UIN Maliki Malang, sejak masih berbentuk STAIN telah melengkapi dirinya dengan ma’had atau juga disebut pesantren. Maka perguruan tinggi ini, sejak itu, mengembangkan dua tradisi sekaligus, yaitu tradisi perguruan tinggi dan tradisi pesantren. Awalnya kebijakan itu dianggap aneh. Banyakl orang yang setuju, tetapi juga sebaliknya, meragukan akan berhasil. Bahkan tidak sedikit pihak yang menolak, mereka khawatir kebijakan ini akan menganggu citra pesantren.
Sebetulnya kebijakan itu bukan merupakan hal baru. Sebelumnya, telah banyak pesantren yang melengkapi institusinya dengan universitas. Misalnya, pesantren Darul Ulum Jombang, telah lama mendirikan universitas. Kita mengenal universitas Darul Ulum di Jombang, yang dulu dipimpimpin oleh KH Mustaín Ramli, adalah perguruan tinggi yang dibangun di tengah-tengah pondok pesantren. Perguruan tinggi ini pada awalnya tumbuh sangat pesat, dan menjadi dikenal oleh masyarakat luas dari mana-mana. Selain Universitas Darul Ulum Jombang yang berdiri di tengah pesantren, juga masih banyak lagi lainnya. Beberapa di antaranya, saya lihat pesantren Salafiyah Syafiíyah Asem Bagus, Situbondo, Pesantren Nurul Jadid Probolinggo, Pesantren Sunan Drajad di Lamongan, pesantren yang diasuh oleh KH Sahal Mahfudz di Kajen, Pati, juga mulai mendirikan perguruan tinggi, sekalipun pada saat ini masih berupa sekolah tinggi. Dan, masih banyak lagi pesantren lainnya, besar atau kecil, melengkapi institusinya dengan lembaga pendidikan tinggi. Bahkan, banyak pondok pesantren yang pada saat ini tidak saja melengkapi institusinya dengan lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga lembaga pendidikan umum tingkat dasar dan menengah. Banyak di tengah pondok pesantren didirikan madrasah, mulai dari madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah, dan bahkan juga sekolah umum, seperti SD, SMP dan SMA, atau SMK. Oleh karena itu, pendidikan pondok pesantren, keadaannya cukup bervariatif. Pesantren dengan model lama yang khusus hanya menyelenggarakan pendidikan sistem sorogan, wekton dan bandongan, mengkaji kitab-kitab kuning, sekalipun masih ada, jumlahnya semakin sedikit. Kenyataan seperti itu, mungkin orang akan bertanya, sebenarnya apa yang melatar belakangi munculnya gejala pesantren mendirikan sekolah umum dan sebaliknya, sekolah umum bersemangat mendirikan pesantren. Tentu, pertanyaan seperti itu tidak bisa semuanya dijawab dengan mudah, kiranya banyak faktor yang melatar-belakanginya. Semangat pesantren mendirikan sekolah umum dan bahkan juga universitas, ternyata belum berhenti. Padahal gejala seperti itu sudah cukup lama muncul. Umpama adanya universitas di tengah-tengah pesantren ternyata melahirkan gejala yang dianggap negative, sehingga merugikan tradisi pesantren, maka tidak akan ada lagi universitas baru yang tumbuh di tengah-tengah pesantren. Tetapi gejala itu ternyata masih saja muncul di beberapa tempat. Bahkan pesantren yang pada saat ini telah berhasil mendirikan sekolah tinggi, berharap suatu ketika, institusinya berubah menjadi universitas. Pada hari Sabtu tanggal 6 Nopember 2010, dua hari yang lalu, setelah menghadiri seminar internasional di STAIN Kediri, sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama, Direktorat Pondok Pesantren bekerjasama dengan universitas Airlangga membahas tentang kelanjutan program beasiswa santri berprestasi, saya singgah di pesantren Tambak Beras Jombang. Kehadiran saya di pesantren yang didirikan oleh KH Hasbullah, untuk memenuhi permintaan Ibu Nyai Hisbiyah, pimpinan yayasan pendidikan pesantren itu untuk membicarakan rencana pendirian universitas yang rencananya diberi nama Universitas KH Wahab Hasbullah di Jombang. Mengamati kenyataan itu, saya mencoba memahami bahwa, ternyata perubahan pandangan tentang konsep pendidikan, senantiasa masih terjadi. Semula, sementara orang meyakini bahwa pendidikan terbaik adalah pesantren. Sebab dengan pesantren maka pendidikan