Pengertian Blended Learning
Blended lerning merupakan suatu kombinasi penggunaan teknologi, aktivitas dan jenis-jenis kegiatan untuk membuat program pembelajaran yang optimal sesuai dengan karakteristik peserta didik (Bersin, 2004:xv). Untuk mewujudkan pembelajaran yang optimal, dibutuhkan strategi dan pendekatan yang sistematis dalam mengkombinasikan teknologi dan pembelajaran tatap muka. Blended learning merupakan gabungan antara sistem pembelajaran tatap muka (face to face) dengan sistem pembelajaran e-learning yang dapat digunakan oleh siapa saja (anyone), diamana saja (everywhere), kapan saja (anytime).
Menurut Stein & Graham (2014:12), kombinasi pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran e-learning untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif, efesien, dan fleksibel. Lalima & Lata Dangwal, (2017:131) mengungkapkan bahwa blended learning merupakan suatu model pembelajaran dengan konsep inovatif yang menggabungkan pembelajaran tatap muka, dan pembelajaran e-learning (offline dan online learning).
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa blended learning adalah model pembelajaran dengan cara menggabungkan keunggulan pembelajaran konvensional atau tatap muka dan kelebihan yang dimiliki oleh teknologi yaitu melalui e-learning (offline dan online). Kombinasi pembelajaran memperhatikan kondisi karakteristik peserta didik untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif, efesien, dan fleksibel.
b. Tujuan Blended Learning
Tujuan penggunaan blended learning menurut Husamah (2014:22) adalah untuk membntu peserta didik untuk belajar lebih baik dengan gaya dan preferensi belajar. Memberikan bagi guru dan peserta didik untuk melakukan pembelajaran mandiri dan fleksibel untuk pembelajaran tatap muka dan online. Sutopo (2012:169) menggungkapkan bahwa pembelajaran blended learning bertujuan untuk mendapat pembelajaran yang baik, dimana metode konvensional memungkinkan untuk melakukan pembelajaran secara interaktif, sedangkan metode online dapat memberikan materi secara online tanpa keterbatasan ruang dan waktu.
c. Komponen Blended Learning
Komponen dasar blended learning menurut Husamah (2014:17) terdiri dari komunikasi tatap muka (face to face), dan pembelajaran jarak jauh (e-learning).
1) Pembelajaran Tatap Muka (Face to Face)
Pembelajaran tatap muka merupakan kegiatan pembelajaran yang terjadi secara langsung antara guru dan peserta didik (Husamah, 2014:37). Pembelajaran tatap muka digunakan untuk memberikan petunjuk dalam pelaksanaan pembelajaran, serta mendekatkan hubungan emosional antara peserta didik dengan guru. Husamah (2014 : 103-104) menjelaskan bahwa dengan pembelajaran tatap muka yang diterapkan dapat membentuk disiplin mental. Pembelajaran tatap muka memeudahkan proses penilaian karena dapat mengamati secara langsung perubahan yang terjadi pada peserta didik.
Pembelajaran tatap muka diperlukan untuk menyempurnakan pembelajaran terkait dengan bebebrapa kekurangan dalam pembelajaran berbasis teknologi. Menurut Prawiradilaga (2014:276), keterbatasan yang menonjol pada teknologi digital yaitu tidak akan pernah menggantikan sosok guru di kelas. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran tatap muka bersama guru. Guru diunggulkan untuk membina sikap an perilaku peserta didik. Interaksi tatap muka diterapkan untuk mengatasi keterbatsan dari online learning.
2) Pembelajaran Jarak Jauh (E-Learning)
Pembelajaran e-lerning menurut Sutopo (2012:143) merupakan suatu metode pembelajaran menggunakan teknologi jaringan internet dan multimedia dengan memadukan cara belajar secara pedagogi dan andragogi. Dalam pengertian lain, pembelajaran e-learning adalah penggunaan internet dalam mengakses materi pembelajaran untuk berinteraksi dengan konten materi, peserta didik dan antara peserta didik sehingga terbentuk pengetahuan dengan membangun arti diri dan membangun pengalaman belajar (Ally,
2005:5). Akan tetapi, peran pengajar tetap diperlukan, sehingga tidak dapat dikesampingkan, sebagai mana menurut Prawiradilaga (2014:90) sosok pengajar tetap diperlukan untuk pembinaan perilaku dan sikap yang berorientas pada norma masyarakat. Pembelajaran e- learning telah banyak digunakan di setiap jenis pendidikan (pendidikan tradisional dan formal, pendidikan lanjutan dan pelatihan) karena mempunyai karakteristik yang fleksibel, memuat banyak material, menghemat biaya dalam pembelajaran dan menghemat sumber daya.
d. Proporsi Blended Learning
Proporsi pembelajaran tatap muka dan online menurut Garisson & Vaugan (2008:7) mempunya proporsi yang bervariasi. Allen & Seaman (2007:67) blended learning mempunyai proporsi penyampaian online berkisar antara 30% sampai 79% yang tersaji pada tabel berikut :
Tabel 1. Proporsi Penyajian Blended Learning
| Proporsi Konten |
Jenis kursus |
Deskripsi |
|
| yang Disajikan | |||
| Secara Online | |||
| 0% | Traditional | Pembelajaran dan konten tidak
disampaikan secara online, tetapi disampaikan secara lisan atau tertulis. |
|
| 1-29% | Web Facilitated | Pembelajaran menggunakan | |
| Learning | teknologi berbasis web untuk | ||
| memfasilitasi pembelajaran | |||
| tatap muka. Menggunakan | |||
| sistem manajemen kursus | |||
| (CMC) atau halaman web | |||
| untuk mengirim silabus dan tugas. | |||
| 30 to 79% | Blended/Hybrid | Pembelajaran memadukan
sistem online dan tatap muka. Proporsi konten secara substansial lebih banyak disajikan secara online, biasanya menggunakan diskusi online dan biasanya memiliki beberapa tahap tatap muka pertemuan. |
|
| >80% | online | Sebuah pembelajaran dimana
sebagian besar atau semua konten yang disampaikan secara online. Biasanya tidak memiliki pertemuan tatap muka. |
Arabiyatuna Arabiyatuna
