Sunday, 10 May 2026
above article banner area

Hidup Di Tengah Berbagai Macam Nilai

Akhir-akhir ini kiranya banyak orang merasakan, bahwa betapa banyak macam nilai yang bisa digunakan untuk menimbang, apakah sesuatu itu baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, benar atau salah untuk dilakukan. Orang jawa misalnya, dalam menilai sesuatu menggunakan ukuran tersendiri yang kadang agak berbeda dari etnis lainnya. Begitu pula, perbedaan nilai itu terkait dengan agama seseorang. Akhir-akhir ini, masih ditambah lagi dengan nilai-nilai baru, yaitu nilai yang bersumber dari pandangan demokrasi. Jika telah terbiasa, banyaknya nilai itu tidak terasakan sebagai sesuatu yang berat atau merepotkan. Mereka bisa beradaptasi, karena sudah saling memahaminya. Akan tetapi, jika hal itu dianggap sebagai hal baru, rasanya memang agak berat menerimanya. Karena itu kalaupun harus menerima, maka akan dirasakan berat dan menyiksa batin. Beratnya menghadapi beberapa nilai yang berbeda itu, bisa dicontohkan melalui kejadian berupa demontrasi di ibu kota, terkait kasus Bank Century, pada akhir-akhir ini. Berdemonstrasi dengan membawa-bawa foto ukuran besar para pejabat negara, yang foto-foto tersebut dimanipulasi dengan gigi dan taring besar, sehingga tampak tidak semestinya, maka tidak semua orang bisa menerimanya. Begitu pula, dengan membawa kerbau, dan bahkan diikuti oleh orang-orang berpakaian aneh, sebatas mengenakan celana dalam tanpa baju, tampak tidak pantas. Saya sebagai orang jawa, dan mungkin juga orang dari etnis lainnya, akan merasakan bahwa demonstrasi seperti itu tidak selayaknya dilakukan. Sebagai orang jawa, ada keharusan untuk selalu menjaga sopan santun, tata karma, dan unggah-ungguh, apalagi terhadap para pemimpinnya. Menyimpang dari adat istiadat itu dianggap sebagai orang yang kurang ajar. Para pelakunya akan dianggap sebagai orang nakal, dan biasanya mereka akan dianggap sebagai orang yang tidak perlu dihormati lagi. Orang Jawa sebenarnya telah lama mengenal tradisi protes terhadap pemimpinnya, jika yang bersangkutan diperlakukan tidak jujur dan adil. Protes itu biasanya dilakukan dengan cara sesopan-sopannya. Dalam adat Jawa dikenal ada istilah pepe, atau menjemur diri di alun-alun atau lapangan. Biasanya, alun-alun atau lapangan terletak di depan kantor pemerintahan, sehingga jika ada orang pepe pertanda protes, segera diketahui oleh penguasa. Melihat adanya orang protes atau demo tersebut, penguasa segera menanyakan dan menyelesaikan persoalannya. Demikian pula sebagai orang Islam, dan saya kira juga penganut agama lainnya, saya harus menjaga apa yang disebut dengan istilah akhlak. Orang Islam dituntut selalu mengikuti ajaran Rasulnya, yaitu menjaga akhlak yang baik dan mulia. Betapa pentingnya akhlak, nabi pernah bersabda, bahwa ia diutus oleh Allah tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam ajaran Islam, seseorang tidak boleh mempermalukan orang lain, mengolok-olok, mencaci maki, dan menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Dikatakan dalam kitab suci, bahwa bisa jadi orang yang diolok-olok, dicaci maki, dan direndahkan itu justru lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, mencaci maki, dan merendahkan itu. Karena itu ajaran Islam yang sangat mulia melarang adanya orang saling berolok-olok, mencaci maki, sekedar untuk saling menyakiti hati sesamanya. Dalam Islam, jika muncul persoalan, maka dianjurkan agar segera diselesaikan dengan cara bermusyawarah. Di antara sesama tidak boleh ada pihak-pihak yang lebih diutamakan dan sebaliknya, direndahkan. Islam menganjurkan segala sesuatu diselesaikan secara jujur, damai, dan adil. Harkat dan martabat manusia, tidak ada yang terkecuali, semuanya harus dihormati dan dijunjung tinggi. Akhir-akhir ini, di berbagai banyak tempat, dengan menggunakan dalih berdemokrasi, sementara orang melakukan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan persoalannya. Mereka menggunakan simbol-simbol bernada menghina, menggunakan kata-kata kotor, merendahkan, mencaci maki, dan bahkan membawa-bawa kerbau segala, dengan maksud untuk menusuk perasaan orang yang sedang diprotes. Perilaku seperti itu, dianggapnya boleh dan syah di alam demokrasi. Namun bukankah sesungguhnya, sebagai orang yang menganut tata nilai, yang bersumber dari adat istiadat, agama, dan juga nilai-nilai dari bangsa Indonesia yang dikenal santun, maka berdemokrasi pun seharusnya tetap menghormati dan menjaga harkat dan martabat orang lain. Keadilan, kebenaran, dan kejujuran, memang harus diperjuangkan. Namun dalam memperjuangkan itu semua semestinya masih tetap, harus menjaga nilai-nilai luhur yang dimiliki selama ini, baik yang bersumber dari adat istiadat itu, agama, maupun yang bersumber dari nilai-nilai bangsa ini. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

RektorĀ  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *