Masjid bagi umat Islam dipandang amat penting. Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad saw., yang pertama kali dilakukan dalam membangun masyarakat Madinah adalah mendirikan masjid. Hal seperti itu ternyata diikuti oleh umatnya dari zaman ke zaman, hingga sekarang. Sebuah komunitas kaum muslimin, dianggap belum sempurna jika belum memiliki tempat ibadah, baik berupa masjid, musholla, langgar, atau surau.
Tatkala berbicara masjid, saya selalu teringat nasehat ayah. Ketika dulu masih hidup, beliau selalu menasehati anak-anaknya agar perhatian terhadap masjid. Ayah selalu berpesan, jangan lupa masjid dan jangan lupa masjid. Kalau kamu nanti menjadi seorang kaya, maka bangunlah masjid yang baik dan besar. Tetapi andaikan kamu tidak kaya, bangunlah masjid semampumu. Dan, jika memang tidak mampu membangun masjid sendiri, maka berikanlah bantuan kepada orang yang sedang membangun masjid. Andaikan sebatas membantu berupa dana pun tidak mampu, maka berikan tenagamu untuk membangun masjid itu. Umpama kamu lemah dan dan terlalu miskin, sehingga itupun tidak mampu engkau lakukan, maka jangan lupa, kamu harus menjadi isinya masjid. Selanjutnya, beliau juga berpesan agar para anak-anaknya, kapan dan di mana saja mau mengurus masjid. Pesan beliau, bahwa menjadi takmir lebih mulia dari jabatan apapun selain itu. Beliau mengilustrasikan tentang kemuliaan sebagai pengurus masjid. Takmir masjid sehari-hari selalu bertugas mengingatkan kaum muslimin, dengan suara adzan, bahwasanya telah masuk waktu sholat. Di sinilah peran pengurus masjid, sekalipun oleh sementara orang status itu dianggap tidak menarik, dan sehingga tidak banyak diperebutkan, tetapi sangat mulia di hadapan Allah. Saya merasa bersyukur, seingat saya selama ini belum pernah putus dari bertugas sebagai takmir masjid. Sekalipun tidak selalu menjadi ketua, tetapi setidak-tidaknya nama saya selalu terdaftar di organisasi kepengurusan masjid. Menjadi pengurus masjid, memang tidak mendapatkan imbalan apa-apa. Malahan justru sebaliknya, selalu menanggulangi jika ada persoalan atau tempat ibadah tersebut membutuhkan kelengkapan yang diperlukan. Saya merasakan bahwa di tempat bersujud inilah, justru selalu dapat dirasakan ada kedamain yang sebenarnya. Di setiap tempat berkumpulnya banyak orang, selalu terjadi proses-proses sosial, seperti berkompetisi, konflik, dan bahkan juga perebutan. Hal demikian itu tidak pernah terjadi di masjid atau tempat ibadah lainnya. Kalau pun ada kompetisi atau konflik, segera ada yang mengalah dan tidak terlalu sulit diselesaikan. Pengurus masjid biasanya tidak berganti-ganti. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan ada perubahan. Jika pengurus sudah merasa lama bertugas, maka yang bersangkutan dengan ikhlas meminta kepada anggota lainnya agar diganti dan disusun kepengurusan baru. Penyusunan kepengurusan masjid juga tidak sebagaimana menyusun jabatan di sebuah instansi, dan apalagi pada jabatan politik. Berebut menjadi pengurus masjid selama ini dianggap tidak etis dan hal itu dianggap bukan pada tempatnya untuk diperebutkan. Jabatan sebagai takmir memang mulia di hadapan Allah. Tugasnya sehari-hari menyeru kepada siapa saja untuk beribadah, sholat secara berjama’ah. Tetapi ternyata kemuliaan itu belum terlalu diperebutkan. Berbeda dari jabatan sebagai takmir, adalah jabatan politik, baik di legislatif maupun di eksekutif. Di mana-mana jabatan tersebut selalu diperebutkan. Padahal jabatan itu belum tentu, berhasil mengantarkan seseorang meraih kemuliaan, baik di mata Allah maupun di hadapan manusia pada umumnya. Memang, manusia itu di mana-mana dan kapan saja tampak dan terasa aneh. Mereka lebih suka memperebutkan sesuatu yang belum jelas hasilnya. Menjadi takmir masjid, sekalipun jelas dan mulia di hadapan Allah, ternyata dianggap tidak lebih menarik karena bisa jadi, posisinya yang jelas itu. Berbeda dengan itu adalah jabatan politik, karena tidak jelas, maka justru menarik. Mengurus tempat ibadah di hadapan Allah memang jelas dan mulia, tetapi tidak selalu demikian di hadapan selainnya. Anehnya, memang tidak semua yang mulia di hadapan Allah diperebutkan orang. Justru yang terjadi sebaliknya, manusia selalu memperebutkan hal-hal yang tidak jelas. Tapi, bagaimana ini semua dipahami. Sesungguhnya juga tidak terlalu sulit menjawabnya. Bukankah hidup ini, menurut kitab suci pun, sesungguhnya hanyalah permainan. Di manapun dan kapan pun permainan selalu menarik, sekalipun tidak jelas dan tidak pasti. Menjadi takmir atau mengurus masjid adalah pasti, karena itu dianggap tidak menarik, tidak akan ada yang kalah dan menang. Sebaliknya, dunia politik, karena ada kalah dan menang itu, mungkin di sini letak menariknya. Sehingga, banyak orang ikut bermain dan juga berebut. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
