Terjadinya bencana alam adalah sesuatu yang biasa. Peristiwa itu bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja. Bencana alam juga bisa menimpa siapapun, tidak pandang bulu. Bencana alam tidak mengenal kasihan dan diskriminatif. Siapapun yang terkena lahar panas, wedus gembel, akan mati. Karena itu, siapa saja yang tahu, bahwa akan terjadi gunung meletus, jangan coba-coba mendekat, sebaliknya harus menjauh, atau mengungsi.
Gunung berapi meletus juga hal biasa. Tsunami juga begitu, bisa terjadi setelah gempa bumi dahsyad. Hujan deras juga wajar apabila kemudian disusul dengan banjir. Jika hujan itu amat deras dan dalam waktu lama, maka banjir itu akan besar. Banjir bandang itu bisa saja menerjang siapapun, rumah siapa saja, harta milik siapapun, semuanya akan hanyut. Begitu pula jika terjadi angin putting beliung, maka pohon-pohon, rumah, atau fasilitas apa saja bisa roboh diterjang angin itu. Semuanya menjadi hancur. Hukum alam berjalan seperti itu. Tidak sulit dipahami. Bencana alam memang selalu sesuai dengan keadaannya. Orang yang berada di dekat gunung berapi, maka beresiko terkena lahar. Orang yang bertempat tinggal di dekat sungai, maka jika hujan deras, akan terkena banjir. Sedangkan mereka yang hidupnya di dekat laut lepas, suatu ketika terkena tsnumai. Semua kejadian itu mudah dipahami. Namun tatkala bencana alam itu terjadi secara terus menerus dan susul menyusul secara bergantian dan bahkan terjadi bersamaan, menampakkan seolah-olah alam ini seperti marah, maka banyak orang bertanya-tanya. Mereka mencari tahu, apakah berbagai bencana tersebut hanya sebatas kejadian alam biasa. Jika memang demikian, kenapa terjadi secara beruntun, terus menerus tidak pernah berhenti. Adakah penjelasan di luar itu semua, misalnya yang bersifat teologis sekalipun ? Umpama yang terjadi hanya banjir bandang Wasior, maka banyak orang bisa segera menyalahkan para menebang hutan yang dilakukan tanpa batas. Namun bencana itu bukan saja banjir di Wasior, melainkan banyak jenisnya dan terjadi di mana-mana. Terjadi gunung meletus, gempa bumi, tsunami, kekeringan, berbagai macam penyakit, dan bahkan akhir-akhir ini bertambah dengan terjadinya banyak konflik, fitnah, permusuhan, pertengkaran di banyak tempat secara terus menerus. Dengan begitu maka wajar jika banyak orang bertanya-tanya. Mereka mengalami kebingungan, otak mereka tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan. Persoalan itu tidak cukup dijawab bahwa, bencana alam itu hanyalah peristiwa alam biasa. Berbagai pertanyaan akan selalu muncul, misalnya mengapa bencana itu terjadi bersamaan secara terus menerus, silih berganti dan tidak ada henti-hentinya. Kejadian yang terus menerus tanpa henti itulah yang menjadi tidak biasa, hingga memerlukan penjelasan. Di tengah-tengah kebingungan dan belum adanya jawaban yang memuaskan itu maka, orang lantas lari kepada penjelasan teologis yang hasilnya kadang tidak mengenakkan. Penjelasan itu misalnya, bahwa dengan bencana itu Tuhan lagi memberi cobaan kepada makhluknya, siapa yang akan tetap teguh mempertahankan kesabarannya. Sebab kesabaran, keikhlasan dan rasa syukur harus diuji kebenarannya. Penjelasan lainnya yang masih bersifat teologolis, bahwa Tuhan menurunkan adzab, karena perilaku manusia sudah keterlaluan, banyak berbuat maksiyat, aniaya, dan tidak adil terjadi di mana-mana. Terkait dengan perbuatan aniaya dan tidak adil, akhir-akhir ini sangat mudah ditemukan datanya. Bencana bisa terjadi karena doa orang-orang yang merasa teraniaya dan diperlakukan secara tidak adil. Keadilan di dunia ini adalah hal yang mutlak harus ditegakkan. Siapapun menghendaki diperlakukan secara adil. Padahal perbuatan aniaya dan tidak adil terjadi sehari-hari di mana-mana dan bahkan seolah-olah justru sengaja diciptakan. Misalnya, ada sedikit orang yang mendapatkan akses, berhasil membuka sumber-sumber ekonomi, namun dalam waktu yang bersamaan itu pula mematikan sekian banyak usaha kecil. Berdirinya mall di mana-mana, pertokoan modern di berbagai tempat telah mematikan sekian banyak pedagang kecil yang sudah lama mereka hidup dari usahanya itu. Masih terkait dengan keadilan, pemerintah dengan dalih untuk melakukan renumerasi di suatu kementerian, menaikkan gaji atau penghasilan mereka jauh lebih tinggi dari kementarian lainnya. Tentu kebijakan itu akan mengusik rasa keadilan dari banyak orang. Belum lagi, managemen proyek yang membuka peluang bagi sementara orang untuk mengambil keuntungan sebesar-beasarnya, sedang sebagian lainnya tidak mendapatkan apa-apa. Maka sebagai akibatnya, terjadi kesenjangan sehingga melahirkan rasa tidak adil di mana-mana. Masih terkait rasa keadilan, banyak orang yang dipersalahkan, diadili dan kemudian dimaksukan ke penjara. Padahal pihak-pihak yang menangkap, mengadili, dan memasukkan ke penjara juga orang-orang yang sama-sama melakukan kesalahan. Hal seperti itu melahirkan suasana batin telah diperlakukan secara tidak adil. Apalagi, kasusnya sudah terjadi sekian lama. Selain itu, perbuatan yang dianggap salah dimaksud, sebenarnya juga dilakukan oleh hampir semua pejabat. Hanya bedanya, sebagian kesalahannya itu dilaporkan atau ketahuan, sementara yang lain tidak. Belum lagi terjadi saling memfitnah antar sesama. Mereka yang diperlakukan tidak adil, ternyata tidak ada pihak-pihak yang mengulurkan tangan untuk membelanya. Perlindungan antar sesama, kolega dan bahkan mereka yang dianggap sebagai atasan, tidak melakukan apa-apa, dan tega menyaksikan anak buahnya menderita, diperlakukan tidak adil. Sementara mereka tahu bahwa kesalahan itu ——jika hal itu dianggap salah, juga dilakukan oleh banyak orang. Hanya karena keberuntungannya, maka kasusnya tidak diangkat di pengadilan. Mereka yang diperlakukan secara tidak adil yang jumlahnya sedemikian banyak itulah, jika mereka berdoa akan mendapatkan respon dari Yang Maha Kuasa. Doa orang-orang yang merasa teraniaya dan diperlakukan secara tidak adil akan dikabulkan oleh Tuhan. Alam atau jagad ini juga tidak mau dihuni oleh orang-orang yang berbuat aniaya dan tidak peduli kepada keadilan. Alam akan marah dan berontak dalam wujudnya berupa bencana alam itu. Pandangan seperti ini, dengan mudah didapatkan dari orang-orang yang suka melakukan kontemplasi dan atau perenungan untuk mendapatkan kearifan. Mungkin penjelasn ini bisa benar atau salah. Tetapi, penjelasn seperti itu, jika direnungkan secara mendalam, akan besar manfaatnya. Yaitu, agar semua orang terlindungi dan diperlakukan secara adil, dijunjung tinggi-tinggi harkat dan martabatnya. Oleh karena itu, apapun penjelasan teologis dari bencana alam yang bertubi-tubi tersebut, sangat penting dijadikan bahan renungan yang saksama. Memang seharusnya dalam memperlakukan orang, —-terhadap siapapun, harus hati-hati. Mereka harus dibedakan antara melakukan kesalahan, kenakalan atau kejahatan. Sebatas perbuaatan salah, semestinya harus dibenarkan. Kenakalan maka pelakunya harus diingatkan dan dinasehati. Akan tetapi, bagi mereka yang melakukan kejahatan, siapapun harus dihukum. Kiranya tidak sulit membedakan di antara ketiga jenis perbuatan itu. Kita mengenal banyak tokoh, mulai dari tingkat menteri, gubernur, bupati, anggota DPR, pejabat Bank, BUMN, dijadikan tersangka dan akhirnya dipenjara. Padahal selama itu kita mengenal di antara mereka sebenarnya adalah orang cerdas, memiliki dedikasi, integritas dan pengabdian kepada negara yang sedemikain tinggi, sehingga rasanya keterlaluan jika akhirnya dianggap sebagai orang yang tega mengkhianati negara dan bangsanya sendiri. Saya selalu berpikir, jangan-jangan mereka masuk kategori menjadi orang-orang yang teraniaya dan diperlakukan secara tidak adil. Kebaikan dan perjuanganya selama ini sirna dan diakhiri dengan penderitaan yang luar biasa. Memberantas kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme memang harus dilakukan, siapapun tidak boleh melawannya. Akan tetapi, menjaga rasa keadilan kepada semua orang, juga tidak boleh diabaikan. Keputusan yang ternyata berdampak menghancurkan harkat dan martabat orang-orang yang hanya melakukan kesalahan dan bukan karena memiliki sifat jahat semestinya dihindari. Sebab berbuat aniaya dan tidak adil terhadap sesama menurut ajaran apapun harus selalu dijauhi, agar alam ini tidak marah dalam bentuknya berupa bencana. Untuk memperkaya bagaimana menyelesaikan persoalan terkait dengan kehidupan manusia, maka meneladani kisah Nabi Kidir dan Nabi Musa kiranya perlu dilakukan. Silahkan membaca kisah itu dalam al- Qurán. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
