Judul: Manokwari Serambi Yerusalem
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian FILSAFAT / PHILOSOPHY.
Nama & E-mail (Penulis): Mansar Hugo
Saya Mohon Pilih di
Topik: MANOKWARI KOTA INJIL
Tanggal: 03 Desember 2007
MANOKWARI SERAMBI YERUSALEM
Endapan Nilai Universal
Oleh : Hugo Warami
1. Pengantar
Tanah Rencong Aceh di ufuk barat nusantara dijuluki Serambi Mekkah, dan di Tanah Arfak Papua dijuluki Serambi Yerusalem. Kedua julukan ini memiliki jiwa dan semangat yang sama dalam membangun iman dan keyakinan yang sungguh bagi kehidupan masyarakat di Timur-Barat persada nusantara. Ujaran Serambi Mekkah atau Serambi Yerusalem (Manokwari kota Injil) sama-sama mengandung nilai-nilai keuniversalan tentang kebenaran, kedamaian dan cinta kasih yang sudah harus nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai keuniversalan misalnya, dapat diimplementasikan dalam larangan miras, larangan kegiatan seks komersial; larangan kegiatan publik yang menggangu kegiatan peribadatan.
2. Jiwa dan Semangat
Nafas yang segar melahirkan jiwa dan semangat bagi julukan Serambi Mekkah yang diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan julukan Serambi Yerusalem ‘Manokwari Kota Injil’ yang diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Jiwa dan semangat yang mendasar dari filosofi otonomi khusus ini mengusung kearifan lokal yang diakomodasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Jiwa dan semangat terintegrasi dalam nilai kekerabatan, yakni sebagai dasar untuk penamaan fasilitas publik dengan nama-nama tokoh masyarakat lokal yang berjasa bagi pemerintahan, pembangunan maupun tempat ibadah.
3. Endapan Nilai Universal
Endapan nilai religius yang nampak dalam kandungan julukan Serambi Mekkah dan Serambi Yerusalem merupakan proyeksi makna pesan yang paling menonjol dalam dimensi keagamaan. Dewasa ini orang cenderung membedakan antara religi (religios) dari agama (religio, religion). Sehingga nilai religi sering dipertentangkan dengan ketidakberagamaan seseorang atau kelompok masyarakat. Namun, sesungguhnya nilai religius berkaitan dengan adanya kenyataan tentang merosotnya kualitas penghayatan seseorang atau kelompok masyarakat dalam beragama, atau berkaitan dengan hilangnya dimensi kedalaman dan hakikat dasar yang universal dari religi. Nilai religi memproyeksikan kebebasan untuk menjaga kualitas keberagamaan seseorang atau guyub tutur terhadap agama sebagai lembaga dan ajaran. Bagi seseorang atau umat yang beragama: Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Islam, dan lain sebagainya, intensitas keberagamannya tidak dapat dipisahkan dari keberhasilannya untuk membuka diri terus-menerus terhadap pusat kehidupan (kosmos).
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seseorang, kelompok atau umat agar mampu meraih nilai religius adalah dengan meningkatkan kepekaannya dalam menangkap simbol atau lambang-lambang untuk memperoleh pengalaman estetik dan pengalaman estetik itulah yang akan memperbaiki pengalaman religius (Hartoko, 1984:51).
Ada empat subnilai pada nilai religius yang akan ungkap dalam julukan Serambi Mekkah dan Serambi Yerusalem. Keempat subnilai itu dapat diuraikan sebagai berikut.
3.1 Nilai Eksistensi Tuhan
Hubungan manusia dengan Tuhan dapat dipahami dalam wujud peristiwa-peristiwa, misalnya penciptaan langit dan bumi, terang dan gelap, siang dan malam, pagi dan petang, cakrawala, air, darat dan laut, tumbuh-tumbuhan, matahari, bulan dan bintang, binatang yang hidup di air, di darat dan burung-burung, manusia penguasa alam semesta dan pengultusan karya seni.
