Friday, 10 July 2026
above article banner area

Kesamaan Derajad Yang Sejati

Hari Jum’at yang lalu, saya sholat jum’at di airport Juanda, Surabaya. Saya pergi ke Jakarta dan mendapatkan tiket pesawat dari Surabaya pada penerbangan jam 14.00. Sehingga, harus sholat jumát di perjalanan. Ketika itu, saya sholat jum’at di masjid bandara. Jalan dari Malang ke Surabaya agak padat, sehingga nyampai di masjid bandara Juanda hampir terlambat. Tetapi masih untung, bisa mendengarkan khotbah secara sempurna. Sambil mendengarkan khotbah, saya melihat di masjid itu ada pemandangan yang sedemikian menarik. Di antaranya, para jama’ah yang hampir tidak tertampung, karena jumlahnya yang sedemikian banyak, mereka itu sangat variatif. Para jamaáh, selain para pegawai bandara dari berbagai strata, ——dilihat dari pakaian seragamnya, juga terlihat para tentara yang menggunakan seragam, sopir taksi, portal, dan juga para musafir yang akan bepergian lewat terminal itu. Sekalipun jamaáh itu tampak variatif, hal yang sangat menarik bagi saya ketika itu adalah, adanya kesamaan dan kesetaraan derajad di antara mereka. Terlihat para jama’ah sholat jum’at, umumnya masih mengenakan seragam kerja masing-masing. Mereka, sebagian mengenakan jas dan dasi seragam kerjanya, sebagian lain mengenakan baju seragam biasa. Selain itu di antara mereka juga ada mengenakan seragam petugas cleaning service, sebagai porter, dan juga seragam restoran bandara itu. Sebagian lainnya lagi berbaju seragam sopir taksi. Para jamaáh dengan latar belakang yang berbeda-beda itu, tanpa membeda-bedakan identitas, pangkat, golongan, derajad atau apalagi, mereka mengambil tempat duduk atau shof secara bebas untuk sholat sunnah dan mendengarkan khotbah. Di tempat ibadah itu, sama sekali tidak ada perbedaan di antara mereka yang mengenakan baju yang mengambarkan para pemiliknya memiliki pangkat yang berbeda-beda itu. Beberapa orang yang mengenakan seragam cleaning service dan Portal, dengan enaknya menempati shof paling depan. Sebaliknya, di antara mereka yang mengenakan dasi dan bahkan jas lengkap, karena terlambat dating, harus menempati baris paling belakang. Di tempat ibadah itu, setiap orang merasa sama kedudukannya di hadapan Tuhan. Tatkala mengambil tempat duduk, siapapun tidak melihat siapa lebih tinggi dari siapa, sehingga harus diistimewakan. Pangkat, jabatan, besarnya gaji, umur, dan seterusnya di tempat itu tidak perlu diperhitungkan. Satu-satunya ukuran, siapa yang harus duduk di depan dan sebaliknya, siapa yang harus duduk di belakang, hanyalah tergantung soal waktu tiba di tempat itu. Siapapun yang datang duluan berhak mengambil tempat di bagian paling depan, sedangkan yang tiba terakhir harus mau menempati tempat paling belakang, dan bahkan bisa jadi, mereka tidak kebagian tempat. Pemandangan yang sangat berbeda dengan apa yang terlihat di masjid itu, adalah kehidupan masyarakat sehari-hari. Semua orang mengejar sumber-sumber yang dianggap berharga dan istimewa seperti harta, pangkat, kuasa, pengaruh, dan lain-lain. Usaha mengejar keistimewaan dan fasilitas itu ada sebagian berhasil dan sebaliknya, sementara lainnya gagal. Keadaan seperti itu melahirkan perbedaan-perbedaan di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari. Ada sebagian orang yang merasa harus dihormati, sementara lainnya menghormati. Naluri orang ingin mengejar posisi terhormat dan istimewa. Kepuasan diperoleh karena merasa telah sukses dan berhasil dirinya berbeda dari orang lain pada umumnya. Semangat menjadi berbeda dan teristimewakan inilah sesungguhnya yang menjadikan orang bersaing dan berebut. Adanya semangat berbeda dan istimewa itu, maka pada umumnya tempat-tempat pelayanan umum, seperti di airport, restoran, hotel, bahkan perguruan tinggi pun menyediakan klas istimewa yang disebut dengan klas eksekutif. Fenomena itu menjadikan masyarakat terbagi-bagi, antara yang kaya dan miskin, yang berpangkat dan mereka yang tidak punya pangkat, klas atas dan klas bawah, dan seterusnya. Akhirnya, derajad orang dianggap berbeda antara satu dengan lainnya. Padahal, sesungguhnya jika direnungkan secara mendalam dan bahkan sebagaimana agama mengajarkan, semua orang adalah berderajad sama. Jika ada perbedaan yang harus diistimewakan, hanya terletak pada keimanan, ketaqwaan, dan ilmu yang disandangnya. Umpama nuansa kesamaan di tempat ibadah itu sedikit saja mewarnai kehidupan sehari-hari, maka orang tidak merasa perlu mengejar-ngejar keistimewaaan dari lainnya. Orang tidak berebut sesuatu yang hanya melahirkan prestise. Sayangnya, dorongan nafsu agar lebih berkuasa, lebih kaya, lebih terhormat, lebih banyak memiliki pengaruh selalu melekat pada setiap orang. Hal itulah yang menjadikan kehidupan selalu diwarnai oleh saling berlomba mengejar semua fasilitas itu. Agar disebut kaya, maka orang sehari-hari mengumpulkan harta dengan apapun caranya. Agar dianggap berpengaruh dan berkuasa, maka orang sehari-hari mengatur strategi bagaimana agar kekuasaan diraih dan berhasil dipertahankan, dan seterusnya. Perbedaan itu adalah niscaya. Seseorang memiliki kelebihan atas lainnya dan begitu juga sebaliknya. Namun kelebihan yang dipandang mulia, menurut Islam hanyalah keimanan, ketaqwaan dan kekayaan ilmu. Oleh karena itu orang dianjurkan untuk mengejar keunggulan tersebut. Selain itu, kelebihan berupa apapun, tidak akan dihitung. Semua orang dianggap sama, persis seperti orang-orang tatkala sholat jum’at, sebagaimana dikemukakan di muka. Tidak ada orang yang dipandang lebih dari yang lain. Orang kaya dan berpangkat tinggi sekalipun, dalam sholat berjama’ah harus mau kepalanya berada di belakang dan bahkan di bagian bawah pantat orang kecil atau stafnya sekalipun yang berada di shof depannya. Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa semua orang memiliki derajad yang sama. Namun pada kenyataannya, selalu saja orang ingin diutamakan, diistimewakan, berharap menjadi lebih unggul, berpengaruh, lebih kaya, berkuasa dan lain-lain. Nafsu seperti itulah yang menjadikan orang berebut, bersaing, dan bahkan harus konflik antara sesama. Untung di tengah-tengah persaingan dan perebutan itu, ummat Islam memiliki pelajaran berharga tentang kesamaan itu, yakni melalui sholat berjama’ah. Tatkala saya mengikuti sholat jum’at di komplek Bandara Juanda Surabaya, ——minggu yang lalu, di tengah-tengah hiruk pikuk perbedaan sesama manusia itu, saya masih melihat dan merasakan adanya kesamaan derajad yang sejati itu. Wallahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *