Di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, terdapat tiga perguruan tinggi yang berbasis agama, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Sekolah Tingggi Agama Hindu Negeri (STAHN) dan Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN). Ketiga-tiganya berada di bawah pembinaan kementerian agama. Hanya di Palangkaraya ini saja satu-satunya kota di Indonesia terdapat beberapa perguruan tinggi berbasis agama, milik pemerintah yang paling lengkap.
Pada hari Sabtu tanggal 9 April 2011 kemarin, saya diundang oleh ketua STAIN Palangkaraya untuk memberikan ceramah pada acara workshop tentang penelitian sosial dan kaitannya dengan penelitian agama. Pesertanya juga melibatkan para dosen dari ketiga perguruan tinggi agama tersebut. Hal demikian menunjukkan ada kerjasama dan kekompakan yang mendalam. Saya tidak tahu hal yang terjadi di hati mereka masing-masing, tetapi mudah-mudahan apa yang saya lihat dari luar menggambarkan hal yang sebenarnya. Dari ketiga perguruan tinggi itu tidak tampak persaingan, masing-masing merasa memiliki tanggung jawab membina ummatnya. Pimpinan perguruan tinggi agama dan dosen masing-masing merasa berkewajiban membina ummatnya di luar kampus, atau masyarakat luas. Sudah dua kali saya diundang untuk mengisi kegiatan ilmiah di Palangkaraya. Pertama, tahun yang lalu diundang oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STKEN) untuk memberikan kuliah umum di hadapan para dosen dan mahasiswa. Pada kesempatan itu kemudian saya diundang singgah ke STAIN untuk bersilaturrahmi. Kebetulan, Ketua STAHN, ketika itu tidak ada di tempat, tetapi dikabari bahwa saya ada di kota itu. Demikian pula kemarin, ketika saya datang ke STAIN Palangkaraya, segera Ketua STAHN dan STAKN diberi informasi. Namun keduanya sedang di luar kota sehingga tidak bisa bertemu. Ketua STAHN sedang berkunjung ke kota Kapuas untuk memberikan pembinaan terhadap ummat Hindu di kota itu. Sedangkan ketua STAKN sedang di Manado. Kekompakan seperti itu rupanya sengaja dibina dan dikembangkan oleh masing-masing pimpinan perguruan tinggi agama tersebut, sehingga terbangun tradisi kebersamaan di antara mereka, siapapun yang sedang menjabat sebagai pimpinannya di masing-masing kampus tersebut. Kebiasaan baik seperti itu dibangun untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan di antara ummat yang berbeda-beda agamanya. Rupanya pembinaan kerukunan dan kebersamaan itu dimulai dari hal yang kecil dan sederhana, misalnya setiap kali ada kegiatan yang melibatkan orang luar, maka masing-masing selalu mengundang. Undangan resmi dikirim melalui surat, tetapi kadang masih dianggap tidak cukup, maka disusul dengan tilpun. Bahkan menurut informasi ketua STAIN Palangkaraya, surat undangan kadangkala diserahkan sendiri oleh ketuanya ke rumah. Ketua STAKN Palangkaraya selalu melakukan hal seperti itu. Hal yang saya anggap aneh juga saya rasakan, yaitu ketika Ketua STAKN Palangkaraya mengundang saya ke kampusnya untuk memberikan kuliah umum, maka surat undangannya diantar sendiri ke rumah saya di Malang. Tatkala itu, saya menanyakan kenapa surat undangan diantar sendiri, bukankah bisa dikirim melalui faksimail, e mail, atau dikirim melalui post. Apalagi bahwa sebelumnya, sudah konfirmasi melalui tilpun. Pertanyaan saya dijawab, bahwa beliau ingin tahu, surat undangan tersebut benar-benar sudah saya terima. Komunikasi intensif seperti itu adalah bagian penting dari upaya membangun kebersamaan, kekompakan dan kerjasama di antara komunitas yang berbeda. Kiranya apa yang dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi agama, ——Islam, Kristen dan Hindu, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini, bisa dijadikan sebagai laboratorium pembinaan kerukunan ummat bergama di negeri yang berdasar Pancasila ini. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
