Sunday, 10 May 2026
above article banner area

Hidup Bersama Orang Lain

Pada era globalisasi seperti sekarang ini di mana setiap orang mempunyai hak mendapatkan kehidupan yang lebih baik membuat persaingan semakin keras untuk mengejar sukses. Oleh sebab, itu setiap orang harus membekali dirinya menuju kesuksesan. Salah satu bekal memperoleh sukses itu adalah bagaimana kita bergaul dengan orang lain. Dalam kehidupan sosial, tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa bergaul dengan orang lain, sebab hakikatnya manusia adalah makhluk sosial.  Keberhasilan hidup seringkali tergantung pada seberapa jauh dan luas pergaulan kita. Ada orang yang sebenarnya tak memiliki kelebihan-kelebihan mencolok, tapi sanggup memainkan peran penting dan sukses dalam hidupnya. Apakah orang ini memang dilahirkan dengan bakat, pembawaan, dan naluri bergaul yang baik sehingga mempesona pihak lain dan lalu menyalahkan diri sendiri, apalagi menyalahkan Tuhan mengapa kita tidak dikaruniai sikap demikian? Pembaca yang budiman, jangan cepat-cepat memfonis diri kita sendiri atau memaafkan diri sendiri dengan mengatakan bahwa soal “kemampuan bergaul” itu bakat alam dan pemberian Tuhan yang tak dapat diganggu gugat. “Don’t take for granted”.  Kita mesti berhenti berpikir demikian. Marilah kita amati secara lebih mendalam mengapa orang-orang tertentu sukses dalam karier dan hidupnya, sementara yang lain tidak . Penglihatan kita secara dekat memperoleh gambaran bahwa di antara orang suskes itu memang memiliki kelebihan-kelebihan yang mencolok. Tetapi tidak jarang di antara mereka orang biasa-biasa saja dan tidak tergolong istimewa, sehingga banyak orang menyukai dan bersedia melakukan banyak hal, bahkan berkorban untuk mereka.  Mengapa? Jangan kaget kalau kita menjumpai bahwa sebagian besar dari mereka ternyata” Menyukai, Menghargai, dan Mencintai” orang–orang lain dengan kelebihan dan kekurangannya, sehingga sebaliknya orang-orang tersebut mau berbuat sama terhadap diri mereka. Di sini terjadi sikap positif timbal balik. Sikap simpatik yang ditujukan oleh seseorang terhadap orang lain di sekitarnya akan menyebabkan dibalasnya sikap kita secara simpatik pula. Nah, tampaknya sederhana kan?  Kalimatnya terucap dengan mudah dan sederhana. Tetapi sesederhana itukah pelaksanaannya? Fakta sosial menunjukkan bahwa umumnya orang sulit mengakui kelebihan dan keberhasilan orang lain dan lebih suka melihat kelemahan dan kekurangannya. Bahkan ada orang yang senang melihat orang lain gagal. Demikianlah manusia! Padahal, apabila kita memiliki jiwa  yang sanggup menghargai dan mencintai orang lain, saat itu pula telah terbuka  lebar peluang kita mencapai sukses. Sebaliknya, kalau kita suka merendahkan atau menghina orang lain, maka sebenarnya kita telah menutup rapat pintu keberhasilan kita sendiri. Dengan demikian, keberhasilan hidup tidak semata-mata karena seseorang memiliki kelebihan dan keistimewaan mencolok, tetapi lebih karena kita mau dan bersedia menghormati serta mencintai orang lain. Terkait dengan pergaulan, dalam psikologi dikenal istilah “empathy”, yang artinya kesanggupan untuk merasakan dan memahami perasaan-perasaan orang lain seolah-olah itu perasaan kita sendiri. Kesanggupan kita berempati adalah bagian terpenting dari semangat mencintai, semangat yang memungkinkan kita mengerti, memahami, menampung perasaan-perasaan orang lain, memungkinkan kita justru bahagia dan tidak iri hati atas kemajuan atau sukses orang lain. Memahami orang lain memang tidak berarti kita harus menjadi dirinya. Sebagaimana dinyatakan Fay (1996) bahwa “to understand one is not necessarily to become one”. Lebih jauh, semangat mencintai itu bukan hanya sekadar tidak  menggangu atau melanggar kepentingan orang lain, tetapi ada hasrat kuat untuk membantu, mengulurkan tangan, dan menyenangkannya. Berlaku jujur dan rendah hati merupakan sikap nyata untuk menyenangkan orang lain bahkan menghormatinya. Sekilas anggukan atau sebentuk senyum yang jujur dan tulus yang kita tujukan kepada orang-orang lain di sekitar kita sanggup meruntuhkan tembok-tembok tinggi kebekuan sosial. Kita harus sadar bahwa dunia ini bukan milik kita sendiri, melainkan milik bersama yang harus diisi dan dinikmati bersama dengan orang lain secara bersama-sama pula. Nah, bagaimana kalau sikap saling hormat dan menghargai sesama ini kita praktikkan dalam kehidupan akademik di kampus kita? Kiranya akan sangat indah, sebab tidak ada warga kampus yang merasa tersinggung, tertinggal, tertindas, terhina, terabaikan, dan terpinggirkan. Tetapi semuanya merasa terhormat dan menjadi satu untuk bersama-sama memajukan kampus Islam yang dalam waktu dekat akan memodernisasi diri ini. Demikianlah, dengan memiliki semangat mencintai, menghormati dan menghargai sesama sebagai titik tolak tanpa sadar kita sesungguhnya telah membuka jalan menuju sukses dalam hidup lewat pergaulan dan persahabatan sejati.  Sebaliknya, dengan tidak menghormati dan menghargai orang lain tanpa sengaja pula kita  telah menutup rapat-rapat pintu keberhasilan kita sendiri.  

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *