Friday, 19 June 2026
above article banner area

Ketulusan Orang Desa

Tidak sedikit orang mengira,  bahwa kehidupan di desa adalah selalu tertinggal, terbelakang dan rendah. Padahal sebenarnya tidak selalu begitu. Banyak hal-hal yang justru menyenangkan dari kehidupan orang yang jauh dari kota itu. Kehidupan orang desa masih diliputi oleh suasana gotong royong, saling menghargai dan menghormati antar sesama. Mereka saling mengenal dengan baik. Kita saksikan setiap ketemu mereka menyapa dengan akrab.

  Pada hari libur kemarin (hari Imlek), saya melihat   masjid  yang proses pembangunannya sedang berjalan.  Ada dua buah masjid yang kebetulan saya ikut  terlibat mengurusnya. Keduanya tidak terlalu jauh letaknya.    Yang satu sudah beberapa lama dikerjakan dan yang satunya lagi  baru dimulai. Keduanya berada di lingkungan pedesaan.   Saya menyenangi ikut ambil bagian dalam membangun masjid, sehingga sampai hari ini, ——seingat saya,  belum pernah jeda menjadi anggota panitia pembangunan  mushalla atau masjid dari tempat satu ke tempat lainnya. Selesai yang satu ada saja yang mengajak menjadi panitia lagi lainnya, sekalipun peran itu  tidak  sebagai penentu.    Selama ini  menjadi panitia pembangunan mushalla atau masjid, seolah-olah   sebagai tugas rutin yang tidak pernah berhenti.  Keterlibatan dalam hal pembangunan tempat ibadah memang menyenangkan. Dalam pembangunan masjid,  selalu saya lihat ada  orang-orang yang  bekerja secara tulus, ikhlas, rukun. Oleh karenanya,  saya selalu pesan, jika ingin bekerja dengan banyak orang, tetapi selalu diliputi oleh suasana tulus, damai dan tenang, maka ikut saja sebagai panitia pembangunan  masjid atau mushalla.   Ikut membangun masjid atau mushalla, ——bagi saya sendiri, selalu mengingatkan pesan orang tua saya yang disampaikan secara berulang-ulang. Beliau  berpesan bahwa : “kalau kamu sudah dewasa dan berhasil  mendapatkan rizki sendiri, maka jangan lupa membangun masjid. Syukur kalau masjid yang kamu  bangun berukuran besar, agar bisa menampung banyak orang. Tetapi kalau tidak mampu, maka membangun mushalla kecipun tidak mengapa.   Selanjutnya, umpama  kamu miskin, ——menjadi miskin tidak mengapa asal kamu tetap beriman dan beramal shaleh, maka bantulah orang-orang yang membangun masjid. Bantulah dengan uang jika kamu punya. Tetapi kalau tidak punya, misalnya kamu terlalu miskin,  maka bantulah  dengan tenagamu.  Namun,  jika kamu terlalu miskin dan lemah, maka  jangan lupa, kamu harus  menjadi isinya masjid, yaitu shalat berjamaáh di tempat ibadah itu.   Pesan sederhana itulah yang selalu mengingatkan dan sekaligus mendorong saya menyukai terlibat dalam pembangunan masjid atau mushalla.  Saya  bersyukur selama ini ada saja orang yang mengajak  terlibat dalam pembangunan tempat ibadah. Namun,  oleh karena keterbatasan yang ada, maka ajakan itu tidak semua bisa saya penuhi, karena masih terlibat pada pembangunan  di tempat lainnya.   Pelajaran menarik yang saya peroleh dari hari libur kemarin, —— ketika berkunjung ke lokasi pembangunan masjid, di antaranya adalah ketulusan, keikhlasan, dan kebersamaan orang-orang desa. Tanpa diminta dan atau dikomando mereka datang membantu, baik  berupa tenaga atau bahan-bahan bangunan yang diperlukan.  Bantuan itu  adakalanya tidak seberapa, tetapi ada suasana tulus dan ikhlas.  Mereka merasakan  bahwa keikut-sertaannya sebagai kewajiban.  Padahal di antara mereka,  dikenal belum  terbiasa  dengan kegiatan keagamaan.   Partisipasi orang desa itu menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sadar bahwa keberadaan tempat ibadah adalah penting . Kesadaran keberagamaan tersebut  ditunjukkan melalui kepedulian mereka terhadap pembangunan  tempat ibadah itu. Di lingkungan masjid yang sedang dibangun  itu masih banyak berkeliaran anjing peliharaan.  Padahal banyaknya orang memelihara anjing, biasanya menjadi petunjuk bahwa suasana keberagamaan di tempat itu tidak terlalu subur. Tetapi anehnya, mereka sangat antuisias dalam pembangunan itu.  Beberapa pengalaman selama ini, bawa bangunan mushala atau masjid menjadikan  masyarakat  di sekelilingnya semakin baik.  Lingkungan tempat ibadah biasanya memiliki kekuatan pengubah masyarakat yang luar biasa.  Kebiasaan  melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti berjudi, meminum minuman keras dan bahkan  hubungan laki-laki dan perempuan terlalu bebas, dengan kehadiran masjid atau mushalla,  maka akan  hilang dengan sendirinya . Oleh karena itu, saya berkesimpulan  bahwa mendekatkan masyarakat dengan tempat ibadah adalah merupakan cara terbaik  untuk membangun masyarakat.   Sedangkan selama ini,  membangun tempat ibadah,  tidak pernah mengalami kesulitan. Dalam keadaan apapun, pembangunan tempat ibadah, jika sudah dimulai, maka  lama kelamaan akan terselesaikan. Pembangunan tempat ibadah, ——apalagi di pedesaan, akan dikerjakan secara bersama-sama,  tulus dan ikhlas. Sehingga di tempat-tempat itulah kedamaian lebih  bisa dirasakan  daripada di kantor-kantor dan apalagi ruang sidang parlemen, sebagaimana yang kita lihat  akhir-akhir ini. Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *