Wednesday, 24 July 2024
above article banner area

Pembelajaran Berbasis Blended Learning

Pengertian Blended Learning

Blended  lerning  merupakan  suatu  kombinasi  penggunaan teknologi, aktivitas dan jenis-jenis kegiatan untuk membuat program pembelajaran yang optimal sesuai dengan karakteristik peserta didik (Bersin, 2004:xv). Untuk mewujudkan pembelajaran yang optimal, dibutuhkan strategi dan pendekatan yang sistematis dalam mengkombinasikan teknologi dan pembelajaran tatap muka. Blended learning merupakan gabungan antara sistem pembelajaran tatap muka (face to face) dengan sistem pembelajaran e-learning yang dapat digunakan oleh siapa saja (anyone), diamana saja (everywhere), kapan saja (anytime).

Menurut Stein & Graham (2014:12), kombinasi pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran e-learning untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif, efesien, dan fleksibel. Lalima & Lata Dangwal, (2017:131) mengungkapkan bahwa blended learning merupakan suatu model pembelajaran  dengan  konsep  inovatif  yang  menggabungkan pembelajaran  tatap  muka,  dan  pembelajaran  e-learning  (offline  dan online learning).

Berdasarkan  pendapat  beberapa  ahli  diatas  dapat  disimpulkan bahwa blended learning adalah model pembelajaran dengan cara menggabungkan keunggulan pembelajaran konvensional atau tatap muka dan kelebihan yang dimiliki oleh teknologi yaitu melalui e-learning (offline dan online). Kombinasi pembelajaran memperhatikan kondisi karakteristik   peserta  didik   untuk   menghasilkan  pembelajaran   yang efektif, efesien, dan fleksibel.

b. Tujuan Blended Learning

 

Tujuan penggunaan blended learning menurut Husamah (2014:22) adalah untuk membntu peserta didik untuk belajar lebih baik dengan gaya dan preferensi belajar. Memberikan bagi guru dan peserta didik untuk melakukan pembelajaran mandiri dan fleksibel untuk pembelajaran tatap muka dan online. Sutopo (2012:169) menggungkapkan bahwa pembelajaran blended learning bertujuan untuk mendapat pembelajaran yang   baik,   dimana   metode   konvensional   memungkinkan   untuk melakukan  pembelajaran  secara  interaktif,  sedangkan  metode  online dapat memberikan materi secara online tanpa keterbatasan ruang dan waktu.

c. Komponen Blended Learning

Komponen  dasar  blended  learning  menurut  Husamah (2014:17) terdiri dari komunikasi tatap muka (face to face), dan pembelajaran jarak jauh (e-learning).

 

1)   Pembelajaran Tatap Muka (Face to Face)

Pembelajaran tatap muka merupakan kegiatan pembelajaran yang   terjadi   secara   langsung   antara   guru   dan   peserta   didik (Husamah, 2014:37). Pembelajaran tatap muka digunakan untuk memberikan petunjuk dalam pelaksanaan pembelajaran, serta mendekatkan hubungan emosional antara peserta didik dengan guru. Husamah (2014 : 103-104) menjelaskan bahwa dengan pembelajaran tatap muka yang diterapkan dapat membentuk disiplin mental. Pembelajaran tatap muka memeudahkan proses penilaian karena dapat  mengamati  secara  langsung  perubahan  yang  terjadi  pada peserta didik.

Pembelajaran tatap muka diperlukan untuk menyempurnakan pembelajaran terkait dengan bebebrapa kekurangan dalam pembelajaran berbasis teknologi. Menurut Prawiradilaga (2014:276), keterbatasan yang menonjol pada teknologi digital yaitu tidak akan pernah   menggantikan   sosok   guru   di   kelas.   Oleh   karena   itu, diperlukan  pembelajaran  tatap  muka  bersama  guru.  Guru diunggulkan   untuk   membina   sikap   an   perilaku   peserta   didik. Interaksi tatap muka diterapkan untuk mengatasi keterbatsan dari online learning.

2)   Pembelajaran Jarak Jauh (E-Learning)

Pembelajaran     e-lerning     menurut     Sutopo     (2012:143) merupakan  suatu  metode  pembelajaran  menggunakan  teknologi jaringan internet dan multimedia dengan memadukan cara belajar secara pedagogi dan andragogi. Dalam pengertian lain, pembelajaran e-learning adalah penggunaan internet dalam mengakses materi pembelajaran untuk berinteraksi dengan konten materi, peserta didik dan antara peserta didik sehingga terbentuk pengetahuan dengan membangun  arti  diri  dan  membangun  pengalaman  belajar  (Ally,

2005:5). Akan tetapi, peran pengajar tetap diperlukan, sehingga tidak dapat dikesampingkan, sebagai mana menurut Prawiradilaga (2014:90) sosok pengajar tetap diperlukan untuk pembinaan perilaku dan sikap yang berorientas pada norma masyarakat. Pembelajaran e- learning telah banyak digunakan di setiap jenis pendidikan (pendidikan   tradisional   dan   formal,   pendidikan   lanjutan   dan pelatihan) karena mempunyai karakteristik yang fleksibel, memuat banyak material, menghemat biaya dalam pembelajaran dan menghemat sumber daya.

d. Proporsi Blended Learning

Proporsi pembelajaran tatap muka dan online menurut Garisson & Vaugan (2008:7) mempunya proporsi yang bervariasi. Allen & Seaman (2007:67) blended learning mempunyai proporsi penyampaian online berkisar antara 30% sampai 79% yang tersaji pada tabel berikut :

Tabel 1. Proporsi Penyajian Blended Learning

 

Proporsi Konten  

Jenis kursus

 

Deskripsi

yang Disajikan
Secara Online
0% Traditional Pembelajaran dan konten tidak

disampaikan secara online, tetapi disampaikan secara lisan atau tertulis.

1-29% Web Facilitated Pembelajaran       menggunakan
Learning teknologi  berbasis  web  untuk
memfasilitasi        pembelajaran
tatap     muka.     Menggunakan
sistem      manajemen      kursus
(CMC)    atau    halaman    web
untuk   mengirim   silabus   dan tugas.
30 to 79% Blended/Hybrid Pembelajaran         memadukan

sistem online dan tatap muka. Proporsi konten secara substansial lebih banyak disajikan  secara  online, biasanya menggunakan diskusi online dan biasanya memiliki beberapa tahap tatap muka pertemuan.

>80% online Sebuah   pembelajaran   dimana

sebagian besar atau semua konten  yang  disampaikan secara online. Biasanya tidak memiliki  pertemuan  tatap muka.

 

 

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *