Wednesday, 20 May 2026
above article banner area

Tatkala Banyak Pesantren Mendirikan Perguruan Tinggi

UIN Maliki Malang, sejak masih berbentuk STAIN telah melengkapi dirinya dengan ma’had atau juga disebut pesantren. Maka perguruan tinggi ini,  sejak itu, mengembangkan dua tradisi sekaligus, yaitu tradisi perguruan tinggi dan tradisi pesantren. Awalnya kebijakan itu dianggap aneh. Banyakl orang yang setuju, tetapi juga sebaliknya, meragukan akan berhasil. Bahkan tidak sedikit pihak yang menolak, mereka khawatir kebijakan ini akan menganggu citra pesantren.

  Sebetulnya kebijakan itu bukan merupakan hal baru. Sebelumnya, telah banyak pesantren yang melengkapi institusinya dengan universitas.  Misalnya, pesantren Darul Ulum Jombang, telah lama  mendirikan universitas. Kita mengenal universitas Darul Ulum di Jombang, yang dulu dipimpimpin oleh KH Mustaín Ramli, adalah perguruan tinggi yang dibangun di tengah-tengah pondok pesantren.  Perguruan tinggi ini  pada awalnya  tumbuh sangat pesat, dan menjadi dikenal oleh masyarakat luas dari mana-mana.   Selain Universitas Darul Ulum Jombang yang berdiri di tengah pesantren, juga masih banyak lagi lainnya. Beberapa di antaranya, saya lihat pesantren Salafiyah Syafiíyah Asem Bagus, Situbondo, Pesantren Nurul Jadid  Probolinggo, Pesantren Sunan Drajad di Lamongan, pesantren yang diasuh oleh KH Sahal Mahfudz di Kajen, Pati,  juga mulai mendirikan perguruan tinggi, sekalipun pada saat ini masih berupa sekolah tinggi.  Dan, masih banyak lagi pesantren lainnya, besar atau kecil,  melengkapi institusinya dengan lembaga pendidikan tinggi.   Bahkan, banyak pondok pesantren yang pada saat ini tidak saja  melengkapi institusinya dengan lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga lembaga pendidikan umum tingkat dasar dan menengah. Banyak di tengah pondok pesantren didirikan madrasah, mulai dari madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah, dan bahkan juga sekolah umum, seperti  SD, SMP dan SMA, atau SMK. Oleh karena itu,  pendidikan pondok pesantren,  keadaannya cukup bervariatif. Pesantren dengan model lama yang khusus  hanya menyelenggarakan pendidikan  sistem sorogan, wekton dan bandongan,  mengkaji kitab-kitab kuning,   sekalipun masih ada, jumlahnya semakin sedikit.   Kenyataan seperti  itu, mungkin orang akan bertanya, sebenarnya apa yang melatar belakangi munculnya gejala pesantren mendirikan sekolah umum dan sebaliknya,    sekolah umum bersemangat  mendirikan pesantren. Tentu,  pertanyaan seperti itu  tidak bisa semuanya dijawab dengan mudah, kiranya banyak faktor yang melatar-belakanginya.   Semangat pesantren mendirikan sekolah umum dan bahkan juga universitas, ternyata belum berhenti. Padahal  gejala seperti itu sudah cukup lama muncul. Umpama  adanya universitas di tengah-tengah pesantren  ternyata melahirkan gejala yang dianggap negative, sehingga merugikan tradisi pesantren, maka tidak akan ada lagi universitas baru yang tumbuh di tengah-tengah pesantren. Tetapi  gejala itu  ternyata masih  saja muncul  di beberapa tempat. Bahkan pesantren yang pada saat ini telah berhasil mendirikan sekolah tinggi, berharap suatu ketika,   institusinya berubah  menjadi universitas.   Pada hari Sabtu tanggal 6 Nopember 2010, dua hari yang lalu, setelah menghadiri seminar internasional di STAIN Kediri, sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama, Direktorat Pondok Pesantren bekerjasama dengan universitas Airlangga membahas tentang kelanjutan program beasiswa santri berprestasi,  saya singgah di pesantren Tambak Beras Jombang. Kehadiran saya di pesantren yang didirikan oleh KH Hasbullah,  untuk memenuhi permintaan Ibu Nyai Hisbiyah, pimpinan yayasan pendidikan pesantren itu untuk membicarakan  rencana pendirian universitas  yang rencananya  diberi nama Universitas KH Wahab Hasbullah di Jombang.        Mengamati kenyataan itu, saya mencoba memahami bahwa,  ternyata perubahan pandangan tentang konsep pendidikan,  senantiasa masih terjadi. Semula, sementara  orang meyakini bahwa pendidikan terbaik adalah pesantren. Sebab dengan pesantren maka pendidikan ruhani dan juga akhlak yang diberikan oleh kyai akan terjadi dan berjalan dengan baik. Pendidikan seperti ini dianggap penting dan menjadi pilihan yang terbaik. Akan tetapi, ternyata dengan melihat kenyataan  dan tantangan hidup sehari-hari, maka pikiran mereka  berkembang atau bahkan berubah. Bahwa pendidikan pesantren yang mengedepankan aspek ruhani atau spiritual dan akhlak, dianggap belum mencukupi. Pendidikan tersebut dianggap  harus disempurnakan dengan institusi lain, berupa perguruan tinggi  yang lazimnya  lebih mengembangkan aspek intelektual.   Sejalan dengan itu, bahwa dahulu  sementara orang belajar di pesantren dan akhirnya mendapatkan   sebutan kyai dari masyarakatnya, sehingga banyak orang yang di depan namanya dibubuhkan sebutan  Kyai  Haji (KH). Tetapi ternyata  ilmu yang diperoleh dari pesantren dianggap belum cukup dan akhirnya yang bersangkutan menempuh pendidikan di perguruan tinggi, hingga mendapatkan gelar akademik. Maka akhirnya  banyak pimpinan pesantren yang memiliki gelar Doktorandus, Master, dan bahkan juga Doktor.   Kita melihat sekarang ini, begitu  lengkap gelar-gelar itu dibibuhklan di depan nama seseorang. Misalnya Profesor Doktor, Kyai Haji,  dan di belakang nama itu masih ada lagi gelar lainnya, seperti MM, M.Pd, MA, M.Sc dan lain-lain.   Perubahan itu jika diamati secara saksama terasa  menarik, dan itulah sebenarnya sebuah kehidupan. Dalam pentas kehidupan ini tidak ada  sesuatu yang tetap, stagnan dan atau berhenti. Kehidupan ini selalu pasang dan surut,  maju dan atau mundur,  tetapi ada juga yang tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaannya.  Selain itu, kiranya perubahan itu tidak saja yang bersifat simbolik,  melainkan juga terkait dengan  pemahaman keagamaan yang dimiliki dan dialami  oleh banyak orang. Sekalipun pada awalnya orang haya mementingkan aspek spiritual, ternyata lama kelamaan berkembang, ingin melengkapi dengan kekayaan lainnya,  seperti kedewasaan  sosial dan bahkan juga intelektual, agar semuanya menjadi semakin  sempurna.   Perubahan itu, dalam kehidupan ini memang  selalu  terjadi, dan  dialami oleh siapapun, tidak saja  menyangkut institusi, tetapi juga  menyangkut aspek-aspek kehidupan  lainnya secara keseluruhan. Orang yang mempertahankan apa yang ada, lama kelamaan akan ditinggal oleh zaman, dan akhirnya menjadi  orang yang ketinggalan zaman.  Dalam kehidupan ini, perubahan  adalah sesuatu yang lazim terjadi, apapun tingkat perubahan itu. Maka  yang penting,  perubahan itu hendaknya mengarah pada tingkat yang lebih sempurna.   Ketika sedang  merenungkan hal itu, ingatan saya tertuju  pada ayat yang sehari-hari saya baca dalam surat al Fatehah.  Di sana ada ayat yang berbunyi : ihdinashirathal mustaqiem. Ayat itu artinya, tunjukkan kami kepada jalan yang lurus. Dalam pikiran saya, ——dengan ayat itu, tidak selayaknya menganggap bahwa selama ini kita sudah  berada di jalan yang paling benar, apalagi sempurna.   Bagi saya, ayat  tersebut  memberikan isyarat bahwa jalan yang paling benar dan atau lurus itu masih harus dicari dan dituntun, dibimbing  dan ditunjukkan oleh Allah swt., sepanjang dalam menjalani kehidupan ini.  Dengan demikian, perubahan pada diri seseorang justru  dipandang wajar terjadi. Dan itulah  sebabnya,  umat Islam selalu dianjurkan untuk mencari dan mengembangkan  ilmu pengetahuan, sebagai dasar   terjadinya perubahan,  menuju kehidupan yang terbaik.     Oleh karena itu, tatkala pondok pesantren mengalami perubahan dan bahkan juga menyempurnakan institusinya dengan mendirikan  perguruan tinggi, maka itu adalah sesuatu hal yang tidak sulit dipahami. Dengan demikian, ke depan di pondok pesantren tidak saja dikaji al Qurán dan hadits  maupun kitab-kitab kuning, melainkan juga kitab-kitab biologi, fisika, kimia, matematika, astronomi, sosiologi, psikologi, sejarah dan seterusnya. Tokh sebenarnya al Qurán dan hadits  juga menganjurkan agar manusia mempelajari ciptaan-Nya  baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *