Tidak sedikit orang mengira, bahwa kehidupan di desa adalah selalu tertinggal, terbelakang dan rendah. Padahal sebenarnya tidak selalu begitu. Banyak hal-hal yang justru menyenangkan dari kehidupan orang yang jauh dari kota itu. Kehidupan orang desa masih diliputi oleh suasana gotong royong, saling menghargai dan menghormati antar sesama. Mereka saling mengenal dengan baik. Kita saksikan setiap ketemu mereka menyapa dengan akrab.
Pada hari libur kemarin (hari Imlek), saya melihat masjid yang proses pembangunannya sedang berjalan. Ada dua buah masjid yang kebetulan saya ikut terlibat mengurusnya. Keduanya tidak terlalu jauh letaknya. Yang satu sudah beberapa lama dikerjakan dan yang satunya lagi baru dimulai. Keduanya berada di lingkungan pedesaan. Saya menyenangi ikut ambil bagian dalam membangun masjid, sehingga sampai hari ini, ——seingat saya, belum pernah jeda menjadi anggota panitia pembangunan mushalla atau masjid dari tempat satu ke tempat lainnya. Selesai yang satu ada saja yang mengajak menjadi panitia lagi lainnya, sekalipun peran itu tidak sebagai penentu. Selama ini menjadi panitia pembangunan mushalla atau masjid, seolah-olah sebagai tugas rutin yang tidak pernah berhenti. Keterlibatan dalam hal pembangunan tempat ibadah memang menyenangkan. Dalam pembangunan masjid, selalu saya lihat ada orang-orang yang bekerja secara tulus, ikhlas, rukun. Oleh karenanya, saya selalu pesan, jika ingin bekerja dengan banyak orang, tetapi selalu diliputi oleh suasana tulus, damai dan tenang, maka ikut saja sebagai panitia pembangunan masjid atau mushalla. Ikut membangun masjid atau mushalla, ——bagi saya sendiri, selalu mengingatkan pesan orang tua saya yang disampaikan secara berulang-ulang. Beliau berpesan bahwa : “kalau kamu sudah dewasa dan berhasil mendapatkan rizki sendiri, maka jangan lupa membangun masjid. Syukur kalau masjid yang kamu bangun berukuran besar, agar bisa menampung banyak orang. Tetapi kalau tidak mampu, maka membangun mushalla kecipun tidak mengapa. Selanjutnya, umpama kamu miskin, ——menjadi miskin tidak mengapa asal kamu tetap beriman dan beramal shaleh, maka bantulah orang-orang yang membangun masjid. Bantulah dengan uang jika kamu punya. Tetapi kalau tidak punya, misalnya kamu terlalu miskin, maka bantulah dengan tenagamu. Namun, jika kamu terlalu miskin dan lemah, maka jangan lupa, kamu harus menjadi isinya masjid, yaitu shalat berjamaáh di tempat ibadah itu. Pesan sederhana itulah yang selalu mengingatkan dan sekaligus mendorong saya menyukai terlibat dalam pembangunan masjid atau mushalla. Saya bersyukur selama ini ada saja orang yang mengajak terlibat dalam pembangunan tempat ibadah. Namun, oleh karena keterbatasan yang ada, maka ajakan itu tidak semua bisa saya penuhi, karena masih terlibat pada pembangunan di tempat lainnya. Pelajaran menarik yang saya peroleh dari hari libur kemarin, —— ketika berkunjung ke lokasi pembangunan masjid, di antaranya adalah ketulusan, keikhlasan, dan kebersamaan orang-orang desa. Tanpa diminta dan atau dikomando mereka datang membantu, baik berupa tenaga atau bahan-bahan bangunan yang diperlukan. Bantuan itu adakalanya tidak seberapa, tetapi ada suasana tulus dan ikhlas. Mereka merasakan bahwa keikut-sertaannya sebagai kewajiban. Padahal di antara mereka, dikenal belum terbiasa dengan kegiatan keagamaan. Partisipasi orang desa itu menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sadar bahwa keberadaan tempat ibadah adalah penting . Kesadaran keberagamaan tersebut ditunjukkan melalui kepedulian mereka terhadap pembangunan tempat ibadah itu. Di lingkungan masjid yang sedang dibangun itu masih banyak berkeliaran anjing peliharaan. Padahal banyaknya orang memelihara anjing, biasanya menjadi petunjuk bahwa suasana keberagamaan di tempat itu tidak terlalu subur. Tetapi anehnya, mereka sangat antuisias dalam pembangunan itu. Beberapa pengalaman selama ini, bawa bangunan mushala atau masjid menjadikan masyarakat di sekelilingnya semakin baik. Lingkungan tempat ibadah biasanya memiliki kekuatan pengubah masyarakat yang luar biasa. Kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti berjudi, meminum minuman keras dan bahkan hubungan laki-laki dan perempuan terlalu bebas, dengan kehadiran masjid atau mushalla, maka akan hilang dengan sendirinya . Oleh karena itu, saya berkesimpulan bahwa mendekatkan masyarakat dengan tempat ibadah adalah merupakan cara terbaik untuk membangun masyarakat. Sedangkan selama ini, membangun tempat ibadah, tidak pernah mengalami kesulitan. Dalam keadaan apapun, pembangunan tempat ibadah, jika sudah dimulai, maka lama kelamaan akan terselesaikan. Pembangunan tempat ibadah, ——apalagi di pedesaan, akan dikerjakan secara bersama-sama, tulus dan ikhlas. Sehingga di tempat-tempat itulah kedamaian lebih bisa dirasakan daripada di kantor-kantor dan apalagi ruang sidang parlemen, sebagaimana yang kita lihat akhir-akhir ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
