Islam hadir di muka bumi ini adalah untuk menjadikan ummatnya unggul, selamat di dunia dan juga selamat di akherat. Keyakinan seperti ini selalu ada pada benak kaum muslimin. Islam menjadi konsep atau jalan hidup yang ideal.
Hanya saja dalam tataran empirik, gambaran tersebut belum tampak secara merata. Banyak negara yang penduduknya beragama Islam, ternyata tertinggal dari mereka yang beragama lain, baik dari ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, pendidikan dan lain-lain. Atas kenyataan itu maka banyak orang bertanya, mengapa hal itu terjadi. Bukankah Islam membimbing ummatnya sejak pagi-pagi buta sudah bangun dari tidur, mengambil air wudhu dan kemudian menuju ke masjid untuk shalat bersama-sama. Di tempat itu, mereka sudah saling bertemu dan berkomunikasi, hingga memungkinkan membangun kerjasama sebagai pintu kemajuan dan keunggulan. Bertemu dalam kegiatan ritual itu dilakukan setidak-tidaklnya lima kali dalam sehari semalam. Demikian pula pada setiap minggu sekali melakukan shalat Jumát. Selain itu, sebulan penuh dalam setiap tahun, ummat Islam dipertemukan pada kegiatan puasa. Pertemuan lainnya dalam kegiatan zakat, hingga menyatukan antara yang kaya dan yang miskin. Islam mendorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Ayat yang pertama kali diturunkan dalam al Qurán adalah perintah membaca. Siapapun yang pandai membaca akan mendapatkan keuntungan. Orang yang pintar membaca peluang ekonomi, sosial, politik, dan apa saja, maka mereka akan menempati posisi-posisi penting, dan akhirnya dari posisi itu akan mendapatkan keuntungan. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, juga mengajarkan tentang watak atau perilaku yang unggul dan mulia. Islam mengajarkan tentang tauhid, yaitu hanya mengakui Allah sebagai tuhannya. Islam juga mengajarkan agar selalu menjaga kepercayaan dan senantiasa membersihkan pikiran, jiwa, dan raganya. Keadilan sebagai dasar tegaknya masyarakat selalu diperintahkan oleh Islam untuk dipelihara. Dalam tarekh Islam, bahwa sebelum nabi datang, masyarakat Arab terdiri atas suku-suku atau kabilah-kabilah. Antar mereka saling berkompetisi dan bahkan memperebutkan sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan. Mereka yang menang justru akan menindas terhadap yang lemah. Terjadi perbudakan di mana-mana. Manusia dijual belikan, sehingga harkat dan martabat makhluk yang dimuliakan oleh Allah ini disejajarkan binatang dan bahkan lebih rendah. Dengan demikian maka bisa dibayangkan betapa rendahnya manusia, pada saat itu terdapat pasar budak. Islam hadir untuk mengubah keadaan itu semua agar terjadi keadilan. Selanjutnya untuk memperkokoh pribadi seseorang, maka Islam memberikan tuntunan untuk menjalankan ritual. Islam menuntun ummatnya selalu ingat pada Tuhan dengan cara selalu berdzikir, shalat lima waktu sehari semalam, berpuasa di bulan ramadhan, zakat dan menunaikan haji. Semua itu adalah sebagai instrument untuk meningkatkan kualitas pribadi ummatnya. Menjadi Islam artinya secara pribadi menjadi kokoh. Islam menganjurkan untuk selalu beramal shaleh. Beramal shaleh artinya bekerja secara benar, lurus, tepat atau professional. Tuntutan masyarakat modern agar setiap orang dalam bekerja selalu dilakukan atas dasar pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang matang. Hal yang demikian itu, ternyata diajarkan oleh Islam secara jelas. Sebaliknya, Islam melarang berbuat sirik, bersikap pura-pura atau munafiq, malas, berbuat jahat, menipu atau berbuat bohong. Islam tidak menghendaki ummatnya bodoh dan sebatas memenuhi kebutuhan sendiri diperoleh dengan cara meminta-minta. Islam selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Jika demikian itu, maka mana yang salah dari Islam. Sudah barang tentu tidak ada, Islam membawa kebenaran dan keunggulan harkat dan martabat manusia. Oleh karena itu bisa jadi, —–selama ini, tatkala ummat Islam tidak maju, bukan karena ajaran agamanya, melainkan banyak di antara mereka dalam menangkap ajaran agamanya masih kurang sempurna. Dan, lebih-lebih dalam mengimplementasikannya. Islam mestinya menjadi kekuatan penggerak untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menumbuhkembangkan semangat untuk menjalani hidup terbaik, bekerjasama, menghargai orang, peduli sesama dan selalu mengedepankan akhlak yang mulia. Jika hal itu benar-benar dilalui sebagai jalan hidup, maka ummat Islam akan maju, unggul, dan selalu memimpin peradaban ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
