Saya mempunyai seorang teman lama yang menyukai wirausaha. Sejak kecil memang cita-citanya itu, menjadi wirausahawan. Dia tidak tertarik dengan status sebagai pegawai negeri atau karyawan. Pegawai negeri atau karyawan, dia lihat hidupnya selalu terikat. Dia tidak mau hidup seperti itu, dia ingin hidup bebas. Berbagai jenis usaha telah ia lakukan, tetapi saya lihat tidak pernah berkembang secara maksimal. Usahanya sebentar maju, tetapi tidak lama kemudian surut. Setiap gagal dalam satu usaha, dia berganti usaha lainnya. Wataknya yang gigih, tidak pernah mau menyerah, dia selalu mencoba berbagai jenis usaha. Pemilik jiwa entrepreneur ini tidak pernah putus asa, gagal dalam satu jenis usaha, berganti pada yang lain. Pada awalnya, dia punya usaha berupa jasa angkutan barang-barang. Beberapa mobil truk dia miliki. Pada awalnya usaha itu dianggap menguntungkan. Usahanya jalan. Para pekerja, baik sopir dan para pembantunya bekerja dengan baik. Dia merasa senang, bisa mendapatkan untung dan sekaligus berhasil menolong orang, telah memberi pekerjaan. Bahkan dengan keuntungannya itu, dia bisa menambah armada, sehingga truknya berjumlah belasan buah. Akan tetapi tidak lama kemudian, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan usahanya itu. Hitung-hitung di akhir tahun, labanya tidak semakin besar, tetapi sebaliknya, mengecil dan bahkan merugi. Setelah dievaluasi, dia menemukan sumber kerugian itu, ialah terletak pada para pekerjanya. Diketahui bahwa biaya perbaikan truk pada setiap bulan selalu meningkat. Ada saja bagian-bagian mobil yang harus diperbaiki, hingga anggaran perbaikan semakin meningkat. Pendapatan selalu tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan, akibatnya merugi. Setelah diteliti, ternyata diketahui bahwa ada sesuatu yang tidak benar yang dilakukan oleh para pekerjanya. Banyak para sopirnya yang tidak amanah. Pantas mobil selalu harus dibengkelkan, karena beberapa peralatan truk yang asli ditukar dengan yang lain yang berkualitas murah. Bahkan tidak tanggung-tanggung, ban truknya saja ternyata ada yang ditukar dengan ban berkualitas rendah, demi mendapatkan keuntungan dari selisih hasil tukarannya itu. Akhirnya, dia lebih memilih menghentikan usaha itu. Jiwa kewirausahaan teman saya tadi tidak pernah padam. Dia bergabung dengan kenalannya, mendirikan usaha di bidang bangunan. Dengan CV yang dimiliki bersama, mereka memborong pekerjaan bangunan perumahan. Awalnya, dia merasa cocok bekerjasama dengan temannya itu. Sekalipun tidak terlalu cepat, usahanya dianggap berkembang. Dia mendapatkan hasil yang cukup dari usahanya itu. Namun sama dengan usaha sebelumnya, setelah berjalan beberapa lama, ternyata CV yang dibangun bersama itu memiliki pinjaman di mana-mana. Piutangnya di beberapa tempat tidak dibayar, akhirnya bangkrut. Selanjutnya, bermodalkan seadanya dengan memanfaatkan ketrampilan isterinya, dia membuka usaha catering dan rumah makan kecil-kecilan. Dikatakan sama dengan usaha-usaha sebelumnya, bisnisnya itu ada untungnya. Tetapi tidak lama kemudian, bangkrut lagi dan bahkan sekarang sudah tutup. Lagi-lagi sumber persoalannya adalah ada pada tenaga kerjanya. Dia menjelaskan bahwa, sekalipun hanya sebagai pekerja kecil, pada awalnya jujur, tetapi lama kelamaan, ternyata tidak amanah, ada saja yang dikorup, termasuk uang belanja bahan masakan. Dari berbagai pengalamannya itu, dia menyimpulkan bahwa untuk membuka usaha bisnis maka hambatan yang paling sulit diatasi adalah mendapatkan orang yang jujur atau amanah. Dia mengatakan bahwa ternyata sangat sedikit orang jujur, dan karena itu sangat sulit mendapatkannya. Orang yang tidak jujur, ——dia katakan, ternyata ada di mana-mana. Mereka itu ada yang berpendidikan tinggi, menjadi pejabat, tetapi juga sebaliknya, berpendidikan rendah pun juga bisa berbuat tidak jujur. Di semua lapisan selalu ada orang yang tidak amanah. Atas dasar pengalaman itu, dia berkesimpulan, bahwa koruptor itu selalu ada di mana-mana. Bahkan, para pembenci korupsi pun jika mereka memerlukan uang dan berpeluang, tidak menutup kemungkinan akan melakukan hal yang sama, yakni juga menjadi koruptor. Bukti tentang hal itu gampang ditemukan di mana-mana. Kasus pertikaian antara KPK dan Polisi adalah satu di antara sekian banyak bukti tentang hal itu . Dia selanjutnya mengatakan, bahwa inilah beratnya, hidup di negeri yang miskin orang amanah. Usaha apapun menjadi berat dan akhirnya selalu gagal. Teman saya itu, dengan nada pesimis bertanya, apa tidak mungkin melalui pendidikan dan agama, berhasil bisa dibangun orang-orang amanah. Saya mengatakan insya Allah bisa, asal benar caranya dan usaha itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
RektorĀ Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
