Suhu udara di kota Kazan sedang berada pada minus 25 derajat, sehingga kota itu dari jendela pesawat terbang terlihat tampak putih. Rumah-rumah dan bangunan, termasuk jalan-jalan tidak kelihatan. Semua tampak salju. Turun dari pesawat, baru terlihat bahwa, memang apa saja dibalut oleh salju, termasuk landasan lapangan terbang di kota itu.
Turun dari pesawat, setelah penerbangan dari Moscow selama kurang lebih satu jam, sudah ditunggu oleh Rektor Universitas Islam Rusia dan stafnya. Mereka menyambut rombongan dengan sangat baik. Rektor inilah yang mengirim 3 di antara 10 mahasiswa Rusia untuk belajar di UIN Maliki Malang. Rnombongan langsung diajak ke kampusnya, dan ternyata sudah ada ratusan mahasiswa yang menunggu untuk mendengarkan kuliah umum. Kampus ini termasuk perguruan tinggi Islam terbesar di Rusia. Pada saat ini memiliki sekitar 800 mahasiswa, membuka program S1 dan S2 untuk beberapa bidang studi. Tidak sebagaimana di Indonesia, di Rusia perguruan tinggi Islam diurus dan dikembangkan oleh Yayasan yang diprakarsai oleh para tokoh Islam setempat. Mungkin jika di Indonesia, gambarannya seperti perguruan tinggi Islam swasta. Namun demikian, pemerintah ternyata juga memberikan perhatian, dan bahkan membantu dalam pengembangan fasilitas pendidikannya, misalnya dalam pembangunan gedung. Memang dibanding dengan perguruan tinggi pada umumnya di Rusia, perguruan tinggi Islam belum bisa mengungguli perguruan tinggi umum yang telah lama berdiri. Namun perkembangannya cukup pesat. Dalam kunjungan itu, rombongan diberi kesempatan untuk bertemu dengan ratusan mahasiswa untuk memberi kuliah tamu. Pak Bahrul Hayat, Sekjen Kementerian Agama, memberikan ceramah tentang kehidupan keagamaan, termasuk hubungan negara dan agama di Indonesia. Prof. Nazaruddin Umar, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, memberikan pandangannya tentang kajian al Qur’an dan kedamaian dalam Islam. Saya sendiri, diberi bagian untuk menjelaskan tentang perkembangan pendidikan Islam, termasuk pemikiran baru terkait konsep pendidikan Islam yang saat ini sedang berkembang di Indonesia. Kuliah umum tidak terlalu lama diberikan, karena waktu yang terbatas, dan harus segera mengikuti shalat jum’ah di masjid yang letaknya agak jauh dari kampus. Di Khazan, muslim cukup banyak, terakhir sudah mencapai 55 % dari seluruh penduduk yang berjumlah sekitar 3 juta. Jumlah masjid di Tatarskan juga cukup banyak. Menurut informasi tidak kurang dari 1000 buah. Di kota Kazan terdapat masjid yang cukup besar dan indah, dan di masjid itu pula rombongan diajak shalat jum’ah. Muslim di Rusia secara keseluruhan baru 23 % dari penduduk Rusia yang berjumlah sekitar 140 juta jiwa. Yang agaknya berbeda dari Indoneasia, mereka selalu membicarakan soal madzhab. Disebutkan bahwa muslim Kazan, umumnya mengikuti madzah Hambali. Saya juga ditanya oleh wartawan di Kazan tentang itu, maka saya sampaikan bahwa di Indonesia persoalan madhab tidak banyak diperbincangkan. Bahkan jarang sekali orang memperhatikan tentang madzhab yang dianut oleh seseorang. Saya mengatakan bahwa, di Indonesia yang ada adalah berbedaan organisasi keagamaan, yaitu misalnya ada NU, Muhammadiyah, al Wasliyah, Tarbiyah Islamiyah, dan lain-lain. Perbedaan itu hanya sebatas pada wilayah organisasional. Masing-masing organisasi bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan sosial. Jika terdapat perbedaan dalam hal ritual, maka tidak menjadikan sebab perpecahan. Dengan tidak begitu peduli pada madzhab, maka ummat Islam tampak bisa bersatu. Kepada wartawan tersebut, saya juga mengatakan bahwa agar ummat Islam bersatu, maka perhatian terhadap perbedaan madzhab perlu dikurangi dan syukur kalau dihilangkan saja. Saya menjelaskan kepada wartawan dan juga dalam ceramah di Universitas Islam Rusia, bahwa Islam membawa lima misi besar, yaitu ; (1) menjadikan ummatnya kaya ilmu pengetahuan, (2) membangun manusia unggul, (3) menawarkan kosep kehidupan yang setara dan berkeadilan, (4) memberikan tuntunan dalam menjalankan ritual, dan (5) menawarkan konsep tentang amal shaleh. Selanjutnya, jika Islam dipandang seperti itu, artinya bukan sebatas aspek ritual atau fiqhnya, maka ummat Islam akan maju dan bahkan akan berhasil meraih keunggulan dibanding dengan ummat lainnya. Saya juga menambahkan bahwa perbedaan madzhab selama ini di mana-mana melahirkan perpecahan dan tidak banyak membawa kemajuan atau rakhmat. Perbedaan itu baru membawa rahmat jika dibawa ke ranah ilmu. Temuan-temuan ilmiah saja yang akan membawa rakhmat. Karena denganb perbedaan, maka ilmu pengetahuan menjadi semakin berkembang. Namun, jika perbedaan itu masih berada di wilayah ritual dan fiqh, maka ummat tidak akan mengalami kemajuan. Saya juga tidak tahu, apakah pandangan tersebut masuk pada alam pikiran mereka. Tetapi setidaknya, saya telah menawarkan wilayah lain yang perlu diberdebatkan dalam Islam, yaitu dalam wilayah ilmu dan bukan hanya persoalan ritual dan madzhab fiqh yang ternyata telah melahirkan perpecahan di antara ummat di mana-mana. Wallahu a’lam. Moscow, 4 Nopember 2010
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
