Di masa penerimaan murid atau mahasiswa baru, lembaga pendidikan menawarkan jasanya kepada para calon murid atau mahasiswa baru. Penawaran itu disampaikan melalui berbagai cara, baik secara lisan ataupun secara tertulis. Penawaran secara lisan, dilakukan dengan cara menunjuk petugas, datang ke sekolah-sekolah jenjang lebih rendah, agar lulusannya terpengaruh, kemudian memilih lembaga pendidikannya.
Selain itu, tawaran juga disampaikan secara tertulis lewat leaflet, brosur, media elektronik, seperti tv, radio dan lainnya. Tawaran itu biasanya dikemas secara menarik. Lewat media itu ditunjukkan fasilitas pendidikan yang dimiliki, kemudahan yang akan diterima, dan tidak ketinggalan janji-janji kemudahan yang akan didapat, setelah mereka lulus. Umumnya lembaga pendidikan kejuruan dan atau perguruan tinggi, menjanjikan kepada para lulusannya akan segera mendapatkan pekerjaan. Mereka menawarkan bahwa lembaga pendidikannya akan bisa menolong untuk mempermudah mendapatkan lapangan pekerjaan. Penawaran yang dilakukan seperti itu, memperteguh keyakinan banyak pihak bahwa pada saat sekarang, dan apalagi di masa depan, betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Sedangkan institusi pendidikan yang dikelolanya mampu mengatasi persoalan berat itu. Cepat lulus dan mendapatkan gelar dan pekerjaan. Rasanya memang agak aneh, lembaga pendidikan bukan menawarkan ilmu, kepribadian atau akhlak mulia yang akan dibentuk, atau ketrampilan, melainkan ijazah dan pekerjaan. Akhirnya, lembaga pendidikan terdegradasi hanya sebagai instrument mendapatkan pekerjaan. Institusi pendidikan tinggi hanya diperankan sebatas institusi menyiapkan orang untuk mendapatkan pekerjaan, status, uang, dan kedudukan. Padahal sebagaimana seharusnya, pendidikan tinggi adalah tempat riset, mencari kebenaran, kearifan, dan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi memiliki tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ternyata, di alam yang sangat prakmatis seperti sekarang ini, perguruan tinggi sehebat apapun tidak menawarkan misinya yang utama itu. Semestinya, apa yang ditawarkan oleh perguruan tinggi adalah jasanya, berupa kemampuan menjadikan para lulusannya mahir dalam melakukan penelitian, penulisan karya ilmiah, bersikap obyektif, terbuka dan memiliki integritas tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Selain itu peguruan tinggi menawarkan, bahwa siapapun yang belajar di kampusnya akan mampu memecahkan persoalan pelik atas dasar disiplin ilmu yang dikuasainya. Perguruan tingg akan menjamin bahwa lulusannya akan benar-benar memiliki keahlian tertentu yang diakui oleh masyarakat akademik. Selanjutnya, prestasi itu akan diraih, oleh karena kampusnya telah memiliki sekian banyak guru besar yang diakui otoritas keilmuannya, karya-karya besar akademik, fasilitas laboratorium, kegiatan yang menunjang lahirnya watak professional dan terbentuknya berbagai kedewasaan secara utuh, baik kedewasaan spiritual, intelektual, sosial, professional, dan lainnya. Inilah semestinya yang ditawarkan oleh perguruan tinggi, dan bukan sebatas menawarkan hal-hal sederhana yakni lapangan pekerjaan itu. Memang siapapun mengakui, bahwa lapangan pekerjaan adalah penting bagi siapapun. Semua orang membutuhkannya. Akan tetapi, misi perguruan tinggi bukan sebatas itu. Orang cerdas, berkepribadian, dan memiliki kemampuan professional, sebatas mendapatkan pekerjaan tidak sulit. Bahkan, orang yang benar-benar memiliki berbagai kelebihan tersebut, maka tidak sampai mencari pekerjaan, melainkan justru sebaliknya, akan dicari oleh banyak orang. Siapapun yang memiliki pikiran cerdas, kepribadian unggul, dan professional justru akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru. Banyaknya pengangguran sarjana pada saat sekarang ini, sesungguhnya bukan sebatas disebabkan oleh jumlah lapangan pekerjaan yang terbatas, melainkan oleh karena kualitas hasil pendidikan tinggi yang terbatas. Perguruan tinggi yang hanya mampu mengumbar janji dan ijazah, —–minus ilmu, kepribadian, dan kemampuan professional, hanya akan memperbanyak pengangguran. Memang pada saat ini, masih banyak perguruan tingi yang baru menawarkan hal-hal yang bersifat sederhana, seperti misalnya mahasiswanya cepat lulus, ijzahnya cepat didapat, gedung dan fasilitasnya lengkap, gelarnya double, dan semacamnya. Padahal sekolah atau perguruan tinggi pada hakekatnya memiliki tugas utama, menumbuh-kembangkan manusia secara utuh, agar siswa/mahasiswa memiliki kepribadian yang tangguh, ilmu, pengalaman, dan kemampuan profesional, dan bukan sebatas janji berupa pemberian gelar dan atau ijazah. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
