Keutamaan Solat Sunnah Rawatib
Muhammad Zidan Maulana
210254528464
PEMBAHASAN
Solat menurut etimologi berarti doa,menurut syara’menyembah Allah SWT dengan beberapa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Selain melaksanakan shalat fardhu, umat Muslim sebaiknya juga melaksanakan shalat sunat rawatib guna meningkatkan amalannya. Adapun orang yang mendirikan shalat, namun tidak terikat dengan awal waktu, dasar tolak ukur hidup mereka adalah ditentukan oleh permasalahan selain Allah. Dan ketika masuk waktu shalat mereka mendirikannya, namun terkadang di awal waktu, pertengahan dan atau diakhirnya, permasalahan ini sudah sangat merendahkan dan meremehkan sholat itu sendiri sebagai tiang dan pondasi agama bahkan merupakan rukun Islam bagi setiap muslim.
Rasullah saw. bersabda, “bagi muslim yang mendirikan solat sunnah setiap hari sebanyak dua belas rakaat akan di bangunkan rumah disurga oleh allah.” Pada hadis lain, “siapa yang konsisten melaksanakan dua belas rakaat sehari semalam, pasti masuk surga. Yaitu, empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah magrib, dua rakaat sesudah isya,dan dua rakaat sebelum subuh.
Rangkaian solat sunnah ini disebut shalat rawatib karena dikerjakan mengiringi solat fardhu. Ada dua macam shalat rawatib:
- a. Qabliyyah adalah solat sunnah yang dikerjakan sebelum solat wajib (2 rakaat sebelum solat subuh, 2 rakaat sebelum zuhur, 2 atau 4 rakaat sebelum asar, dan 2 rakaat sebelum isya).
Niatnya: ىلاعت ةلبقلا لبقتسم ةیلبق نیتعكررھظلا ةنس ىلصا
Artinya: Aku niat melakukan solat sunat sebelum dzuhur 2 rakaat, sambil menghadap qiblat karena
Allah ta’ala
*Kata zuhur diganti sesuai dengan shalat wajib yang akan di kerjakan
- Ba’diyyah adalah shalat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah shalat fardhu (2 atau 4 rakaat sesudah zuhur, 2 rakaat sesudah magrib, dan 2 rakaat sesudah isya).
Niatnya : ىلاعت ةلبقلا لبقتسم ةیلبق نیتعكر حبصلا ةنس ىلصا
Artinya: 5 Aku niat melakukan solat sunat sebelum subuh 2 rakaat, sambil menghadap qiblat karena Allah ta’ala
*kata “zuhur” diganti sesuai dengan solat wajib yang telah dikerjakan
Dan dengan demikian seseorang akan merasa bahwa setiap permasalahan duniawi yang datang, akan lebih ia dahulukan ketimbang mengerjakan shalat. Seperti di tengah pekerjaan, makanan sudah dihidangkan, dikarenakan teman atau tamu yang bertandang kerumah dan lain sebagainya dari permasalahan dunia yang menyebabkan kita lalai dan tidak mengerjakannya di awal waktu.
Hal-hal seperti itu tidak umum dan tidak menyangkut urusan agama. Bagi mereka yang terikat oleh urusan agama, mereka mendirikan shalat di awal waktu. Tolak ukur kehidupan mereka diatur menurut tolak ukur yang telah ditetapkan illahi. Dalam arti, setiap pekerjaan diatur sedemikian
rupa sehingga ketika waktu salat tiba, mereka tidak akan disibukkan dengan pekerjaan lain kecuali salat.
Solat sunnah rawatib sangat dianjurkan dan ditekankan untuk dilakukan, menurut pendapat beberapa ulama, orang yang terus menerus meninggalkannya maka ketakwaannya tidak bisa dipercaya dan ia pun berdosa. Alasannya, karena terus menerus meninggalkannya menunjukkan kadar ke-Islamannya yang sangat rendah dan ketidakpeduliannya terhadap solat sunnah rawatib.
Adapun keistimewaan solat sunnah rawatib adalah merupakan penambal kekurangan dan kesalahan seseorang ketika melaksanakan shalat fardlu. Karena manusia tidak terlepas dari kesalahan, maka ia membutuhkan sesuatu yang dapat menutupi kesalahannya tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Saya menghafal sepuluh rakaat dari Rasulullah: Dua rakaat sebelum solat zhuhur, dua rakaat setelah solat zhuhur, dua rakaat setelah solat maghrib di rumah beliau, dua rakaat setelah solat isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum subuh.
Sebelum subuh ini adalah waktu dimana tidak seorang pun yang datang kepada Rasulullah SAW. Hafshah memberitahuku bahwa jika muazin mengumandangkan adzan dan fajar telah terbit, maka beliau shalat dua rakaat. Dalam Hadits yang shahih Muslim diri wayatkan dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata: “Rasulullah shalat empat rakaat sebelum solat dzuhur di rumahku. Kemudian beliau keluar dan solat bersama orang-orang, lalu pulang ke rumahku dan melakukan solat dua rakaat.
Berdasarkan hadits dan riwayat tersebut, beberapa ulama menyimpulkan bahwa jumlah rakaat solat sunnah rawatib adalah 12 rakaat. Keutamaan melaksanakan solat sunnah rawatib ini adalah, untuk menghindari riya’ (sikap pamer), ujub (membanggakan diri sendiri), dan untuk tidak memperlihatkan amal baik kepada khalayak ramai. Lebih mudah untuk khusyuk dan ikhlas lantaran suasananya yang sepi (tidak banyak orang).
“Seorang hamba yang muslim melakukan solat sunnah yang bukan wajib karena Allah, sebanyak dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” Kemudian Ummu Habibah r.a berkata: “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan solat-solat tersebut.”
Solat sunnah Rawatib sepintas nampak seperti hal yang biasa menurut kita, namun banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat sunnah ini selain dalam perjalanan. Kalaupun tertinggal karena lupa, sakit atau tertidur beliau mengqadanya. Dari sini dapat kita simpulkan betapa pentingnya kedudukan solat sunnah rawatib ini disamping shalat- shalat fardlu.
Solat sunnah rawatib sangat dianjurkan dan ditekankan untuk dilakukan, menurut pendapat beberapa ulama, orang yang terus menerus meninggalkannya maka ketakwaannya tidak bisa dipercaya dan ia pun berdosa. Alasannya, karena terus menerus meninggalkannya menunjukkan kadar ke-Islamannya yang sangat rendah dan ketidakpeduliannya terhadap shalat sunnah Rawatib.
Selanjutnya, keutamaan mendirikan solat rawatib menghidupkan rumah dengan dzikir kepada Allah. Dan solat seperti sabda Rasulullah: “Jadikanlah sebagian solat kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan kalian menjadikannya sebagai kuburan.” Yang paling utama dari solat-solat sunnah rawatib ini adalah shalat sunnah sebelum fajar. Hal ini berdasarkan riwayat dari Aisyah
r.a. bahwa ia berkata: “Tidak ada solat sunnah yang paling dijaga oleh Rasulullah selain dua rakaat fajar.
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda: “Dua rakaat solat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.” Oleh karena itu, Rasulullah selalu melakukan solat dua ra kaat fajar dan solat witir, baik ketika di rumah maupun ketika dalam perjalanan. Solat sunnah rawatib selain witir dan shalat sunnah fajar tidak disunnahkan dilakukan ketika dalam perjalanan. Hal ini didasarkan dari riwayat ketika Ibnu Umar r.a. ditanya tentang shalat rawatib Dzuhur ketika dalam perjalanan ia berkata: “Seandainya aku melakukan solat rawatib, tentunya aku tidak mengqoshor solat.
Ibnul Qayyim berkata: “Termasuk tuntunan Rasulullah dalam perjalanan adalah mengqoshor solat fardlu. Tidak ada riwayat dari beliau yang menunjukkan bahwa beliau melakukan solat sunnah sebelum dan setelah solat qoshor tersebut, kecuali solat witir dan solat sunnah fajar. Adapun dalam pelaksanaannya Rasulullah mensunnahkan untuk memendekkan shalat sunnah fajar. Berdasarkan riwayat yang shahih (Bukhari dan Muslim) Aisyah r.a. berkata: “Rasulullah selalu memendekkan solat dua rakaat sebelum solat subuh.”
Imam Muslim meriwayatkan hadis yang mengatakan bahwa, Ummu Habibah RA berkata: ‘Aku telah mendengar SAW bersabda: “Barangsiapa yang shalat 12 rakaat di dalam sehari semalam maka dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga.” (HR Muslim no 728).
Dalam solat subuh, pada rakaat pertama setelah membaca Al-Fatihah Rasulullah melanjutkannya dengan membaca surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua dengan Al-Ikhlash. Pernah juga pada rakaat pertama Rasulullah membaca surat Al-Baqarah ayat 136 setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat Ali-Imran ayat 64 pada rakaat kedua. Hal ini juga dilakukan beliau pada solat dua rakaat setelah maghrib, berdasarkan riwayat Baihaqqi, Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud r.a. yang menjelaskan tentang seringnya Raslulullah membaca surat Al-Kafiruun dan Al-Ikhlas pada solat dua rakaat setelah solat maghrib dan sebelum solat subuh.
Arabiyatuna Arabiyatuna