ruhani dan juga akhlak yang diberikan oleh kyai akan terjadi dan berjalan dengan baik. Pendidikan seperti ini dianggap penting dan menjadi pilihan yang terbaik. Akan tetapi, ternyata dengan melihat kenyataan dan tantangan hidup sehari-hari, maka pikiran mereka berkembang atau bahkan berubah. Bahwa pendidikan pesantren yang mengedepankan aspek ruhani atau spiritual dan akhlak, dianggap belum mencukupi. Pendidikan tersebut dianggap harus disempurnakan dengan institusi lain, berupa perguruan tinggi yang lazimnya lebih mengembangkan aspek intelektual. Sejalan dengan itu, bahwa dahulu sementara orang belajar di pesantren dan akhirnya mendapatkan sebutan kyai dari masyarakatnya, sehingga banyak orang yang di depan namanya dibubuhkan sebutan Kyai Haji (KH). Tetapi ternyata ilmu yang diperoleh dari pesantren dianggap belum cukup dan akhirnya yang bersangkutan menempuh pendidikan di perguruan tinggi, hingga mendapatkan gelar akademik. Maka akhirnya banyak pimpinan pesantren yang memiliki gelar Doktorandus, Master, dan bahkan juga Doktor. Kita melihat sekarang ini, begitu lengkap gelar-gelar itu dibibuhklan di depan nama seseorang. Misalnya Profesor Doktor, Kyai Haji, dan di belakang nama itu masih ada lagi gelar lainnya, seperti MM, M.Pd, MA, M.Sc dan lain-lain. Perubahan itu jika diamati secara saksama terasa menarik, dan itulah sebenarnya sebuah kehidupan. Dalam pentas kehidupan ini tidak ada sesuatu yang tetap, stagnan dan atau berhenti. Kehidupan ini selalu pasang dan surut, maju dan atau mundur, tetapi ada juga yang tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaannya. Selain itu, kiranya perubahan itu tidak saja yang bersifat simbolik, melainkan juga terkait dengan pemahaman keagamaan yang dimiliki dan dialami oleh banyak orang. Sekalipun pada awalnya orang haya mementingkan aspek spiritual, ternyata lama kelamaan berkembang, ingin melengkapi dengan kekayaan lainnya, seperti kedewasaan sosial dan bahkan juga intelektual, agar semuanya menjadi semakin sempurna. Perubahan itu, dalam kehidupan ini memang selalu terjadi, dan dialami oleh siapapun, tidak saja menyangkut institusi, tetapi juga menyangkut aspek-aspek kehidupan lainnya secara keseluruhan. Orang yang mempertahankan apa yang ada, lama kelamaan akan ditinggal oleh zaman, dan akhirnya menjadi orang yang ketinggalan zaman. Dalam kehidupan ini, perubahan adalah sesuatu yang lazim terjadi, apapun tingkat perubahan itu. Maka yang penting, perubahan itu hendaknya mengarah pada tingkat yang lebih sempurna. Ketika sedang merenungkan hal itu, ingatan saya tertuju pada ayat yang sehari-hari saya baca dalam surat al Fatehah. Di sana ada ayat yang berbunyi : ihdinashirathal mustaqiem. Ayat itu artinya, tunjukkan kami kepada jalan yang lurus. Dalam pikiran saya, ——dengan ayat itu, tidak selayaknya menganggap bahwa selama ini kita sudah berada di jalan yang paling benar, apalagi sempurna. Bagi saya, ayat tersebut memberikan isyarat bahwa jalan yang paling benar dan atau lurus itu masih harus dicari dan dituntun, dibimbing dan ditunjukkan oleh Allah swt., sepanjang dalam menjalani kehidupan ini. Dengan demikian, perubahan pada diri seseorang justru dipandang wajar terjadi. Dan itulah sebabnya, umat Islam selalu dianjurkan untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagai dasar terjadinya perubahan, menuju kehidupan yang terbaik. Oleh karena itu, tatkala pondok pesantren mengalami perubahan dan bahkan juga menyempurnakan institusinya dengan mendirikan perguruan tinggi, maka itu adalah sesuatu hal yang tidak sulit dipahami. Dengan demikian, ke depan di pondok pesantren tidak saja dikaji al Qurán dan hadits maupun kitab-kitab kuning, melainkan juga kitab-kitab biologi, fisika, kimia, matematika, astronomi, sosiologi, psikologi, sejarah dan seterusnya. Tokh sebenarnya al Qurán dan hadits juga menganjurkan agar manusia mempelajari ciptaan-Nya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
