Sekalipun ayat pertama kali yang diturunkan oleh Allah adalah perintah membaca, ternyata tidak semua orang mudah menjalankannya. Memang dalam pengertiannya yang sederhana, membaca tidak sulit. Beberapa bulan saja, orang yang masih buta huruf bisa diajari membaca, dan akhirnya juga bisa melakukannya. Tetapi pengertian membaca di sini, hanya sebatas membaca huruf-huruf atau kalimat demi kalimat. Membaca tidak saja bermakna sesederhana itu, bisa diartikan lebih luas. Dan kiranya, itulah yang seharusnya dilakukan. Membaca dengan makna yang lebih luas, yakni misalnya membaca keadaan atau situasi, kecenderungan, keterkaitan antara satu fenomena dengan fenomena lainnya, perubahan social, masa depan, dan seterusnya, maka semua itu tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang. Kemampuan membaca dalam pengertian yang luas itu perlu dilatih dan dibiasakan secara terus menerus. Orang yang pintar membaca dalam pengertian yang luas, tidak banyak jumlahnya. Namun, ternyata juga bisa dimiliki oleh seseorang tanpa belajar. Kemampuan seperti itu, orang menyebutnya sebagai pembawaan atau pemberian dari Yang Maha Kuasa. Memang, pada kenyataannya ada saja di antara orang-orang tertentu, memiliki kelebihan dari yang lainnya. Tetapi sebaliknya, hal yang lazim atau pada umumnya kemampuan sperti itu harus diperoleh melalui belajar, baik belajar di sekolah formal atau lainnya. Selama ini saya memahami, bahwa seseorang yang sekolah atau bahkan kuliah di perguruan tinggi, pada hakekatnya adalah belajar membaca dalam pengertian luas itu. Biasanya pengertian membaca seperti itu disebut dengan istilah riset atau penelitian. Riset itu pada hakekatnya adalah membaca, yakni membaca sesuatu yang masih belum diketahui, atau masih dianggap pelik, kabur, atau belum jelas. Setelah dibaca atau diriset, maka sesuatu yang belum jelas itu menjadi bisa diketahui, diterangkan, atau dipahami secara gamblang. Sudah barang tentu, pengertian, pemahaman, dan juga kesimpulan yang didapatkan melalui riset tidak pernah dianggap sempurna. Hal itu tergantung, di antaranya dari tingkat kualitas orang yang membacanya. Mungkin karena pembaca masih berada pada tingkat pembelajaran, maka hasilnya juga masih pada taraf sederhana, atau bersifat dangkal. Tetapi, karena periset atau pembacanya sudah diakui keahliannya, atau telah memiliki wawasan, pengalaman, dan kepakaran yang tinggi, maka bisa mendapatkan hasil secara mendalam dan bahkan bacaannya telah dilakukan dari berbagai perspektif. Jika belajar di perguruan tinggi dimaknai seperti itu, maka kegiatan itu menjadi sangat menarik. Seorang mahasiswa ekonomi misalnya, akan belajar bagaimana memahami fenomena ekonomi, mulai dari yang sangat mikro hingga yang bersifat makro. Apalagi, kehidupan ekonomi selalu bersifat dinamis, berubah-ubah, selalu terdapat keterkaiatan antara gejala satu dengan gejala lainnya. Dalam kehidupan ekonomi selalu terdapat persaingan, perebutan, konflik, kerjasama, kesepakatan dan lain-lain. Dalam persaingan terdapat mereka yang kuat kemudian menang, dan sebaliknya ada yang lemah, hingga akhirnya kalah. Saya pernah berdiskusi dengan mahasiswa ekonomi. Ketika itu saya menanyakan, kenapa akhir-akhir ini di berbagai kota tumbuh ruko (rumah toko) tetapi tidak banyak yang berkembang. Sebentar saja mereka membuka usaha, tetapi segera berhenti dari usahanya itu. Mahasiswa fakultas ekonomi itu segera menjelaskan, bahwa keadaan itu disebabkan oleh karena penawaran pasar kredit sepeda motor sedemikian mudahnya. Masyarakat klas menengah ke bawah, akhirnya ramai-ramai memanfaatkan fasilitas itu. Selanjutnya, saya menanyakan apa hubungan antara Ruko yang tidak berkembang dengan kredit sepeda motor. Mahasiswa ekonomi segera menjelaskan, bahwa penghasilan masyarakat setiap bulannya setelah dikurangi biaya hidup umumnya hanya cukup untuk membayar kredit sepeda motor. Akibatnya, mereka tidak akan berbelanja ke ruko-ruko baru itu. Sehingga kemudian menyebabkan pasar menjadi sepi dan akhirnya Ruko pun tutup. Contoh lainnya, saya pernah berdiskusi dengan mahasiswa fakultas pendidikan tentang Ujian Nasional yang selalu bermasalah. Mahasiswa tersebut ternyata mampu membaca fenomena pendidikan. Ia menjelaskan bahwa selama ujian nasional masih dikaitkan dengan kekuasaan, prestise, jabatan dan lain-lain, maka hasilnya akan seperti itu. Evaluasi pendidikan yang semestinya dijalankan secara murni untuk kepentingan pendidikan, tetapi setelah kemudian diberi muatan fungsi lainnya, maka terjadi rekayasa, manipulasi dan lainnya, hingga tujuan evaluasi pendidikan yang sebenarnya tidak bisa diraih. Dua contoh tersebut menggambarkan bahwa mahasiswa tersebut telah memiliki kemampuan membaca di bidangnya masing-masing. Kemampuan membaca seperti itu tidak gampang dimiliki oleh semua orang. Mahasiswa hingga berhasil menjawab persoalan itu secara tangkas, karena mereka telah memiliki perhatian yang mendalam terhadap bidang itu, memiliki ketajaman pikiran, sensitivitas, obyektivitas dan informasi-informasi lainnya, termasuk juga bekal wawasan sosial. Tatkala belajar di perguruan tinggi hingga berhasil lulus, mahasiswa melakukan kegiatan seperti contoh itu, maka rasanya menjadi aneh, jika setelah menjadi sarjana mereka kebingungan terhadap apa yang harus dikerjakan. Bukankah selama itu, mereka telah belajar membaca berbagai keadaan, fenomena, peluang-peluang, prinsip-prinsip di bidangnya masing-masing dalam perspektif yang luas. Selama di kampus, mereka disediakan perpustakaan, laboratorium, dan tidak terkecuali para dosen yang setiap waktu bisa ditanya dan diajak berdiskusi, maka fasilitas itu semua semestinya memanfaatkan, hingga kemudian mereka berhasil memiliki kemampuan yang tangguh untuk membaca berbagai peluang itu. Tetapi pada kenyataannya, justru kebingungan itu yang terjadi. Maka, sesungguhnya ada sesuatu yang keliru selama ini dalam belajar di perguruan tinggi. Banyak orang belajar di perguruan tinggi, hanya sebatas mengikuti kegiatan rutin di ruang kelas, mendengar, mencatat, pulang, dan nanti pada waktunya mengikuti ujian akhir dan lulus. Jika demikian itu yang dilakukan, maka artinya tidak ada kesadaran dan usaha-usaha untuk memaksa diri, melakukan apa yang disebut sebagai belajar membaca itu. Sehingga wajar, jika setelah lulus menjadi sarjana pun, mereka masih kebingungan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