Berangkat dari pemahaman keuniversalan tentang nilai eksistensi Tuhan dalam keberagaman agama, yakni :
(1) dalam perspektif Islam, Allah adalah wujud tertinggi dan terunik. Dia adalah Zat Yang Mahasuci, Yang Maha Mulia, dari-Nya kehidupan berasa dan kepada-Nya kehidupan kembali. Allah dikatakan sebagai Pencipta, Akal Pertama, Penggerak Pertama, Penggerak Yang Tiada Bergerak, Puncak Cita dan Wajib al-wujud. Allah adalah tuntunan setiap jiwa manusia. Setiap manusia merasakan dan menyadari kehadiran-Nya;
(2) dalam perspektif Hindu, ketunggalan Tuhan adalah sumbu dimana filosofi Veda berputar. Tiada yang lain kecuali Tuhan sendiri yang memerintah dan mengatur seluruh alam semesta. Kekuasaan tertinggi hanya menjadi milik Sang Pencipta dari alam semesta ini. Veda suci menyatakan bahwa Tuhan, Sang Hyang Widhi sendiri adalah Tuan tak tertandingi dari seluruh ciptaan. Seluruh nyanyian, kidung pujian dan sembahyang untuk Dia. Sang Hyang Widhi itu tunggal, tapi namanya plural. Semua nama dan gelar (epithets) yang disebut dalam Veda ditunjukkan kepada Sang Hyang Widhi yang satu, yang adalah pencipta alam semesta;
(3) dalam perspektif Buddha, kehadiran Sang Buddha ditunjukkan secara simbolis dengan sebuah pohon (pencerahan), dengan sebuah stupa, dengan sebuah roda (Dharma). Kodrat Sang Buddha sebagai kesucian tertinggi atau ke-Buddha-an dapat dilukiskan dengan penuh arti, yang berbunyi: “Apa yang harus diketahui telah kuketahui, dan yang harus dikembangkan telah kukembangkan, Apa yang harus disingkirkan telah kuusingkirkan, maka akulah Sang Buddha.”; dan
(4) dalam perspektif Kristen, paham Tritunggal atau Trinitas Injil masih menjadi aras utama dalam sendi-sendi ritual keagamaan baik dalam protestan maupun khatolik, yakni Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, atau disebut ke-Esa-an.
3.2 Nilai Kudus
Secara umum kudus adalah sesuatu yang terlindung dari pelanggaran, pengacauan atau pencemaran. Kudus adalah sesuatu yang dihormati, dimuliakan, dan tidak dapat dinodai. Kudus tidak hanya terbatas pada agama saja tetapi banyak objek, baik yang bersifat keagamaan maupun dalam tindakan-tindakan, tempat-tempat, kebiasaan-kebiasaan dan gagasan-gagasan yang dapat dianggap sebagai kudus. Secara spesifik, kudus adalah sesuatu yang dilindungi, khusunya oleh agama terhadap pelanggaran, pengacauan dan pencemaran. Jadi kudus adalah sesuatu yang suci dan keramat (Dhavamony, 1995:87).
Berangkat dari pemahaman kesejagatan bahwa nilai kudus menjadi salah satu ciri yang terpenting dalam kegiatan religius, yakni :
(1) nilai kudus dalam perspektif Hindu, ada dalam Veda (pengetahuan suci), Bramana (formula suci dan realitas dunia), Dharma (hukum suci dan kewajiban suci), dan Mokhsa (pembebasan). Singkatnya, bagi Hinduisme yang kudus mencirikan pencarian menusia terhadap Yang Nyata, Terang, Yang Imortal, baik dalam dirinya sendiri maupun di dunia sekitarnya;
(2) nilai kudus dalam perspektif Buddha adalah yang tidak dilahirkan, tidak dibuat, tidak dijadikan atau tidak disusun, bisa dicapai melalui meditasi pada tingkat paling akhir. Jadi, yang kudus tidak dialami lewat gerak-gerak yang batiniah sekalipun, tetapi lewat ketenangan batin dan ketidakacuhan tubuh. Kekudusan yang paling ideal adalah seseorang yang hakikat jati dirinya digerakkan oleh hasrat untuk memperoleh penerangan penuh;
(3) nilai kudus dalam perspektif Islam adalah pengalaman hormat akan Allah yang mencakup pula kesalehan, ketertarikan dan ketergantungan total kepada-Nya. Semakin besar pengalaman akan Allah sebagai penciptaan alam semesta, semakin utuhlah pengalaman akan sifat-sifat kreatif, teratur dan belas kasihan-Nya. Iman merupakan pusat pengalaman Islam dan bentuknya berupa suatu keyakinan yang kuat terhadap pewartaan nabi;
(4) nilai kudus dalam perspektif Kristen merupakan pandangan bahwa Tuhan Yang Kuasa sebagai Sang Pencipta berada ditempat yang kudus dan umat manusia sebagai hamba-Nya yang melakukan perwujudan kekudusan itu lewat kewajiban manusia untuk mengabdi dan mencintai-Nya.
Dengan menampakkan kekudusan, objek apa pun, dapat dimaknai sebagai sesuatu yang kudus. Sebuah batu suci tetaplah sebuah batu, tak satu pun yang mampu membedakannya dari batu-batu lain. Tetapi ketika menjadi sebuah objek yang suci, maka ia memperoleh kualitas yang disebut suci atau kudus, dan mampu dibedakan dari kualitas batu yang lain.
3.3 Nilai Doa
Doa merupakan gejala umum yang ditemukan dalam semua agama. Dalam berbagai macam bentuknya, doa muncul dari kecenderungan kodrati manusia untuk memberi ungkapan dari pikiran dan rasa dalam hubungannya dengan yang Ilahi. Sebagai mana manusia berkomunikasi secara kodrati dengan manusia-manusia lainnya dalam berbicara, demikian pula dalam menyapa Ilahi dengan cara yang sama, sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya (Dhavamony, 1995:241).
Doa merupakan suatu tindakan rekolektif dan bentuk pemujaan universal, dengan diam ataupun dengan bersuara, pribadi maupun umum, spontan maupun menurut aturan. Karena doa merupakan ungkapan religius yang paling khas dan satu-satunya tindakan religius yang berlaku untuk semua agama. Doa-doa biasanya dipandang sebagai perwujudan nyanyian yang paling kuat.
Berangkat dari pemahaman keuniversalan bahwa makna doa menjadi kerangka dan esensi pesan sebagai aras utama dalam kegiatan religius, yakni:
(1) nilai doa dalam perspektif Buddha bahwa satu-satunya hakekat yang dimiliki adalah meditasi, disamping doa-doa permohonan, permintaan dan penyembahan nama Buddha. Meditasi merupakan pendekatan utama mengenai agama. Tujuan tertinggi dari meditasi adalah penerapan. Meditasi dimaksudkan untuk memperkembangkan kesempurnaan spiritual, mengurangi akibat penderitaan, menenangkan pikiran, dan membuka kebenaran mengenai eksistensi dan hidup bagi pikiran;
(2) nilai doa dalam perpektif Hindu sebagai bentuk pemujaan yang paling mujarab dalam rangka pencapaian kebebasan dari lingkaran kelahiran kembali. Selain doa, Dhavamony (1995:225) menyebutkan doa yang paling terkenal dan paling mujarab adalah Gãyatri: Biarlah kami merenungkan kemuliaan Tuhan yang amat mulia, Savitri, Semoga Ia menggerakkan pikiran-pikiran kami. Kehidupan agama Hindu terdiri dari pemujaan dan meditasi yang merupakan tahapan-tahapan dalam pengalaman akan Tuhan. Pemujaan merupakan bagaian ritual dan meditasi dari bentuk doa;
(3) nilai doa dalam perspektif Islam sebagai bentuk pemenuhan kerinduan kodrati dari hati manusia untuk mencurahkan cinta dan rasa syukur kepada pencipta. Doa umumnya dapat dimasukkan dalam tiga kategori: pujian dan ucapan syukur, penyesalan, serta permohonan. Al-Quran menganjurkan umatnya untuk “setia” dalam doa;
(4) nilai doa dalam perspektif Kristen sebagai “penantian” yaitu penantian akan jawaban yang akan Tuhan berikan, atau apa yang akan Tuhan lakukan selanjutnya. Dalam doa diharapkan sesuatu yang tidak kelihatan. Diyakini bahwa Tuhan sanggup memberikan apa yang diminta dengan jalan bersabar, bertekun, dan setia.
3.4 Nilai Keselamatan
Soteriologi ‘ajaran keselamatan’ mengajarkan bahwa manusia saat ini sedang berada dalam situasi bahaya rohani terkutuk dalam kehancuran secara spiritual yang membutuhkkan keselamatan. Agama menawarkan keselamatan, baik dalam arti pembebasan dan kejahatan dan akibat-akibat kejahatan maupun dalam arti mencapai keadaan bahagia sempurna yang mengatasi waktu, perubahan, dan kematian (Dhavamony, 1995:294).
Berangkat dari pemahaman kesejagatan bahwa makna keselamatan menjadi salah satu ciri dan upaya dalam semua agama untuk menyingkirkan yang jahat dan menjadi satu dengan Ilahi, serta usaha untuk mewujudkan yang Ilahi. Pemahaman kesejagatan tentang makna keselamatan ini hadir dalam setiap kegiatan religuis, yakni:
(1) nilai keselamatan dalam perspektif Hindu menjadi kunci utama seperti Moksha atau Mukti. Keselamatan adalah buah pengetahuan. Adapun pengetahuan itu adalah kerendahan hati, kesederhanaan, tidak melukai, pengampunan, pengekangan diri, ketulusan hati, hormat pada guru, kemurnian, keteguhan, kebebasan dari keinginan yang melekat dan dari egoisme, penghargaan terhadap penyakit-penyakit manusia, cinta bakti kepada Tuhan, dan hubungan antara jiwa dan jati diri yang maha tinggi;
(2) nilai keselamatan dalam perspektif Buddha merupakan penerimaan masuk ke Tanah Murni dan sarana-sarana untuk memperolehnya adalah iman pada Amida sebagai penyelamat. Keselamatan sebagai pengumpulan anugrah tak terbatas dalam Inkarnasi-Inkarnasi-Nya yang tak terhitung. Ia akan mengalihkan anugrah-anugrah ini kepada makhluk-makhluk inderawi yang masih terbelenggu pada penderitaan dan kemalangan supaya dengan pertolongan ini mereka dapat masuk ke Tanah Murni;
(3) nilai keselamatan dalam perspektif Islam merupakan jalan umum bagi seorang Muslim dengan mengikuti perintah-perintah Allah dan teladan Rasul, serta menaati hukum. Keselamatan dapat diperoleh dengan melaksanakan imannya dan menjalankan pujaan (doa ritual, Ramadan, dan Ziarah) dengan memperhatikan kaum miskin. Jadi, bagi Islam tidak ada keperluan penebusan, tidak ada metode pertobatan lewat jalan penebusan;
(4) nilai keselamatan dalam perspektif Kristen merupakan upaya untuk mendapatkan kedamaian sebagai wujud bimbingan dari Tuhan. Keselamatan Kristiani digambarkan sebagai sebuah zaman kebebasan dari semua perbudakan maupun sebagai kebebasan hidup sejati dan benar. Kebutuhan akan kedamaian dari Tuhan merupakan wujud nilai rasa spiritual yang tinggi terhadap keberadaan-Nya. Kedamaian, kesejahteraan yang datang dari Tuhan, mampu melampaui segala kekuatiran dan kebimbangan. Keselamatan dapat ditemukan dalam hati sanubari setiap umat manusia sebagai upaya menjawab apa yang berhubungan dengan kebebasan hari esok.
Saya Mansar Hugo setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
Arabiyatuna Arabiyatuna
