Secara fisik kita sudah lama merdeka. Beberapa hari lagi kita akan memperingati hari ulang tahun kemerdekaan yang ke 64. Artinya, kita sudah merdeka sejak 64 tahun yang lalu, yakni diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sekalipun, setelah itu masih terjadi perjuangan mengusir penjajah, tetapi sejak saat itu bangsa ini sudah merdeka. Akan tetapi, apakah kemerdekaan secara fisik tersebut telah diikuti dan dirasakan oleh masing-masing individu secara luas dan dengan sebenarnya. Jika orang tua dahulu dijajah oleh Belanda beberapa ratus tahun, lalu akibatnya bangsa ini mengalami kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, maka apakah setelah merdeka, berbagai penderitaan itu telah berhasil kita hilangkan. Lebih sederhana lagi, apakah juga setelah merdeka, batin kita juga sudah berhasil kita merdekakaan. Merdeka secara fisik adalah penting, tetapi merdeka secara batin juga tidak kalah pentingnya. Bisa saja kita tidak dijajah oleh bangsa manapun, tetapi bisa jadi bahwa sebenarnya batin kita masih terjajah. Batin kita belum bebas. Kita masih merasa ada kekuatan yang membelenggu batin kita masing-masing. Dengan perasaan terbelenggu itu, maka kita seolah-olah tidak bisa bergerak mengembangkan diri secara leluasa dan bebas. Akibatnya, dalam sekian lama tidak pernah diraih kemajuan dan prestasi apa-apa. Penjajahan secara fisik dilakukan oleh bangsa lain atau pihak eksternal, tetapi penjajahan batin, bisa jadi dilakukan oleh dirinya sendiri. Belenggu yang menghimpit hingga tidak merasa bebas itu bisa datang dari diri sendiri. Berbagai perasaan, seperti rasa takut, khawatir, ragu, rendah diri, kurang percaya pada diri sendiri, merasa kalah, pesimisme dan seterusnya sesungguhnya adalah merupakan penjajahan batin yang sangat merugikan bagi pertumbuhan seseorang. Perasaan takut kepada Tuhan memang semestinya selalu dibangun dan dipelihara pada setiap waktu. Tetapi perasaan takut terhadap sesama orang atau sesama makhluk tidak boleh terjadi. Di hadapan Tuhan kita memang harus merasa kecil, tetapi di hadapan makhluk, harus merasa sama. Sipapun tidak boleh menghamba selain kepada Tuhan. Memang kita harus hormat kepada orang tua, guru dan siapa saja lainnya yang telah berjasa. Tetapi, justru dengan cara menghormat itu, hati kita menjadi merdeka. Saya melihat banyak sekali orang yang semestinya sudah merdeka, tetapi tampak masih merasa terjajah. Bahkan mereka itu sudah berpendidikan tinggi, dan bergelar akademik. Tetapi, tampak masih terbelenggu. Ilmu yang didapat belum berhasil memerdekakan batinnya. Mereka masih belum memiliki rasa percaya diri dan bahkan cita-cita. Jangankan kekuatan mengubah masyarakat, menata dirinya sendiri pun belum berhasil. Banyak di antara mereka masih selalu merasa terbelenggu oleh rasa takut, khawatir, rendah diri, dan cemas menghadapi masa depannya. Sekian lama menuntut ilmu, sejak dari pendidikan tingkat dasar hingga perguruan tinggi, yang semestinya dengan pendidikan itu mereka menyandang kemerdekaan batin, ternyata masih gagal. Bahkan karena tidak berhasil memerdekakan batinnya, gelar akademik yang semestinya dibanggakan, justru dirasa menjadi beban. Sekalipun bergelar, mereka masih belum memiliki rasa percaya diri. Bertahun-tahun menekuni bidang ilmu tertentu, tetapi berbekalkan ilmunya itu banyak di antara mereka belum berhasil mencitai dan bangga dengan ilmunya itu. Sehingga, dengan ilmu dan gelarnya itu justru menambah beban pada dirinya. Perasaan terjajah secara batin seperti itu semestinya dihilangkan. Namun, siapa yang harus berjuang menghilangkan, tidak ada lain kecuali dirinya sendiri. Penjajahan semacam itu tidak ada yang merasakan, kecuali yang bersangkutan. Orang lain hanya mengetahui bahwa sebenarnya seseorang sedang terjajah batinnya. Orang yang menampakkan gejala-gejala aneh, yang tidak semestinya, misalnya selalu mengeluh, menyalahkan orang lain, kritis terhadap orang lain tetapi tidak kritis terhadap dirinya sendiri, selalu rendah diri secara berlebihan dan seterusnya, semua itu adalah tanda-tanda bahwa mereka masih terjajah batinnya. Sering sekali saya mendapatkan orang-orang seperti itu. Anehnya mereka itu tidak saja berasal dari orang yang berpendidikan rendah, tetapi juga lulusan S1, atau S2, dan bahkan menjelang lulus Doktor. Pendidikan setinggi itu pun kadang ada yang belum berhasil memerdekakaan batin. Mereka merasa masa depannya masih gelap. Belum percaya bahwa pendidikan yang diraih akan berhasil mengantarkan dirinya menjadi sukses dalam hidupnya. Orang seperti ini memerlukan pencerahan dan dialog batin secara lebih banyak dan mendalam. Pencerahan bisa diperoleh dari orang lain, akan tetapi sesungguhnya yang bisa mengubah dan membangunnya tidak ada lain kecuali dirinya sendiri. Dalam al Qur’an dikatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasip suatu kaum sepanjang kaum itu tidak mengubah dirinya sendiri. Agar perasaan merdeka atau merdeka secara batin itu bisa diraih, memang banyak pintu atau cara yang bisa dilalui. Tetapi sesungguhnya, kitab suci al Qur’an dan juga tauladan nabi, memberikan petunjuk secara jelas dan sempurna tentang itu. Oleh karena itu, kegiatan membaca, memahami, menghayati dan menangkap makna yang terdalam dari kitab suci dan tauladan nabi adalah cara yang terbaik untuk memerdekakan batin itu. Melalui al Qur’an dan tauladanm Nabi, insya Allah rasa optimis, percaya diri, keberanian, semangat hidup, cita-cita dan sifat-sifat positif lainnya akan berhasil ditumbuh-kembangkan. Al Qur’an mengajarkan tentang kehidupan yang mulia di dunia dan di akherat, keselamatan, keberuntungan, kemenangan, dan juga kebahagiaan. Dengan cara itu semua, maka tidak saja secara fisik kemerdekaan itu kita raih, tetapi batin pun menjadi merdeka. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
