Bulan lalu, tepatnya pada tanggal 7 Juli 2010, tidak kurang dari 50 orang pimpinan perguruan tinggi Katholik se Indonesia, secara bersama-sama datang ke UIN Maliki Malang untuk melakukan studi banding atau lebih tepat disebut tukar pikiran menyangkut tentang pengembangan pendidikan tinggi. Mereka itu datang dari berbagai daerah, mulai dari Medan, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Maluku, Ende, Kalimatan, Papua dan lain-lain.
Semula mereka ingin mendapatkan penjelasan tentang pengembangan kelembagaan dan manajemen organisasi perguruan tinggi. Namun, rupanya mereka juga tertarik pada pengembangan lainnya, termasuk pengembangan akademik, kemahasiswaan, dan tidak terkecuali pada pengembangan ma’had kampus. Kehadiran mereka dikoordinasi oleh Direktorat Jendral Pembinaan Masyarakat Katholik Kementerian Agama Pusat, Jakarta. Dalam kesempatan itu, saya selaku pimpinan UIN Maliki Malang menjelaskan bahwa kunjungan seperti ini menjadi hal wajar dan bahkan saya telah merasakan sangat besar manfaatnya bagi peningkatan semangat atau gairah baru dalam pengembangan masing-masing perguruan tinggi yang berlatar belakang keimanan berbeda. Pata Pastur dan suster, ——pimpinan perguruan tinggi Katholik, sependapat dengan pandangan tersebut. Pada pertemuan tersebut, saya menjelaskan bahwa, di awal pengembangan UIN Maliki Malang, sekitar tahun 1998, saya bentuk sebuah tim untuk melakukan kegiatan studi banding. Dalam kegiatan studi banding tersebut, saya arahkan mendatangi perguruan tinggi Kristen dan Katholik yang telah maju di Indonesia, di antaranya ke Universitas Kristen Petra Surabaya, Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya, Universitas Satya Wacana Salatiga, Universitas Katholik Sugiya Pranata Semarang, Universitas Katholik Parahyangan Bandung, UKI, Universitas Atma Jaya dan lain-lain. Melalui kunjungan itu saya bermaksud agar mereka mengetahui perkembangan dan langkah-langkah perguruan tinggi dimaksud dalam memajukan lembaganya masing-masing dari berbagai aspeknya. Tidak kurang dari 10 hari studi banding itu dilakukan, dan ternyata hasilnya sangat besar sekali. Di samping diperoleh pengetahuan tentang strategi pengembangan perguruan tinggi, juga tumbuh kesadaran dan semangat baru, yang selanjutnya menjadi kekuatan untuk mengembangkan UIN Maliki Malang ini. Rupanya penjelasan tersebut menambah semangat baru untuk saling tahu, dan sekaligus juga menyadarkan betapa pentingnya antar perguruan tinggi yang kebetulan dikembangkan oleh umat yang berlatar-belakang keimanan berbeda saling bertemu dan berbagi pengetahuan sebagai bekal untuk memajukan kampusnya masing-masing. Jika kegiatan seperti ini banyak dilakukan maka akan terjadi saling memahami, menghormati dan kerjasama. Saya yakin, kesempatan saling bertemu semacam ini akan semakin menunjukkan bahwa Islam menjadi dikenal dan diketahui oleh kalangan penganut iman lainnya, sebagai agama yang kokoh dari berbagai aspeknya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
