Memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa selalu memerlukan orang-orang yang memiliki pikiran dan jiwa besar. Orang yang berpikiran dan berjiwa besar sehari-hari bukan hanya sibuk mengurus dirinya sendiri dan keluarganya, melainkan berpikir dan berbuat untuk orang lain yang lebih banyak. Kebesaran seseorang biasanya diukur dari seberapa luas pengaruhnya dan juga seberapa banyak orang-orang yang telah diuntungkan dari keberadaannya. Orang memiliki pengaruh luas biasanya diangkat sebagai pemimpin. Masyarakat selalu membutuhkan peran pemandu dari orang-orang seperti itu. Tiga hari berturut-turut, saya menulis tentang gambaran masa depan UIN Maliki Malang. Saya gambarkan bahwa perguruan tinggi Islam ini diharapkan oleh banyak orang, agar ke depan semakin maju, sehingga menjadi kebanggaan umat. Umat Islam sudah lama merindukan lahirnya lembaga pendidikan tinggi Islam yang besar dan maju. Islam sebagaimana ajarannya yang agung dan mulia, diharapkan melahirkan karya-karya yang agung pula. Akan tetapi pada kenyataannya, selama ini banyak instutusi yang berlabel Islam dikelola apa adanya dan berjalan ala kadarnya pula. Keadaannya kadang menyedihkan. Atas kenyataan itu, saya menyebut bahwa tidak sedikit lembaga pendidikan Islam bercirikan tahan hidup, tetapi sukar maju dan kaya masalah. Antara idealitas Islam dengan kenyataan yang ada, seringkali berjarak terlalu jauh. Kenyataan seperti itulah sehingga menjadikan umat Islam menyambut gembira tatkala ada institusi berlabelkan Islam memiliki tanda-tanda mengalami kemajuan. Telah banyak saya pelajari institusi yang berlabelkan Islam pada awalnya mengalami kemajuan, tetapi kemudian berhenti dan bahkan menurun. Memang, kehidupan organisasi, tidak terkecuali yang berlabelkan Islam, selalu mengikuti siklus kehidupan. Setiap organisasi selalu diawali dari kelahiran, lalu masuk pada fase pertumbuhan, kemudian berkembang menjadi dewasa, akhirnya menua dan kemudian mati. Siklus kehidupan organisasi seperti itu, rupanya juga terjadi pada lembaga pendidikan Islam. Persoalannya adalah bagaimana agar fase pertumbuhan organisasi itu bisa berlangsung lama dan berjalan cepat. Fase berikutnya, kalau bisa tidak perlu segera datang, sehingga lembaga pendidikan Islam selalu berada pada fase pertumbuhan. Jika membayangkan organisasi sebagai sebatang kayu yang sedang tumbuh, agar pertumbuhan itu berjalan lama dan cepat, maka memerlukan pupuk dan perawatan yang tidak pernah henti. Perawatan yang dimaksudkan di sini adalah keharusan adanya kepemimpinan dan managerial yang dinamis, visioner, dan penuh vitalitas. Kepemimpinan dalam berbagai organisasi, tidak terkecuali organisasi pendidikan Islam, perannya sangat strategis dan menentukan. Hampir-hampir kemajuan atau dinamika lembaga pendidikan Islam ditentukan oleh kekuatan pemimpinnya. Jika sebuah lembaga pendidikan kebetulan dipimpin oleh orang yang memiliki kemampuan leadership dan managerial yang kuat, maka lembaga tersebut akan mengalami kemajuan, dan begitu juga sebaliknya. Kepemimpinan bisa dilakukan oleh sebuah tiem, atau sekelompok orang. Akan tetapi, di antara sekelompok orang itu harus ada seorang yang benar-benar menjadi anutan dalam pengertian yang luas dan mendalam. Seorang pemimpin harus menjadi kekuatan penggerak, pengarah dan memperkukuh seluruh komponen yang ada dengan caranya sendiri. Menggerakkan orang merupakan seni tersendiri, sehingga sekalipun hal itu bisa dipelajari, tetapi ternyata dalam praktek tidak selalu bisa dicontoh secara apa adanya. Pemimpin yang berhasil menjadi kekuatan penggerak, penunjuk arah, penentu strategi, dan keberadaannya selalu memperkukuh komponen yang lain sebenarnya adalah orang-orang yang menyandang pikiran dan berjiwa besar. Banyak orang yang berkeinginan menjadi pemimpin, tetapi ternyata tidak memiliki bekal itu. Orang semacam itu, sekalipun berposisi sebagai pemimpin tetapi gagal menjadi kekuatan penggerak, bahkan sebaliknya justru menjadi beban organisasi. Sebagai orang yang menyandang pikiran dan jiwa besar, biasanya selalu berupaya agar lembaga yang dipimpinnya maju dan berkembang, sekalipun mereka secara pribadi tidak mendapatkan keutungan apa-apa. Sehari-hari pemimpin hanya memikirkan kemajuan lembaga yang dipimpinnya itu. Orang yang memiliki pikiran dan jiwa besar biasanya mampu mengalahkan kepentingan diri dan keluarganya, dan lebih mengedepankan kepentingan yang lebih besar, yaitu kemajuan institusinya. Lebih dari itu, seorang pemimpin, selain harus berjuang terus menerus, juga harus berani berkorban. Berjuang dan berkorban secara bersama-sama harus ada pada diri seorang pemimpin. Hanya saja, seringkali banyak orang bertanya sebagai tanda ragu, apakah pemimpin yang menyandang pikiran dan jiwa besar seperti yang digambarkan itu, ——-di tengah hiruk pikuk kehidupan yang serba transaksional dan materialistik seperti ini, masih akan ada. Saya selalu meyakini akan adanya. Hanya persoalannya, di era demokrasi seperti ini, apakah umat berhasil memilihnya secara tepat. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
RektorĀ Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
