Monday, 11 May 2026
above article banner area

Strategi Pelaksanaan Pendidikan Agama Pada Anak Dalam Keluarga

Strategi Pelaksanaan Pendidikan Agama Pada Anak Dalam Keluarga. Sejak adanya hubungan antara pria dan wanita, dan mempunyai anak, sejak itu pula sebenarnya keluarga haruis melaksanakan pendidikan kepada anaknya. Namun tidak sedikit orang tua yang merasa gagal dalam mengarahkan serta mendidik anak-anak mereka, sehingga menjadi anak nakal dan jauh dari Tuhannya. Oleh karena itu pendidikan agama penting ditanamkan pada anak sejak dini, dengan harapan anak akan lebih mengenal Allah, yang kemudian diwujudkan dengan mentaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, berbuat baik kepada orang tua, berbuat baik kepada orang lain dan tidak jahat terhadap sesama atau bisa disebut sebagai anak sholeh.

Dalam pembinaan anak-anak dalam  keluarga, satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu cara penyampaian materi. Menurut Sri Harini, strtategi merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan disamping komponen-komponen lainnya seperti pendidik, anak didik, materi/bahan, tujuan, bentuk dan lain-lain. Dalam dunia pendidikan, metode/cara berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyampaikan materi pendidikan dalam rangka mecapai tujuan yang telah ditetapkan.[1]

Seorang pendidik yang bijaksana, sudah barang tentu akan memilih strategi yang efektif yaitu dengan menerapkan dasar-dasar pendidikan yang berpengaruh dalam mempersiapkan anak secara mental dan moral, spiritual dan etos sosial, sehingga anak dapat mencapai kematangan sempurna.

Dalam pembinaan anak-anak  Menurut Abdullah Nasih Ulwan, dalam Al-Quran dan Hadis dapat ditemukan berbagai strategi pendidikan yang berpengaruh terhadap anak. Sedangkan strategi yang baik menururt Al-Qur’sn dan Al-Hadits yaitu dengan memberikan :

  1. Strategi keteladanan
  2. Strategi pembiasaan
  3. Strategi nasihat, yang meliputi:

–          Seruan yang menyenangkan seraya dibarengi dengan kelembutan dan upaya penolakan

–          Cerita disertai perumpamaan dan nasihat

–          Perhatian dan nasihat

  1. Strategi perhatian/pengawasan
  2. Strategi hukuman.[2]

Dalam pembahasan yang sama M. Quthb, mengatakan bahwa Islam melakukan pendidikan melalui teladan, teguran, hukuman, cerita, pembiasaan, dan melalui pengalaman-pengalaman konkret. Sedangkan Fuaduddin, strategi dalam pengasuhan dan pendidikan anak dalam keluarga Islam antara lain melalui pembiasaan, keteladanan, nasihat, dialog, dan melalui pemberian penghargaan atau hukuman.[3]

Mengingat begitu banyaknya strategi pendidikan agama dalam yang digunakan dalam membina anak-anak dalam keluarga, maka penulis memilih beberapa diantaranya yang dianggap lebih tepat diterapkan dalam lingkungan keluarga dalam rangka membentuk anak shaleh antara lain dengnan cara memberikan : Strategi keteladanan, Stretegi pembiasaan, Strategi nasehat, dan Strategi perhatian/ pengawasan.

  1. a.       Strategi Keteladanan

Anak-anak pada usia dini suka meniru apa yang dilakukan orang tua/ pendidik. Oleh karena itu, keteladanan dalam pendidikan merupakan strategi yang berpengaruh dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak. Mengingat orang tua adalah figur terbaik dalam pandangan anak.

Strategi keteladanan menurut Abdullah Nasih Ulwan, menjadi faktor penting dalam menentukan baik-buruknya anak. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka sianak akan tumbuh dalam dalam kejujuran, terbentuk dalam akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebaliknya jika pendidik adalah seorang pembohong, pengkhianat, orang yang kikir, penakut, dan hina, maka sianak akan tumbuh dalam kebohongan, khianat, durhaka, kikir, penakut dan hina.[4]

Pada dasarnya, manusia sangat cenderung memerlukan sosok teladan dan panutan yang mampu mengarahkan manusia pada jalan kebenaran sekaligus menjadi perumpamaan dinamis yang menjelaskan cara mengamalkan ajaran agama. Untuk kebutuhan itulah Allah mengutus Muhammad SAW. Menjadi teladan bagi manusia dalam mewujudkan tujuan pendidikan Islam, melalui firman-Nya surat Al-Ahzab ayat 21:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا(الاحزاب:21)

Arinya:” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”[5]

Telah diakui bahwa Rosulullah merupakan teladan untuk seluruh masa dan untuk selamanya. Namun saat ini perwujudan Rosulullah secara kasat mata tidak ada, maka pendidik dituntut untuk menampakkan sikap-sikap yang dimiliki Rosulullah yang kemudian dicontohkan/ diperlihatkan kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga anak akan memiliki kepribadian dan prilaku yang baik.

Menurut Jalaluddin, fungsi dan peran kedua orang tua sebagai teladan yang terdekat kepada anak telah diakui dalam pendidikan Islam bahkan agama dan keyakinan seorang anak akan dinilai sangat tergantung dari keteladanan para orang tua mereka.[6]

Abdullah Nasih Ulwan, menyimpulkan bahwa memberikan teladan yang baik-baik-dalam pandangan Islam merupakan strategi pendidikan yang paling membekas pada anak didik. Jadi segala sesuatu yang dilakukan orang tua adalah contoh prilaku yang akan ditiru dan dilakukan anak ketika sudah dewasa nanti. Oleh karena itu kedua orang tua harus memberikan contoh yang baik, sebab anak tidak hanya meniru hal-hal yang baik saja tetapi juga hal-hal yang jelek yang pernah dilihatnya.[7]   

  1. b.       Strategi Pembiasaan

Pendidikan kepada anak pra sekolah pada dasarnya lebih diarahkan pada penanaman nilai-nilai moral, pembentukan sikap dan prilaku yang diperlukan agar anak-anak mampu untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Anak-anak usia pra sekolah mempunyai daya tangkap dan potensi sangat besar untuk menerima pengajaran dan pembiasaan dibanding pada usia lainnya.[8]  Oleh karena itu, orang tua dan para pendidik perlu memusatkan perhatian dan pengajaran anak-anak tentang kebaikan dan upaya membiasakannya, sejak ia memulai memahami realita kehidupan ini.

Menurut Ahmad Tafsir inti strategi pembiasaan adalah pengulangan terhadap segala sesuatu yang dilaksanakan atau diucapkan oleh seseorang. Misalnya anak-anak yang dibiasakan bangun pagi dan hidup bersih maka akan menjadi kebiasaannya.[9] Moezlichatun menambahkan agar terjadi pembiasaan tingkah laku yang baik, terlebih dahulu diciptakan iklim sosial yang dapat meningkatkan perasaan saling percaya, karena hanya dalam suasana saling percaya tingkah laku yang baik dapat terjadi.[10]

Jelasnya, perbuatan yang sering diulang melakukannya tentulah akan menjadi kebiasaan, dan bila kebiasaan diulang-ulang terus akhirnya akan menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Yang kemudian termanifestasikan dalam perilaku sehari-hari.

  1. c.        Strategi Nasehat  

Menurut Abdurrahman An-Nahlawi adalah strategi nasihat dan peringatan akan kebaikan dan kebenaran dengan cara menyentuh kalbu dan menggugah untuk mengamalkannya. Sedang nasihat sendiri sajian bahasan tentang kebenaran dan kebajikan dengan maksud mengajak orang yang dinasihati untuk menjauhkan diri dari bahaya dan membimbingnya kejalan yang bahagia. [11]

Didalam menyampaikan pendidikan agama kepada anak-anak strategi ini sangat cocok untuk meluruskan pemikiran-pemikiran anak yang cenderung memandang sesuatu dengan kaca mata penglihatan dan pemikiran yang masih semu.

Zakiah Darajat mengatakan rasa ingin tahu terhadap sesuatu, yang dapat mengakibatkan mereka kadang-kadang menanyakan tentang Tuhan, neraka, surga, dan sebagainya. Karena sebelum mencapai umur 5 tahun perasaan sianak terhadap Tuhan pada dasarnya negatif.[12]

Sedangkan menurut Abdullah Nasih Ulwan, nasihat dapat membukakan mata anak-anak kepada hakekat sesuatu yang mendorongnya menuju situasi luhur, dan menghiasinya dengan akhlak mulia, dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam. [13]

Bertolak dari uraian diatas, jelaslah bahwa orang tua dalam memberikan  nasihat ini harus menggunakan kata-kata yang halus, yang dapat menyentuh perasaan, sehingga anak tergugah untuk mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan juga nasihat ini disampaikan lewat cerita, kisah, atau perumpamaan.

  1. d.       Strategi Perhatian/ Pengawasan

Yang dimaksud pendidikan dengan perhatian adalah mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan akidah dan moral, persiapan spiritual dan sosial disamping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan daya hasil ilmiah.[14]

Kebutuhan naluri anak terhadap kasih sayang tetap akan mengiringinya sampai kapanpun, lebih-lebih pada usia dini. Kasih sayang ini berupa perhatian orang tua terhadap diri anak-anaknya. Sehingga dengan keterikatan kasih sayang dari orang tua anak akan mudah menerima apa yang diajarkan orang tua. Anak pun akan melaksanakannya karena kepeduliannya tersebut.

Husain Mazhahiri menganjurkan kepada para ayah-pada tingkat dan kedudukan apapun hendaknya menjadikan perhatian terhadap anak-anak mereka sebagai bagian pekerjaan yang mendasar, dan meluangkan waktu setiap hari untuk mereka. [15]

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwasannya anak-anak memerlukan perhatian/pengawasan, hal ini disebabkan anak-anak masih dalam tahap perkembangan yang memerlukan bantuan dan orang lain.



[1] Sri Harini, Mendidik Anak Sejak Dini, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2003, hal. 118-119

[2] Abdullah nasih ulwan, Op. cit., hal. 141-142

[3] Sri Harini, Op. cit.,  hal. 120

[4] Abdullah nasih ulwan, Op. cit., hal. 142

[5] Abdurrahman An-Nahlawi, Op. cit., hal. 260

[6] Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal. 21

[7] Abdullah nasih ulwan, Op. cit., hal. 178

[8] Abdullah nasih ulwan, Ibid, hal. 203

[9] Ahmad Tafsir, Op. Cit., hal. 144

[10] Sri Harini Op. cit., hal. 127

[11] Abdurrahman An-Nahlawi, Op. cit., hal. 289

[12] Zakiah darajad, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1989, hal. 35

[13] Abdullah nasih ulwan, Op. cit., hal. 209

[14] Abdullah nasih ulwan, Ibid, hal. 275

[15] Husain Mazhahiri, Pintar Mendidik Anak, Lentera, Jakarta, 2002, hal. 139

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *