kota semakin indah. Dan agaknya yang luar biasa, bahwa jembatan tersebut dibuat bisa diangkat ke atas ketika kapal besar sedang lewat. Selain gedung-gedung fasilitas perkantoran, usaha bisnis, dan juga pusat pemerintahan di kota Fetersburg terdapat musium yang sangat besar. Selain itu, sesuatu yang kiranya tidak dibayangkan oleh banyak orang, ternyata di tengah kota itu terdapat masjid dalam ukuran besar. Masjid itu bernama al Amien, tetapi banyak orang menyebut dengan nama Masjid Biru. Masjid yang juga digunakan untuk shalat Jum’at tersebut bisa menampung 1000-an jama’ah. Masjid Biru ini memiliki sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dulu ketika Presiden Soekarno datang ke Rusia dan bertemu dengan Kurscep,—–Presiden Soviet ketika itu, menurut cerita dari mulut ke mulut, ditanya oleh penguasa Komunis itu tentang kesannya terhadap negaranya. Pertanyaan tesebut dijawab oleh Presiden pertama Indonesia, bahwa dalam kunjungannya tersebut tidak mendapatkan kesan apa-apa, oleh karena tidak melihat sebuah masjid pun di negeri itu. Mendengar jawaban Ir. Soekarno itu, maka Kurscep, Pimpinan Negara Komunis itu memerintahkan agar masjid lama yang sesungguhnya sudah berubah fungsi menjadi gudang, segera dibuka kembali. Masjid tersebut kemudian dibuka dan bahkan dibangun hingga benar-benar berwujud masjid, dilengkapi perkantoran, bahkan juga menara yang besar dan tinggi hingga dari mana-mana tampak bahwa di kota itu terdapat tempat ibadah bagi ummat Islam. Letak masjid yang berada di pinggir jalan kota menjadikan sangat mudah bagi siapapun datang dan memanfaatkannya. Menurut informasi, pada setiap hari Jum’at tidak kurang dari 500 an jama’ah memanfaatkan tempat ibadah ini. Masjid yang dianggap aneh, karena berada di negara komunis itu, hingga kini banyak dikunjungi oleh orang-orang muslim yang datang dari luar Rusia, yang kebetulan berkunjung ke kota ini. Tidak kecuali adalah Presiden Megawati Soekarno Putri, dan juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tatkala mengadakan kunjungan kenegaraan ke Rusia juga mendatangi dan shalat di masjid besar di kota tersebut. Setidaknya ada dua hal yang membangggaaan dari mendengarkan kisah Masjid Biru di Fetersburg tersebut. Pertama, pengaruh bangsa Indonesia melalui Presiden Soekarno, di mata pimpinan pemerintah Uni soviet sedemikian besar. Korscep yang sangat tidak menyukai agama ternyata harus mengikuti kemauan tamunya, ialah Presiden Soekarno. Kedua, saya menganggap bahwa Ir Soekarno sebagai Presiden ketika itu sedemikian berani dan sekaligus sedemikian tinggi kepedulian nya terhadap Islam. Pernyataan Presiden Soekarno terkait dengan pentingnya masjid yang disampaikan di hadapan pimpinan negara yang membenci tempat ibadah, terasa membanggakan sekali dan perlu ditauladani. Menurut informasi yang saya dapatkan, pada akhir-akhir ini, perkembangan Islam di kota Petersburg cukup pesat. Diperkirakan hingga saat ini sudah tidak kurang dari 10 % penduduknya menganut agama Islam. Sebagian besar masih merupakan pemeluk Kristen Ortodok. Masjid al Amien atau Masjid Biru, selain digunakan untuk shalat berjama’ah pada setiap waktu, juga digunakan shalat Jum’at. Bangunan masjid tersebut cukup indah, besar, dan tampak terawat. Mengunjungi tempat ibadah di kota besar, modern, dan apalagi berada di negeri yang memiliki sejarah, di mana agama dianggap sebagai musuh, namun ternyata mulai berkembang, rasanya sangat bahagia sekali. Selain itu, dari kunjungan dan sejarah masjid itu juga menyadarkan bahwa sebenarnya tugas dakwah bagi kaum muslimin di mana saja masih terbentang luas yang semestinya harus ditunaikan. Oleh karena itu, seharusnya para tokoh Islam, pada setiap waktu, selalu mau memikirkan bagaimana menyebarkan ajaran agama yang dipeluknya, hingga sampai pada masyarakat yang pada awalnya membenci itu. Keberanian Soekarno menyampaikan pandangannya kepada Presiden Uni Soviet, tentang betapa pentingnya tempat ibadah bagi ummat Islam, adalah menjadi sesuatu yang tentu, sebagai luar biasa. Apa yang dilakukan oleh Soekarno, adalah contoh dari seorang muslim dengan berani dan arif, dalam mengenalkan agamanya kepada orang yang berkuasa dan secara jelas diketahui membencinya. Wallahu a’lam. Moscow, 5 Nopember 2010
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
