Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Menulis Berita dan Artikel Keagamaan

Menulis adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, terutama  bagi orang yang telah terbiasa melakukannya. Dan demikian pula sebaliknya, bagi orang yang tidak biasa, terasa tersiksa tatkala mendapatkan tugas menulis.  Bagi orang yang memiliki hobi memberi sesuatu kepada orang lain, maka  menulis  menjadi sama artinya dengan telah menyalurkan hobinya itu.

  Asal sudah ada kemauan,  menulis bukan pekerjaan yang sulit. Kegiatan itu sama saja dengan bercakap-cakap sehari-hari.  Kemudahan itu menjadi lebih  terasa  lagi  tatkala alat tulis menulis modern sudah tersedia,  yaitu berupa computer yang ada di rumah, di kantor dan bahkan alat itu bisa dibawa ke mana-mana.  Sekarang ini, tidak sebagaimana zaman dulu sebelum alat tulis tersebut  ditemukan dan tersedia, menulis menjadi sedemikian mudah. Sebelum ada computer, tatkala seseorang  mau menulis, maka   harus mencari  kertas, pulpen, penghapus, atau mesin ketik.   Sekarang ini asalkan mau, kegiatan tulis menulis   selain    mudah dan juga  bisa cepat dilakukan. Setelah ada laptop,  IPAD dan bahkan dengan HP pun bisa digunakan menulis, maka orang bisa menuangkan ide dan gagasannya di mana saja . Mungkin sekarang ini, yang sulit adalah membuat orang mau menulis. Ibarat makanan, sekarang ini  sudah sedemikian banyak tersedia makanan  di mana-mana. Yang diperlukan adalah nafsu makan, yang  dalam konteks  ini adalah kemauan atau semangat menulis.   Orang yang punya semangat,   atau hobi  menulis,   sekarang ini sebenarnya  telah menemukan momentumnya.  Sedemikian mudah hobi itu disalurkan dan juga menyampaikan hasilnya kepada khalayak luas. Untuk mempublikasikan  hasil tulisan, selain tersedia media massa seperti koran, majalah,  maka  juga telah terdapat website, facebook, scrib dan lain-lain. Kita tidak bisa membayangkan para ilmuwan atau ulama pada  zaman dulu, sekalipun alat-alat semacam itu belum tersedia, tetapi mereka telah berhasil menulis buku-buku tebal yang bisa kita warisi hingga sekarang.   Memperhatikan kenyataan itu, maka sebenarnya yang perlu dikembangkan adalah kemauan untuk menulis. Tatkala ada kemauan maka dalam keadaan apapun, kemauan itu  bisa tersalurkan. Begitu pula sebaliknya, manakala kemauan itu tidak ada, sekalipun telah tersedia alat-alat canggih dan mudah didapat, maka  alat-alat  tersebut tidak akan ada artinya apa-apa.  Menumbuhkan Kemauan Menulis Kemauan atau iradah  adalah milik Tuhan. Manusia tidak memilikinya.  Oleh karena itu dalam kenyataan sehari-hari,  ada orang yang memiliki kemauan keras, tetapi sebaliknya  ada pula orang yang sama sekali tidak memilikinya.  Orang  yang memiliki kemampuan dan kemauan keras   itu  disebut sebagai telah dikaruniai pembawaan atau bakat. Orang yang dikaruniai hal itu, ——–kemauan keras atau bakat menulis,  maka akan mudah mengembangkannya dan demikian pula sebaliknya.   Melihat  kenyataan itu, saya memiliki keyakinan bahwa kemauan itu bisa diminta kepada pemilik-Nya, yaitu  dengan cara berdoa. Pertemuan untuk mengembangkan kemampuan tulis-menulis yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Jawa Timur  seperti pada saat sekarang ini  adalah penting dilakukan, walaupun  tidak selalu  kemudian  dengan serta merta berhasil menumbuhkan kemauan  menulis sebagaimana yang diharapkan.   Para ulama atau ilmuwan terdahulu  sekalipun dalam  keterbatasannya, telah  melakukan penulisan buku dalam jumlah banyak dan tebal-tebal, oleh karena mereka dikaruniai kemauan oleh Dzat Yang Maha Memilikinya itu. Sedangkan banyak orang justru pada saat alat-alat canggih telah tersedia tidak memiliki kemauan menulis. Maka pertemuan seperti  ini, saya pahami merupakan sebagai bagian dari doa atau permohonan kepada Allah swt., agar diberikan kemauan, baik untuk  menulis berita atau naskah keagamaan.   Cara memohon atau berdoa juga bisa dilakukan dengan melihat dan membaca buku-buku yang pernah ditulis oleh banyak penulis. Dengan melihat dan membaca banyak  buku, kalau memang kemudian diberi oleh Tuhan, maka kemauan itu akan muncul. Oleh karena itu, saya lebih suka mengajak untuk  memohon kepada Allah swt., agar dikaruniai semangat atau kemauan,  sebagai penyempurna dari usaha yang  bisa dilakukan. Kemauan yang mulia itu  hanya milik  Allah, sedangkan manusia   tidak memiliki, kecuali mereka  yang diberi oleh-Nya.  Membangun Ide atau Gagasan yang Akan Ditulis Tatkala kemauan menulis sudah muncul, maka persoalan berikutnya adalah bagaimana menemukan ide atau gagasan yang akan ditulis. Seringkali ada saja orang mengeluh, karena kekurangan ide atau bahan yang akan ditulis. Padahal tatkala  seseorang sedang menghadapi kekurangan ide itu sebenarnya ia sudah memiliki ide yang bagus untuk  ditulis, yaitu ide tentang bagaimana suasana pikiran tatkala sedang  tidak memiliki  ide itu.   Terlalu banyak hal yang ada  di sekitar kita yang perlu ditulis. Sebagai seorang muslim, lebih-lebih para pejabat di kementerian yang bertugas memberikan penerangan agama, maka  ada dua sumber pengetahuan yang bisa digali  untuk selanjutnya ditulis, yaitu ayat-ayat qawliyah berupa al Qurán dan hadits nabi dan ayat-ayat kawniyah yaitu alam semesta ini.  Sebagai seorang muslim yang memiliki kesadaran untuk berbagi dan peduli kepada orang lain, maka ada saja pengetahuan, pemikiran, pandangan,  gagasan yang bersumberkan dari ayat-ayat qawliyah dan kawniyah tersebut untuk  dibagikan kepada orang lain melalui tulisan. Sumber-sumber itu tidak akan pernah kering atau habis,  dan selalu bermanfaat bagi banyak orang.   Namun demikian, saya seringkali  masih  diminta  untuk memberikan  jawaban yang lebih konkrit bagaimana mendapatkan ide atau gagasan yang akan ditulis.  Atas pertanyaan itu saya selalu menjawab bahwa  pikiran, pandangan atau  ide seseorang sebenarnya tergantung pada dua hal saja, yaitu pada kualitas pergaulan dan bacaannya sehari-hari. Dua hal itulah sebenarnya yang mempengaruhi produk-produk ide seseorang.   Seseorang yang pergaulan dan bacaannya terbatas, maka ide yang dimiliki juga akan terbatas, dan demikian pula sebaliknya. Orang yang  banyak bergaul dan bacaannya luas, maka  akan  selalu memiliki  ide, pikiran,  dan gagasan   yang berkualitas. Semua potensi  itu  akan selalu muncul dari keluasan bacaan dan pergaulannya.   Bagi saya pergaulan  yang tidak boleh ditinggalkan adalah  dengan Dzat  Yang Maha Kuasa dan demikian pula bacaan yang paling berkualitas dan tidak boleh dilupakan adalah kitab suci yang disampaikan lewat Rasul-Nya. Pergaulan dengan Dzat Yang Maha Kuasa dilakukan dengan cara menjalankan kegiatan ritual  sehari-hari, sedangkan bacaan yang tidak boleh ditinggalkan adalah kitab suci al Qurán. Melalui dua cara itu, maka ide atau gagasan akan selalu muncul pada setiap saat dan kemudian ditulisnya.   Sudah barang tentu,  selain dari dua  sumber tersebut, hal yang bersifat lebih teknis, bisa diperoleh  melalui  kegiatan  silaturrahiem dengan banyak orang dan juga membaca karya-karya mereka berupa tulisan atau lainnya. Dengan cara itu, maka siapapun tidak akan kekurangan ide yang sekiranya perlu dibagi melalui tulisan sehari-hari.   Menuangkan Ide atau Gagasan Dalam Bentuk Tulisan Sebenarnya telah banyak petunjuk tentang bagaimana menulis berita dan  atau artikel, termasuk artikel keagamaan. Tulisan-tulisan semacam itu dengan mudah bisa didapatkan di mana-mana. Pada saat sekarang ini,   pengetahuan teknis tentang hal itu  sudah membanjir, sehingga   dengan  sangat mudah bisa ditemukan di mana-mana. Selain melalui buku, petunjuk-petunjuk berupa diktat,  juga bisa didapatkan melalui google, website, scribb dan lain-lain.  Membaca petunjuk atau pedoman tata cara menulis  adalah  penting dilakukan.  Akan tetapi tatkala sedang menulis, ——menurut pengalaman saya, terlalu mengingat-ingat pedoman yang seharusnya diikuti,  justru menghambat kelancaran dalam menulis. Dengan terlalu  banyak mengingat petunjuk dan pedoman yang seharusnya diikuti,  maka ide-ide yang orisinal menjadi tidak keluar dengan lancar, tulisan menjadi kaku,  sehingga hasil tulisannya  kadang menjadi  kurang  komunikatif, sehingga menjadi sulit dipahami maksudnya.   Selama ini saya lebih menyukai menulis apa yang saya tahu dan dengan cara saya sendiri. Tatkala menghadap computer untuk menulis, maka saya memulainya dari  apa yang saya  tahu  dan atau ingat. Tatkala sedang menulis, saya selalu membayangkan bahwa yang ada di depan saya bukan saja computer, melainkan  seolah-olah terdapat  banyak orang yang sedang saya ajak berdialog dan beri penjelasan.   Dengan cara membayangkan bahwa di depan saya  ada banyak orang yang saya ajak berdialog, berbicara, berbagi-bagi pengetahuan, maka  pekerjaan menulis itu  menjadi  jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada harus mengingat-ingat tata cara menulis,  mengatur sistematika tulisan,  dan apalagi harus sibuk menata bahasanya. Tatkala sedang menulis, saya tidak mempedulikan pernik-pernik aturan yang harus saya ikuti. Bagi saya, yang penting, bahwa orang-orang yang seolah-olah ada di depan saya menjadi mengerti dan paham terhadap apa yang saya bicarakan lewat tulisan itu.   Mengikuti  pedoman tentang tulis menulis, apapun memang perlu,  lebih-lebih tatkala menulis artikel atau karya ilmiah.  Akan tetapi yang jauh lebih penting dari itu ialah bahwa  tulisan yang dibuat hendaknya komunikatif, artinya  dari tulisan itu  berhasil digunakan untuk menyampaikan idea tau gagasan  yang dimaksud.  Akan tetapi  yang perlu diingat bahwa, sebenarnya ada seni  dalam tulis menulis, yaitu di antaranya  seni menyampaikan ide atau gagasan, seni memilih kata, menyusun kalimat dan lain-lain, sehingga  dengan demikian,  masing-masing orang memiliki ke khasannya sendiri-sendiri.    Sudah barang tentu, cara yang selama ini saya gunakan tidak selalu sama dengan yang dilakukan oleh banyak orang. Pada setiap pagi, setelah selesai shalat subuh dan membaca al Qurán beberapa halaman, saya memulai menulis. Kegiatan itu biasanya  saya lakukan antara setengah sampai satu jam dan kemudian saya posting melalui website dan  facebook, agar sekiranya dibaca oleh mereka  yang berminat membacanya.    Akhirnya,  demikian itulah pengalaman menulis yang selama ini saya lakukan, sebagai bagian dari kegiatan rutin sehari-hari pada setiap pagi bakda subuh.  Oleh karena kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan dan bahkan kesenangan, maka saya lakukan dengan mudah. Bahkan terasa ada sesuatu yang kurang atau hilang,  tatkala misalnya saya tidak menulis. Menurut hemat saya,  sesuatu  pekerjaan akan menjadi   mudah dan menyenangkan  apabila  sudah terbiasa dijalankan. Seseorang akan mendapatkan kesenangan dari menulis kalau sehari-hari melakukannya, dan demikian pula sebaliknya, akan terasa tersiksa manakala tidak terbiasa. Maka,  yang lebih penting dari pertemuan seperti ini,  adalah mulai untuk membiasakan menulis.  Wallahu a’lam.  *) Tulisan ini sebagai bahan pengantar diskusi pada Acara Orientasi dan Konsultasi Tenaga Penulis Naskah dan Penerbit Islam,  diselenggarakan oleh Penamas, Kementerian Agama Jawa Timur pada hari Rabu, tanggal 20 April 2011.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *