Tuesday, 21 April 2026
above article banner area

Memperkenalkan UIN Maliki Malang Di Rusia

Dalam kesempatan apa saja, saya selalu berusaha memperkenalkan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Demikian pula dalam kunjungan saya ke Rusia dalam rangka menghadiri konferensi pendidikan teologi di Moscow. Konferensi itu diselenggarakan oleh Universitas Islam Moscow, saya diuandang untuk menyampaikan pandangan saya tentang pendidikan Islam.

  Kesempatan tersebut juga  saya gunakan sebaik-baiknya. Saya perkenalkan tentang perguruan tinggi Islam di Indonesia dan posisi UIN Maliki Malang di tengah-tengah perkembangan berbagai perguruan tinggi Islam dan perguruan tinggi pada umumnya di Indonesia. Saya perkenalkan bahwa dilihat dari usianya dari sejak masih berstatus sebagai fakultas tarbiyah, cabang dati IAIN Sunan Ampel Surabaya, berdiri sejak awal tahun 1960 an. Namun jika  dihitung dari perubahan menjadi universitas, yaitu pada tahun 2004, maka di antara 6 universitas Islam negeri yang ada di Indonesia, UIN Maliki Malang baru berusia  enam tahun-an.   Salah satu  di antaranya  yang selalu saya perkenalkan di mana-mana adalah tentang bangunan keilmuan yang dikembangkan oleh UIN Malang. Selalu saja,  tatkala melihat perguruan tinggi Islam, saya merasakan bahwa  terjadi reduksi pemaknaan  terhadap Islam. Islam selalu dipahami hanya dari aspek terbatas. Islam yang saya pahami sebagai ajaran yang luas dan konprehensif, selama ini belum  tergambar dalam kelembagaan pendidikan Islam.   Reduksionalisasi pendidikan Islam, menurut hemat saya berdampak sangat luas.  Banyak orang menganggap bahwa Islam hanya merupakan  bagian dari wilayah kehidupan yang  terbatas, dan bahkan terpisah dari kehidupan lainnya yang luas. Berbicara Islam hanya meliputi kehidupan ritual, fiqh dan akhlak, hingga tatkala berbicara Islam hanya menyangkut tentang tempat ibadah, upacara kelahiran, pernikahan, khitanan, upacara pernikahan, dan waris. Jika persoalan kehidupan dilihat dari Islam, maka umumnya hanya dipandang dari perspektif fiqh dan akhlak.   Cara pandang Islam yang terbatas itu ternyata juga berdampak pada perilaku sebagian umatnya. Seolah-olah kehidupan ritual terpisah dari kehidupan secara keseluruhan. Kegiatan  ritual sebagai implementasi kehidupan keagamaan dipisahkan dari kehidupan lain, seperti dalam kehidupan sosial, ekonomi atau lainnya. Perilaku ke-Islamannya tidak terlalu tampak dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam berinteraksi dengan sesama, bersikap dan  dan bahkan juga dalam memanage kehidupan sehari-hari. Sehingga, seolah-olah Islam hanya tampak di masjid, dan atau di tempat ibadah lainnya.   Akibat lainnya yang tampak jelas, berbagai institusi yang berlabelkan Islam belum menunjukkan wajah kebesaran, kesucian dan kesempurnaan Islam. Banyak lembaga Islam, seperti  pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik dan lainnya belum menunjukkan kharakteristik ke-Islamannya yang membanggakan. Bahkan kebanyakan masih menunjukkan sebaliknya. Menyebut sebagai lembaga pendidikan Islam,  sebagian banyak  keadaannya masih sangat memprihatinkan. Demikian pula rumah sakit, lembaga ekonomi dan bahkan juga politik, semuanya belum menunjukkan wajah keungulannya sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.      Berangkat dari hasil pengamatan itu, saya selalu menjelaskan bahwa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, mengemban misi, yaitu  memperkenalkan kepada siapapun dan di mana saja, tentang Islam yang dipandang lebih luas itu. Terkait dengan itu, saya selalu memperkenalkan bahwa cara pandang dikotomik, antara ilmu umum dan ilmu agama  seharusnya segera  ditinggalkan. Berdasar pandangan itu maka, al Qur’an dan hadits nabi bukan saja menjadi wilayah kajian Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Syari’ah——-yang dikenal sebagai fakultas agama, melainkan juga menjadi bahan kajian fakultas lainnya, seperti psikologi, ekonomi, humaniora dan budaya dan juga fakultas sains.   Konsep ini juga saya sampaikan baik di forum konferensi pendidikan teologi, maupun dalam ceramah di hadapan sivitas akademika Universitas Islam Rusia di Kazan, Tatarzkan. Dalam  berbagai kesempatan menyampaikan pandangan tersebut, selama ini saya tidak pernah mendapatkan sanggahan sekecil apapun. Apa yang saya sampaikan selalu mendapatkan respon positif, hingga di perguruan tinggi yang sangat menjunjung rasionalitas seperti di perguruan tinggi Islam di Rusia. Namun hingga kini, saya belum mendapatkan jawaban, mengapa kebanyakan perguruan tinggi Islam belum berhasil keluar dari kungkungan pemikiran sebelumnya.   Saya juga melihat hal yang saya rasakan aneh, bahwa di Universitas Islam di Rusia, dibuka jurusan Imam Masjid. Para lulusannya dipersiapkan untuk menjadi imam shalat lima waktu. Seolah-olah peran sebagai imam diperlukan kecakapan khusus yang harus dipelajari melalui  perguruan tinggi. Padahal sebenarnya, tanpa lulusan perguruan tinggi yang membekali kecakapan sebagai imam pun, shalat berjama’ah tetap harus dijalankan. Menjalankan tugas sebagai imam masjid,  semestinya harus dilihat sebagaimana seseorang makan. Siapapun harus bisa makan. Kalau pun ada teknik-teknik, atau bagaimana cara makan yang baik, kiranya tidak perlu dibuka program studi khusus yang mengkaji tentang makan  secara  profesional.     Cara pandang terhadap Islam seperti dikemukakan itu, mungkin  disebabkan oleh karena dalam melihat Islam hanya sebatas dari aspek ritual,  fiqh dan akhlak. Sebaiknya,  Islam belum dilihat secara luas dan utuh menyangkut kehidupan secara keseluruhan. Oleh karena itulah maka, dalam berbagai kesempatan, saya selalu memperkenalkan pandangan tentang Islam yang  sedang dikembangkan  oleh  UIN Maliki Malang di mana dan  kapan saja, tidak terkecuali  di  beberapa peguruan tinggi Islam di Rusia yang baru saja saya kunjungi. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *