Thursday, 23 April 2026
above article banner area

Mencari Kesejukan Hati Di Tempat Berudara Panas

Memang berbeda, antara kesejukan hati dibanding dengan  kesejukan badan atau raga.  Sinar mata hari dan atau  udara panas memang  selalu menjadikan orang gelisah. Tidak semua orang tahan dengan udara atau sinar matahari yang terlalu panas. Akan tetapi, sepanas-panasnya udara atau sinar matahari bisa diatasi. Ruangan  panas bisa didinginkan dengan AC, atau setidak-tidaknya dengan kipas angin. Dengan alat modern itu, maka ruangan menjadi dingin. Kepanasan menjadi reda. Tidak semua orang tahan dengan AC atau kipas angin,  tetapi itulah alat pendingin badan yang bisa digunakan.

  Berbeda dengan itu adalah panasnya hati. Karena banyak  menghadapi berbagai masalah, capek memikirkan sesuatu, selalu dihadapkan oleh problem-problem pekerjaan dan lain-lain, maka hati seseorang bisa menjadi panas.  Namun jangan dikira, bahwa  hati yang panas itu bisa didinginkan dengan AC atau kipas angin. Orang yang lagi  gelisah, sumpek, pikiran dan hatinya capek, maka tidak cukup diobati dengan pergi ke tempat dingin, ke puncak gunung atau tempat-tempat yang berudara dingin.   Panasnya hati ternyata tidak sama dengan panasnya badan. Badan yang panas, karena udara, —–bukan karena sakit, bisa disejukkan dengan mudah. Akan tetapi, panasnya hati tidak bisa diobati dengan cara itu. Obat hati  yang lagi panas berbeda  dari obat badan yang sakit. Atau,  hati yang sakit tidak bisa diobati oleh dokter umum, atau juga dokter spesialis sekalipun. Hati yang sedang panas  sebenarnya ada obatnya tersendiri.   Orang yang haji seperti sekarang ini adalah berada di tempat yang panas. Tempat-tempat kegiatan haji, seperti di kota Makkah, padang Arafah, dan juga Minna adalah daerah panas. Matahari tidak pernah henti-hentinya bersinar tajam.  Tempat-tempat  tersebut  terasa menjadi lebih panas lagi, karena  diliputi  oleh  bebatuan dan juga berupa padang pasir.  Siapa saja yang berada di sana akan merasakan kepanasan. Akan tetapi sebenarnya, rasa panas itu hanya  mengenai  pada badan atau anggota tubuh.   Sebaliknya, sepanas apapun badan mereka, tetapi hati para jamaáh haji selalu dingin. Orang yang sedang menunaikan ibadah haji atau umrah selalu bergembira, merasa dekat dengan Tuhan. Lebih-lebih tatkala mereka itu sedang berada di Arafah, Minna atau thawwaf di sekeliling Ka’bah dan  sa’í.  Sebenarnya kegiatan  itu secara fisik berat. Di tengah-tengah  udara panas, siapapun juga harus berjalan berhimpit-himpitan dengan ribuan orang lainnya. Ketika thawwaf dan juga saí, tidak akan bisa berjalan cepat, karena memang keadaannya sangat padat. Kadang-kadang, orang tidak bisa berjalan, melainkan hanya  bergeser sedikit demi sedikit, selama  memenuhi jumlah putaran thawwaf atau saí itu.   Sekalipun dalam keadaan seperti itu,  hati orang yang sedang berhaji atau umrah tidak pernah merasakan  panas. Padahal  di tempat-tempat itu udara dan sinar matahari terasa sangat panas. Panas matahari menjadi tidak dirasakan,  oleh karena hati mereka merasa dingin. Orang yang  sedang berhaji atau umrah, tidak pernah  gelisah atau  mengeluh karena udara panas.  Jika ada keluhan, maka  hanya karena menyangkut hal-hal teknis, misalnya kendaraan penjemput lagi terlambat atau macet. Atau, keluhan itu muncul  karena tidak bisa  shalat berjamaáh di masjidil haram pada setiap waktu, karena pondokannya agak jauh. Hal-hal seperti itulah maka keluhan terjadi. Tetapi biasanya  tidak sampai memanaskan hati.   Akhirnya, panasnya hati, tidak sebagaimana panasnya badan. Panas badan bisa didinginkan dengan AC, air,  atau kipas angin. Tetapi  hati yang panas ternyata bisa disembuhkan,  justru di tempat yang berudara atau sinar matahari  yang  panas. Orang-orang yang naik haji, sebenarnya berada di daerah panas. Daerah itu merupakan padang pasir, gunung berbatu tanpa tumbuh-tumbuhan, dan apalagi pohon-pohon besar.  Daerah panas itu,  bagi siapapun yang bermaksud beribadah, mendekatkan diri pada Allah, dan berupaya mendapatkan ampunan-Nya, ternyata bisa menyejukkan hati  mereka yang menjalaninya.  Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *